Terlempar dari 5 Besar, Advan Benahi Strategi Komunikasi

Terlempar dari 5 Besar, Advan Benahi Strategi Komunikasi
Peluncuran Advan G2 Pro, di Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019. ( Foto: Beritasatu.com / Herman )
Herman / FMB Kamis, 15 Agustus 2019 | 16:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Upaya Advan menjadi salah satu pemain penting di pasar smartphone menemui tantangan berat. Pada kuartal kedua 2019, tidak ada lagi nama Advan dalam daftar “top five smartphone vendors in Q2 2019” yang dirilis lembaga riset Canalys. Padahal di tahun-tahun sebelumnya, Advan selalu masuk di lima besar. Posisinya kini digeser pendatang baru realme (7 persen). Sementara nomor satu hingga empat berturut-turut yaitu Oppo (26 persen), Samsung (24 persen), Xiaomi (19 persen), dan Vivo (15 persen).

GM Marketing Advan, M. Aria Wahyudi menyampaikan, lengsernya Advan dari posisi lima besar sebetulnya merupakan hal yang wajar dalam sebuah bisnis. Apalagi para pesainnya punya dukungan modal yang sangat besar untuk bisa menjadi pemain utama di pasar smartphone Indonesia.

“Ini kondisi yang normal dalam sebuah bisnis, pasti ada naik turunnya. Tetapi tentunya ini jadi bahan evaluasi bagi Advan. Kami sadar, yang dihadapi bukan perusahaan main-main. Mereka mungkin sudah menggelontorkan uang ratusan miliar untuk bisa mencapai posisi seperti sekarang. Tetapi kami yakin betul, dengan rencana yang sudah disusun matang, kami akan coba mengambil posisi itu kembali, meskipun memang tidak mudah,” kata Aria Wahyudi, di acara peluncuran Advan G2 Pro, di Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Sadar kalau modal yang dimiliki para vendor smartphone asal Tiongkok sangat besar, Advan mencoba berkompetisi dengan cara lain, salah satunya dengan lebih intens mengkomunikasikan berbagai keunggulan Advan kepada konsumen. Hal tersebut sejauh ini diakui Aria belum berjalan maksimal.

“Untuk melawan perusahan yang modalnya besar, kita harus smart. Mesti hati-hati dan pintar melihat pasar ketika ingin meluncurkan sebuah produk, serta lebih efektif berkomunikasi. Advan punya produk yang bagus-bagus, tetapi sejauh ini belum terkomunikasikan dengan baik, misalnya dari sisi spesifikasi dan harga yang terjangkau. Jadi ke depan kami akan melakukan strategi komunikasi yang lebih intim ke konsumen agar dapat respon yang lebih positif,” kata Aria.

Dari data internal perusahaan, Aria mengatakan penjualan Advan sebetulnya tetap memperlihatkan tren naik. Hanya saja memang beberapa vendor smartphone Tiongkok mengalami kenaikan yang lebih signifikan.

“Secara market, kita itu tetap tumbuh kok. Tetapi memang tidak sesignifikan mereka. Market share Advan juga masih sekitar 5 persenan. Tentu kita akan berupaya terus untuk bisa kembali masuk lima besar dengan strategi yang sudah kita siapkan,” ujar Aria.



Sumber: BeritaSatu.com