Wika Targetkan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Beroperasi 2021

Wika Targetkan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Beroperasi 2021
Presiden Joko Widodo menyaksikan maket kereta api cepat Jakarta-Banduung, Kamis 21 Januari 2016. ( Foto: SP/Adi Marsiela )
L Gora Kunjana / HA Kamis, 8 Agustus 2019 | 18:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menargetkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung beroperasi pada pertengahan 2021.

Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Tumiyana mengatakan perseroan menargetkan pekerjaan megaproyek tersebut mampu mencapai sekitar 49-51% hingga akhir tahun ini, dan berjalan sesuai rencana beroperasi pertengahan 2021.

“Sampai akhir tahun ini, anggaran yang terserap akan sekitar Rp 40 triliun, dari total anggaran kereta cepat yang sebesar Rp 80 triliun. Sesuai rencana, jalur kereta cepat ini akan memiliki 13 terowongan, satu di antaranya telah selesai dibangun,” ucap dia.

Perseroan, lanjut Tumiyan, juga akan membangun kota mandiri dengan konsep transit oriented development (TOD) di sekitar kawasan yang dilewati jalur kereta api cepat, seperti Walini dan Tegalluar. Potensi pendapatan dari proyek kota mandiri ini diproyeksikan menyentuh Rp 268 triliun dalam periode 50 tahun.

Tumiyana menjelaskan, kereta api cepat Jakarta-Bandung diharapkan beroperasi mulai 2021, dengan proyeksi pada kuartal II-2021 telah dilakukan uji coba operasi selama empat bulan terlebih dahulu, untuk kemudian beroperasi penuh setelah itu. Untuk perkembangan pembebasan tanah proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung, sudah mencapai 97,3%.

Jadi, masih ada sekitar 2,7% dari total kebutuhan lahan yang belum dibebaskan. “Lahan tersebut merupakan fasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum), sehingga harus ada lokasi pengganti. Fasos-fasum itu tidak harus dikerjakan di depan. Untuk trek utama sudah bebas (lahan), semua sudah bergerak,” paparnya.

Sebanyak 60% saham PT KCIC -- konsorsium pembangun proyek kereta cepat Jakarta-Bandung -- dipegang oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, yang dipimpin oleh WIKA. Sisanya, 40% saham, dimiliki oleh konsorsium perusahaan Tiongkok.

Berikut cukilan penjelasan Dirut PT Wijaya Karya Tumiyana dalam wawancaranya dengan Beritasatu News Channel, tayang Kamis (8/8/2019) siang:

Bagaimana progress proyek kereta cepat Jakarta-Bandung?
Kita akan mendesain beberapa titik kawasan besar dengan land bank yang dimiliki teman-teman dalam hal ini ada RNI dan PTP VIII. Itu luas areanya ada 21.000 hektare. Luas 21.000 hektare itu kalau saya forecast revenue besarannya kira-kira Rp 3.200 trillun.

Kita akan desain sama-sama supaya kawasannya tidak saling melemahkan. Di kereta cepat sendiri kita punya tiga TOD besar. Di mana perbatasan Bandung luasnya 300 hektare terus ada di Walini 1.270 bahkan kita akan extend lebih besar lagi, terus di Karawang ada 250. Tiga titik besar itu, kita mendesain forecast-nya kira-kira Rp 228 triliun.

Di kawasan lain kita nggak boleh keliru kita mendesain dan saling melemahkan. Kita di Subang ada 5.000 hektare, di perbatasan antara bandara Kertajati ada 11.000. Di titik lain ada 2.800 dan 3.000 itu kita desain dalam satu konektivitas yang ada tapi konsepnya harus berbeda sehingga kawasan-kawasan ini saling men-support.

Harus kita bawa world wide company untuk bisa masuk ke kawasan itu. Dan semua private sector juga harus kita libatkan di dalam proses development ini.

Berapa lama proses pembangunannya?
Saya kasih gambaran bahwa sekarang beberapa kawasan yang ada di seputaran Jakarta rata-rata 1.500-3.000. Kita bisa bayangin angka 21.000 plus yang di kereta cepat ini ada sekitar 2.000 itu perlu waktu memang. Tapi bukan berarti lama. Pada saat berjalan, Kertajati jalan, kereta cepat connect, itu pertumbuhan akan jauh lebih besar. Durasinya berapa nggak akan lebih dari angka 40 tahun.

Apakah WIKA juga menyasar rencana proyek pembangunan ibu kota baru?
Harus. Ada equilibrium baru di dalam industri konstruksi. Kalau saya compare dengan industri dunia misalnya dengan industri di Korea. Mereka pada saat dewasa saat melakukan bisnis jasa dia akan menaikkan bisnis prosesnya, ke upstream. Setelah upstream kuat di jasa tengahnya kuat, di downstream-nya dia punya support di situ akan ada kekuatan.

Wijaya Karya dalam hal ini menyiapkan diri karena ada ekuilibrium baru. Kalau spending mulai menurun korporasi harus kuat untuk bisa menangkap sebuah peluang baru sehingga pada durasi lima tahun sekarang ini. Itu dari ekuitas besaran yang 12 triliun kita dorong sampai dangan 65 triliun. 65 trilliun itu artinya punya kekuatan delivery tiga kali. Artinya Wijaya Karya punya kemampuan untuk ber-investment besarnya 180 triliun. Dengan 180 triliun berarti kita men-develop sumber daya untuk bisa menangkap program negara ini mau ke mana.

Infrastruktur baru dibangun, berarti KPBU (kerja sama pemerintah dan badan usaha) jalan. Kalau KPBU jalan tapi balancing kita nggak kuat kita nggak bisa menangani.

Pertumbuhan utang, pertumbuhan kekuatan selalu saya ukur dengan indikator keuangan kita. Jadi kalau saya ber-investment kemampuan saya di Rp 180 triliun, itu artinya menangkap sebuah peluang baru. Siapa pun mengajak KPBU, siapa pun Anda, unsolicited (suka rela), mau melakukan apapun... itu artinya kesiapan korporasi untuk meng-capture sebuah peluang dan mengeksekusinya.

Jadi Wijaya Karya melihat bahwa bisnis konstruksi masih memiliki prospek di Tanah Air?
Saya poin kasih gambaran. Bicara masalah kawasan perumahan itu backlog di atas 2,4 juta dan mengalami defisit selama satu tahun. Itu salah satu kesempatan besar yang bisa digarap oleh kita. Satu, belum sektor lain, Pak Jokowi telah mencanangkan bahwa konektivitas harus terus didorong.

Semua opportunity baru yang kita garap tidak hanya memikirkan bagaimana spending kita, tapi corporate action dan investasi harus kita lakukan dengan cara apa? Balancing kita harus kuat. Kalau kuat, apa yang diprogramkan baik negara maupun korporasi kita bisa lakukan. Masih ada nggak ke depan? Kalau kita ngomong surrounding di region, ekonomi ini di-direct oleh kawasan ini di-direct Indonesia mencapai 52 %, jadi kalau opportunity ada banyak banget.

Simak lebih jauh paparan Tumiyana di program Corporate Action Beritasatu dalam video berikut:



Sumber: BeritaSatu TV