Batu Bara Harus Diprioritaskan untuk Kebutuhan Dalam Negeri

Batu Bara Harus Diprioritaskan untuk Kebutuhan Dalam Negeri
Tamban batu bara PT KPC di Kutai Timur. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Rangga Prakoso / MPA Senin, 12 Agustus 2019 | 18:37 WIB


Jakata, Beritasatu.com - Batu bara harus diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Kuota ekspor pun harus ditekan seiring dengan keterbatasan cadangan serta sifat batu bara sebagai energi yang tidak dapat diperbaharui. Namun kondisi saat ini Indonesia tercatat sebagai pengekspor batu bara terbesar di dunia dengan volume rata-rata 300 juta ton per tahun. Volume itu melampaui Australia maupun Rusia.

“Saya tidak bangga Indonesia menjadi eksportir batu bara terbesar dunia. Bahkan sampai sekarang masih nomor satu di dunia. Karena komoditas batu bara ini merupakan energi yang tidak bisa diperbaharui,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi dalam diskusi “Pemanfaatan Batu Bara Sebagai Sumber Stategis Nasional” di Jakarta, Senin (12/8).

Viva menuturkan 85% produksi batu bara nasional selama ini diekspor. Dia berharap pemerintah menekan kuota ekspor batu bara itu di tahun-tahun mendatang. Menurutnya cadangan batu bara yang ada lebih baik untuk kebutuhan pembangkit listrik dan industri di dalam negeri. “Karena batu bara ini merupakan energi yang tidak bisa diperbaharui, maka tidak usah ekspor. Untuk pemenuhan energi domestik saja,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Center For Indonesia Resources Strategic Studies (Ciruss) Budi Santoso menyebut batu bara merupakan sumber energi paling murah. Batu bara mampu menekan defisit neraca perdagangan lantaran sebagai subtitusi dari LPG. Hilirisasi batu bara menjawab kebutuhan energi nasional.

“Satu-satunya cara untuk mengurangi devisa, memang impor minyak tidak bisa tergantikan untuk transportasi. Itu engga bisa ditekan. Tapi yang lainnya seperti rumah tangga, industri, komersil itu kan bisa diganti batu bara pake kriket,” ujarnya.



Sumber: Investor Daily