Sunindo Adipersada Jadi Pilot Project Industri 4.0

Sunindo Adipersada Jadi Pilot Project Industri 4.0
Kementerian Perindustrian (Kemperin) akan memberikan program pendampingan kepada PT Sunindo Adipersada. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Ridho Syukro / FER Kamis, 15 Agustus 2019 | 22:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemperin) akan memberikan program pendampingan kepada PT Sunindo Adipersada. Pendampingan yang dilakukan adalah terkait implementasi industri 4.0 pada industri mainan.

CEO PT Sunindo Adipersada, Iwan Tjen, mengatakan, Kemperin telah meninjau langsung pabrik mainan Sunindo yang berlokasi di Cileungsi, dan memberikan masukan. Jika ada kekurangan, maka akan diberikan proses pendampingan menuju industri 4.0. Sunindo terpilih karena dinilai telah menjadi perusahaan mainan yang besar dan sudah melakukan ekspor ke beberapa negara, sehingga bisa menambah daya saing Indonesia.

"Hari ini kami kedatangan tim Kemperin, melihat dan berdiskusi dengan kami terkait program pendampingan untuk implementasi industri 4.0. Kita tahu, perkembangan teknologi semakin pesat dalam industri. Namun, kami melihat khusus untuk industri boneka, perkembangan teknologinya tidak sepesat industri garmen. Banyak inovasi teknologi garmen yang tercipta seiring dengan perkembangan fashion masyarakat," kata Iwan Tjen dalam keterangan resminya, Kamis (15/8/2019).

Iwan Tjen mengatakan, industri boneka dalam hal inovasinya berkembang pesat, tapi tidak didukung dengan inovasi teknologi, sehingga butuh skill tinggi untuk membuat boneka kekinian, yang memiliki kerumitan cukup banyak karena masih menggunakan mesin yang lama.

Dari penilaian tersebut, Sunindo Adipersada dianggap pantas menjadi pilot project untuk Industri 4.0. Bagaimana proses kerja dapat terpantau dengan cepat dan bisa mengurangi proses kerja yang memakan waktu lama untuk membantu perusahaan menjadi semakin produktif dan memangkas waktu secara signifikan.

"Produk kami sudah diuji kualitasnya dan sangat laris di pasar ekspor baik di Amerika dan Australia yang menjadi market terbesar, juga Eropa, Timur Tengah serta Asia. Industri mainan merupakan salah satu industri prioritas dan sudah menyerap lapangan kerja, kami termasuk perusahaan mainan yang juga sudah berkontribusi terhadap ekonomi nasional," ujar Iwan Tjen.

Secara market, kata Iwan, industri mainan dunia terus tumbuh dari 2007-2017, pasar mainan dunia sudah mencapai angka US$ 89 miliar dan diprediksi naik lagi menjadi US$ 99 miliar pada 2022. Indonesia sendiri termasuk salah satu pasar mainan terbesar di dunia dengan nilai ekspor sudah mencapai US$ 300 juta pada 2017.

"Saya berharap dan juga mendukung program pendampingan ini untuk dikembangkan lebih luas lagi dan bisa dirasakan oleh banyak perusahaan industri lainnya di Indonesia," pungkas Iwan Tjen.



Sumber: Investor Daily