Langkah Kemdag Buka Pasar Afrika Diapresiasi

Langkah Kemdag Buka Pasar Afrika Diapresiasi
Ilustrasi ekspor-impor. ( Foto: Antara / Muhammad Adimaja )
Ridho Syukro / FER Kamis, 22 Agustus 2019 | 16:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perkembangan proses kerja sama dagang Indonesia dengan negara-negara di Afrika sangat diapresiasi. Hal ini menyusul proses perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan Mozambik telah rampung dan menunggu untuk ditandatangani dalam waktu dekat.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus, mengatakan, langkah pemerintah Indonesia untuk mempercepat perjanjian dagang dengan negara non tradisional cukup positif dan menguntungkan pengusaha.

"Langkah Mendag membuka pasar Afrika memang sudah mulai terlihat hasilnya. Langkah ini sangat perlu dilakukan agar ekspor Indonesia meningkat dan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Heri melalui siaran pers, Kamis (22/8/2019).

Heri menyebutkan, potensi pasar Afrika sangat besar karena negara itu sedang berproses menjadi negara lower middle income dari sebelumnya sebagai negara lower income. Afrika sedang membutuhkan produk-produk kebutuhan dasar seperti pakaian, pangan, dan obat-obatan.

"Ada kecocokan, mereka butuh apa dan Indonesia bisa memproduksinya dan perjanjian dagang ini membuka peluang besar,” ujar Heri.

Heri mengingatkan, pemerintah Indonesia harus lebih pintar dalam memproses perjanjian dagang dengan negara-negara tujuan ekspor nontradisional. Salah satunya dengan melobi negara mitra dagang agar dapat menurunkan atau bahkan menghilangkan sebanyak-banyaknya tarif dagang.

“Jika produk Indonesia terbebas dari berbagai hambatan dagang seperti tarif maupun non-tarif, keberadaan produk Indonesia akan lebih kompetitif dibandingkan produk negara lain yang juga diekspor ke Afrika,” jelas Heri.

Heri mengimbau pemerintah memperhatikan strategi perundingan yang benar-benar berdampak pada ekspor Indonesia.

“Dalam sebuah perjanjian dagang pasti ada timbal balik yang diminta negara mitra dagang untuk kemudahan mereka mengimpor barang ke Indonesia,” tandas Heri.

Pengamat perdagangan internasional dari Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menyebutkan senada. Ia memandang bahwa sebelumnya pemerintah terlihat belum serius menggarap potensi pasar Afrika. Hal itu terlihat dari nilai ekspor Indonesia yang kerap mengalami kenaikan dan penurunan tajam dalam catatan perdagangan dengan negara mitra di wilayah Afrika. Dan, langkah pemerintah kini diharap signifikan mendongkrak neraca perdagangan.

“Jadi kita lah dalam hal ini membuka jalan dan memberikan keyakinan juga kepada para pengusaha domestik. Karena hambatan di lapangan juga banyak ditemui dari kalangan pengusaha domestik sendiri yang enggan untuk masuk pasar baru terutama di Afrika,” papar Fithra.

Fithra memaparkan, berdasarkan kajian pemetaan mitra dagang nontradisional yang dibuat oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi UI (FEUI) tiga tahun lalu, pasar Afrika termasuk negara yang terhitung sangat potensial. Temuan itu dibuktikan dari kalkulasi pertumbuhan ekonomi Afrika yang telah menunjukan peningkatan signifikan, yang bahkan melebihi pertumbuhan ekonomi dunia.

“Daerah-daerah seperti Ethiopia, Somalia, Rwanda yang dulu relatif tertinggal, justru sekarang pertumbuhan ekonominya cukup tinggi dan bahkan berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia bahkan Asia,” tandas Fithra.



Sumber: Investor Daily