Ekspor Getah Karet Meningkat 70%

Ekspor Getah Karet Meningkat 70%
Pohon Karet ( Foto: istimewa / Istimewa )
Herman / MPA Kamis, 22 Agustus 2019 | 19:01 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Lalu lintas ekspor getah karet selama empat setengah tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup tajam. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), volume dan nilai ekspor getah karet dari Indonesia untuk periode 2014-2018 meningkat sekitar 70% dari 31.200  ton menjadi 53.200 ton.

Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian (Kemtan), Sudi Mardianto mengungkapkan, peningkatan ini juga sekaligus menunjukan bahwa Indonesia adalah produsen karet alam terbesar kedua di dunia.

Dikatakan Sudi, meningkatnya ekspor karet Indonesia ini merupakan hasil kerja keras petani karet yang selama ini terus menjaga kualitas. Karenanya, produksi yang ada mampu menembus pasar dunia seperti negara India dengan nilai transaksi mencapai US$15,4 juta atau sebesar 27,23% dari total ekspor getah karet. Selain itu, ada juga negara tujuan Vietnam dengan nilai transaksi mencapai US$12,9 juta.

"Kita juga mengekspor ke negara Tiongkok dengan nilai transaksi mencapai US$8,3 juta. Kemudian ekspor ke negara tetangga Singapura sebesar US$3,3 juta dan Bangladesh sebesar US$2,5 juta," kata Sudi Mardianto dalam keterangan resminya, Kamis (22/8/2019).

Sudi menjelaskan, untuk nilai transaksi ekspor karet juga meningkat tajam sekitar 53% dari US$37 juta menjadi US$56,6 juta. Menurutnya, peningkatan ini juga merupakan implementasi kebijakan dan program terobosan Kementerian Pertanian yang memangkas sejumlah regulasi ekspor dan mempermudah proses perijinan.

Ke depan, lanjut Sudi, produksi getah karet diprediksi akan semakin meningkat, baik dari sisi produksi maupun kualitasnya seiiring dengan dilaksanakannya program peremajaan kebun karet rakyat melalui program BUN500. Agar manfaat ekonomi getah karet dapat dinikmati lebih besar oleh petani, upaya peningkatan nilai tambah juga harus dilakukan.

"Salah satu upaya yang kami sarankan adalah dengan mengundang investor untuk membangun industri pengolahan karet di daerah sentra perkebunan rakyat. Upaya ini secara operasional akan menggunakan pendekatan korporasi, sehingga petani karet dapat manfaat yang besar dari pengolahan getah karet yang dihasilkan," katanya.

Seperti diketahui, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian saat ini tengah memacu peningkatan produksi komoditas perkebunan dengan meluncurkan program BUN500. Program tersebut dibuat untuk mengembalikan kejayaan komoditas perkebunan Indonesia dalam menopang perekonomian rakyat secara nasional.

Sudi menambahkan, ketersediaan benih unggul merupakan faktor penentu untuk meningkatkan produksi berdaya saing tinggi, dan juga sebagai solusi atas kendala yang dihadapi masyarakat. Sebab, ketersediaan benih unggul dipastikan mampu memenuhi kebutuhan, terutama untuk perkebunan rakyat.

Kegiatan dukungan perbenihan perkebunan ini diberikan melalui APBN-P 2017 dan 2018 dengan menyediakan benih bermutu tanaman perkebunan. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara non swakelola dan swakelola dengan melibatkan UPT Pusat lingkup Direktorat Jenderal Perkebunan, UPTD Perbenihan, maupun kelompok masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga akan membangun kebun sumber benih dalam bentuk kebun entres maupun kebun induk penghasil biji selama kurun waktu 2020-2024. Diharapkan program yang telah direncanakan ini dapat dicapai dengan baik mulai dari mutu teknik maupun mutu genetik.



Sumber: BeritaSatu.com