Perang Dagang dalam Perspektif Rhenald Kasali

Perang Dagang dalam Perspektif Rhenald Kasali
Rhenald Kasali berbicara di acara Virtus Showcase 2019 di Hotel Mulia, Jakarta, 15 Agustus 2019. ( Foto: Beritasatu / Heru Andriyanto )
Heru Andriyanto / HA Kamis, 15 Agustus 2019 | 17:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Guru besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengatakan heboh perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang terjadi sekarang sebetulnya merupakan fenomena lumrah di tengah persaingan global yang makin terbuka dan ketat.

Berbicara di acara Virtus Showcase 2019 di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (15/8/2019), Rhenald mengingatkan di setiap aspek bisnis yang berskala global, indikasi perang dagang itu selalu ditemukan, betapa pun kecilnya.

Dia mencontohkan ketiika menjabat Komisaris Utama Angkasa Pura II, menjelang dioperasikannya Terminal 3, kebocoran air yang ada di sana menjadi berita besar.

"Kejadiannya cuma tiga menit, tetapi beritanya berbulan-bulan. Ada kejadian kecil saja sudah diberitakan," ujarnya.

Saat dilakukan penyelidikan internal, ditemukan ada 18 kabel CCTV yang dipotong sebelum kejadian.

"Kita bisa baca pattern (pola)-nya, ternyata (beritanya) selalu dibandingkan dengan airport tetangga. Ternyata itu dimainkan negara tetangga karena mereka tidak happy dengan Terminal 3," kata Rhenald.

Peran Trump
Perang dagang diibaratkan sebagai kumpulan angsa yang sedang terbang. Angsa yang di belakang memulai perang agar dia bisa bergantian di depan.

"Pada 1990an, Jepang berada di puncaknya, dengan bonus demografi dan kemajuan yang diraih. Begitu itu terjadi, Hollywood bikin film-film yang menunjukkan Jepang adalah penjahat," ulas Rhenald.

Terkait perang dagang AS-Tiongkok, Rhenald lebih melihatnya sebagai ulah Presiden Donald Trump.

"Jangan lupa bahwa dia juga seorang pengusaha," kata Rhenald.

Dalam presentasinya tersebut diputar video dokumenter di mana pada 1990an, Trump muda saat itu juga menyerukan perang dagang melawan Jepang. Pada 2000, Trump mulai berkampanye membidik jabatan presiden.

Lalu pada 2011, lanjut Rhenald, Trump menulis di akun media sosial "China is neither an ally or a friend, they want to beat us and own our country." (Tiongkok bukan sekutu atau teman kita. Mereka ingin mengalahkan kita dan menguasai negara kita.)

Pada 2016, pada puncak kampanye pemilihan presiden, Trump menulis "China robbed us".

Ketika menjabat presiden pada 2017, Trump menyambut kedatangan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan bicara yang manis-manis tentang kerja sama ekonomi dua negara.

"Setelah itu dia menerapkan tarif 25% atas produk baja China," kata Rhenald.

Mobilisasi dan Okestrasi
Apa pun bentuk interaksi perekonomian global saat ini, Rhenald mengatakan pemenangnya adalah entitas bisnis yang mampu menjalankan konsep mobilisasi dan orkestrasi, mengutip bukunya yang dirilis pekan lalu berjudul #MO.

Untuk menyudutkan pesaing, bisa dilakukan dengan mobilisasi publik misalnya membuat tagar #UninstallSariRoti atau #UninstallBukaLapak, ujarnya.

Gerakan mobilisasi dan orkestrasi ini juga terjadi dalam perang dagang skala terbatas antara Indonesia dengan Uni Eropa terkait minyak sawit.

"Lebih dari 60% produk konsumsi di Amerika menggunakan minyak sawit, di Eropa juga begitu. Dibawa ke WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) kita menang karena kita tidak melakukan dumping. Lalu dibawa ke FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB), lalu diisukan masalah kesehatan, dengan campaign "palm oil-free product"," kata Rhenald.

Upaya memobilisasi perlawanan terhadap produk minyak sawit Indonesia dilanjutkan dengan isu lingkungan, lewat film dokumenter menghebohkan tentang orangutan yang menjadi korban deforestasi, kata Rhenald.

Pendek kata, di era transformasi digital sekarang ini, MO membawa perubahan sangat besar pada bagaimana orang berbisnis dan bagaimana negara saling berinteraksi.

Perusahaan yang memiliki aplikasi dengan pengikut ratusan juta atau super app akan lebih unggul dari perusahaan yang berbisnis secara konvensional, lanjut Rhenald.

"GoJek itu tidak punya mobil, tapi valuasinya lebih tinggi dari Garuda," kata Rhenald.

Kemampuan memobilisasi pelanggan oleh pemilik super app benar-benar menentukan keunggulan mereka atas pelaku bisnis konvensional.

Rhenald mencontohkan bagaimana aplikasi belanja online Tiongkok Alibaba meraup miliaran dolar dalam beberapa menit saja. Perusahaan milik Jack Ma itu membuat kampanye belanja bagi kaum lajang dengan tanda pagar #1111 pada 11 November lalu.

"Dalam 1 menit 25 detik, nilai belanja sudah menembus US$ 1 miliar," kata Rhenald.

Selain itu, para pemilik perusahaan harus menyadari konsep baru "the main is no longer the main", sumber pendapatan utama sangat mungkin tidak lagi menjadi lumbung.

Contohnya, tidak ada lagi koran yang hidup dari oplah, kata Rhenald. Perusahaan telekomunikasi juga tidak bisa mengandalkan pendapatan dari pulsa telepon, karena orang bisa berkomunikasi suara melalui WhatsApp dengan berbasis data internet.

Maka sekarang ini ada dua kelompok yang berhadapan. Pertama adalah tipe manusia old power yang dulu sukses mengandalkan kekuasaan dan cara-cara lama, namun sekarang mulai digerus oleh penguasaan teknologi dan data.

Kedua, generasi #MO yaitu anak-anak muda yang berbasis teknologi dan penguasaan data yang mampu memobilisasi dan mengorkestrasi massa. Kelompok ini bersandar pada enam pilar: artificial intelligence, big data, super apps, broadband network, internet of things, dan cloud computing, pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com