Tingkatkan Investasi Migas, Pemerintah Harus Benahi Regulasi

Tingkatkan Investasi Migas, Pemerintah Harus Benahi Regulasi
Direktur Indonesia Petroleum Association (IPA) yang juga Presdir PT Pertamina EP Nanang Abdul Manaf ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Kamis, 8 Agustus 2019 | 20:12 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Guna meningkatkan minat para investor minyak dan gas bumi (migas) global untuk melakukan eksplorasi di Tanah Air, Direktur Indonesia Petroleum Association (IPA), Nanang Abdul Manaf mengingatkan pentingnya membenahi regulasi yang selama ini dianggap masih menyulitkan. Seringkali aturan yang ada di pusat menjadi berbeda ketika diterapkan di daerah, sehingga menimbulkan kebingungan para investor. Kondisi ini menurut Nanang bisa mengalihkan minat para investor ke negara lain yang lebih memiliki fleksibilitas dalam aturan.

“Saya kira saat ini (regulasi) sudah cukup baik. Tapi kan kita berkompetisi juga dengan negara lain yang sama-sama menginginkan investor datang untuk melakukan kegiatan eksplorasi dengan capital yang besar. Jadi kita harus lebih baik dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, atau Myanmar. Sebab seringkali kita juga berhadapan dengan aturan yang mungkin kita perlunya simple, tetapi tetap mengatur bisnis kita, namun kadang di daerah (aturannya) lain lagi. Ini yang membuat investor jadi kebingungan. Mengapa tidak dibuat satu peraturan saja, tetapi mengatur mulai dari pusat sampai ke daerah,” ujar Nanang Abdul Manaf, di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Ketika di negara lain secara geologis lebih atraktif dan menjanjikan dengan aturan yang lebih simpel, besar kemungkinan para investor tersebut akan memilih negara tersebut dan meninggalkan Indonesia.

“Investor itu tidak punya loyalitas. Ketika pilihannya secara geologis dan technical lebih atraktif, secara fiskal menjanjikan, itulah yang diambil. Untuk itu, kita harus berkompetisi kalau ingin mendapatkan atau mengundang investor berdatangan. Istilahnya selalu meng-improve dari sisi aturan, dari sisi simplifikasi dan sebagainya,” ujar Nanang yang juga Presiden Direktur PT Pertamina EP ini.

Hal lainnya yang diinginkan investor adalah masalah kepastian. Sebab investasi di sektor migas membutuhkan modal yang sangat besar. "Yang namanya kontrak, kalau sudah masuk produksi itu mulai dari eksplorasi dan produksi kan 30 tahun. Investor selama 30 tahun ingin mendapatkan kepastian. Sebab yang sudah diinvestasikan luar biasa besar, tentunya perhitungan-perhitungan tersebut dalam jangka waktu itu sudah bisa kembali dan bahkan bisa mendapatkan profit dan sebagainya,” ujarnya

Nanang juga menyingung soal migas yang masih memiliki peran penting dalam bauran energi nasional di tahun 2025 yang mencapai 47%. Di sisi lain, pemerintah sudah mencanangkan program untuk pengurangan impor, di mana pada tahun 2025 Indonesia akan berhenti melakukan impor migas, sehingga produksinya harus ditingkatkan.

“Untuk meningkatkan produksi migas, tidak ada hal lain selain melakukan eksplorasi dan Enhanced Oil Recovery (EOR). Sebab migas sudah ada di situ, tinggal bagaimana meningkatkan recovery factor,” ujar Nanang.



Sumber: BeritaSatu.com