Rizal: Bonus Demografi Hanya Mimpi Kosong

Rizal: Bonus Demografi Hanya Mimpi Kosong
Rizal Ramli ( Foto: Beritasatu )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 9 Agustus 2019 | 08:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom senior Rizal Ramli menilai bahwa jargon bonus demografi yang kencang digaungkan hanyalah mimpi kosong karena faktanya mayoritas penduduk usia kerja di Indonesia masih menganggur.

Dalam program Hot Economy Beritasatu News Channel, tayang Kamis (8/8/2019) malam, Rizal juga menuduh bahwa tingkat employment di Indonesia telah dimanipulasi, karena satu jam bekerja dalam sehari dianggap bukan penganggur.

"Di balik perkiraan (bonus demografi) itu ada asumsi mereka pada kerja. Kenyataannya mayoritas tidak kerja," kata mantan menteri koordinator bidang maritim itu.

Dia mengkritik definisi "bekerja" di Indonesia yang menurutnya paling rendah di dunia, karena pekerjaan satu jam per hari sudah masuk definisi tersebut.

"Padahal kita tahu satu jam nggak cukup. Yang normal itu 30-35 jam per minggu bekerja. Kalau yamg bekerja 30-35 itu per minggu barulah kita memetik manfaat dari bonus demografi," ulasnya.

Menurutnya, lapangan kerja yang tercipta hanya 1,25 juta sementara angkatan kerja yang masuk lebih dari 2 juta per tahun, sehingga angka pengangguran di Indonesia terus meningkat.

"Dan mereka kerjanya cuma satu jam satu hari. Mau bonus demografi kayak apa? Ini malah bisa jadi malapetaka sosial dan jadi masalah sosial ekonomi," ujarnya.

Masalah lainnya, kebanyakan penduduk yang bekerja adalah lulusan SD dan SMP, sementara untuk kelompok lulusan perguruan tinggi persentase pengangguran justru lebih besar.

"Ada dua kemungkinan, satu, pendidikannya sendiri tidak fit and match dengan dunia kerja, dua, bahan pelajarannya itu sendiri barangkali perlu ada reformasi supaya lebih kreatif, lebih inovatif, tidak hanya menghapal," kata Rizal.

"Tapi sebelum kita ngomong aneh-aneh, kalau tumbuhnya (ekonomi) 5% per tahun jangan ngimpi dah, ada bonus demografi."

Rizal menambahkan Tiongkok bisa mendapat manfaat bonus demografi karena ekonominya tumbuh 12-14% selama 25 tahun, meskipun belakangan anjlok ke 6%. Demikian juga dengan Jepang, setelah Perang Dunia II ekonominya tumbuh 12% selama 20 tahun.

"Jadi kalau levelnya masih ngomong ekonomi 5%, ngomong Industry 4.0 itu pada ngimpi doang. Naikkan dulu pertumbuhan ekonomi minimal 7-8% sampai 10%, baru kita bisa menarik manfaat dari bonus demografi," ujarnya.

"Jadi ini mimpi-mimpi kosong yang dibahas di ruang publik yang sama sekali nggak cerdas. Kita hanya bisa menarik manfaat demografi kalau rakyat kita bekerja, dan rakyat bekerja itu hanya kalau ekonomi tumbuh di atas 8%."

Simak pernyataan Rizal selengkapnya dalam video berikut:



Sumber: BeritaSatu TV