Era Digital Beri Peluang Sukses Berbisnis Kuliner

Era Digital Beri Peluang Sukses Berbisnis Kuliner
Diskusi Bango Penerus Warisan Kuliner 2019, yang dihadiri Managing Director Unilever Food Solutions, Joy Tarigan; Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata, Vita Datau; dan Ussy Sulistiwaty di Jakarta Selatan, Kamis (22/8/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FMB Jumat, 23 Agustus 2019 | 14:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dewasa ini, era digital mampu membuka peluang besar mencapai kesuksesan dalam berbisnis. Tidak menutup kemungkinan pula kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pengusaha kuliner yang tengah marak di Indonesia.

Menurut data dari Euromonitor International yang disampaikan oleh Managing Director Unilever Food Solutions, Joy Tarigan saat ini jumlah total pasar layanan makanan atau food service di Indonesia memiliki pertumbuhan sebesar 9 persen per tahun, dengan nilai mencapai Rp 844,35 triliun di 2019, di mana 90 persen merupakan restoran independen, termasuk UMKM.

Data tersebut juga menunjukkan, dengan berkembangnya dunia digital sebanyak 15 juta pelaku UMKM, termasuk di bidang kuliner, kini sudah mulai bertransformasi ke ranah digital dengan rata-rata kenaikan omzet sekitar 80 persen.

“Berdasarkan data tersebut, kemampuan para pengusaha untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dapat menjadi faktor penting untuk mengembangkan bisnis mereka secara lebih signifikan. Salah satunya, dengan mempertahankan kualitas hidangan mereka sehingga usaha mereka terus tumbuh.” jelasnya saat diskusi Bango Penerus Warisan Kuliner 2019, di Jakarta Selatan, Kamis (22/8/2019).

Meskipun era digital sudah menawarkan peluang yang besar, tetapi saat ini juga masih banyak pengusaha kuliner Nusantara yang memerlukan kemampuan dan akses lebih dalam menggunakan media promosi digital, contohnya media sosial. Hal tersebut pun dibenarkan oleh Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata, Vita Datau.

“Diperlukan kombinasi antara visual dan narasi yang kuat untuk menghasilkan konten yang appealing dalam melakukan promosi di media sosial. Artinya, selain pemahaman mengenai digital marketing yang baik, para pengusaha kuliner Nusantara perlu memahami keunggulan hidangannya dan mampu menceritakannya dengan baik kepada konsumen,” ungkapnya.

Menurutnya, cerita dalam sebuah masakan saat ini sangat berpengaruh terhadap keinginan beli seseorang, terutama kaum milenial. Ia menjelaskan, saat ini generasi milenial adalah pemburu nomor satu kuliner otentik dengan tampilan yang unik, demi kebutuhan konten di sosial medianya.

“Makan bukan sekadar menggunakan lidah, tapi menggunakan lima panca indra yang kita punya. Media digital tidak bisa memberikan rasa, tetapi bisa menarik perhatian pelanggan dengan tampilan yang menarik, dan narasi di balik hidangan tersebut,” ungkapnya.

Salah satu testimoni pelaku usaha kuliner nusantara yang sukses memanfaatkan media digital adalah Ussy Sulistiawaty. Dirinya mengaku, saat ini media digital adalah salah satu media promosi paling ampuh untuk menarik pelanggan baru.

“Siapa bilang kuliner tradisional tidak bisa go digital? Meskipun restoran saya menjual aneka hidangan Nusantara, saya percaya bahwa promosi di platform digital saat ini tidak dapat terpisahkan dari strategi pemasaran yang saya jalankan. Selain lebih cepat dan efisien, saya juga dapat langsung berinteraksi dengan para pelanggan dan mendapatkan banyak masukan yang berharga untuk perkembangan usaha saya di masa mendatang,” tutur pemilik Bakoel Ussy serta Lurik Coffee and Kitchen. 



Sumber: Suara Pembaruan