Tragedi KM Mina Sejati, Korban Dilindungi BPJSTK

Tragedi KM Mina Sejati, Korban Dilindungi BPJSTK
Agus Susanto. ( Foto: Antara )
Siprianus Edi Hardum / EHD Jumat, 23 Agustus 2019 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tragedi yang dialami oleh anak buah kapal (ABK) di perairan Laut Aru telah merenggut korban jiwa. Insiden tragis yang dialami oleh 36 Anak Buah Kapal (ABK) KM Mina Sejati ini dipicu oleh perkelahian antar ABK tersebut terjadi ketika kapal sedang berlayar di perairan Kepulauan Aru, Maluku, Sabtu (17/8/2019).

Diketahui tiga orang ABK melakukan pembunuhan kepada beberapa ABK lainnya. Imbas dari kejadian tersebut diketahui 11 orang selamat, dua orang meninggal dunia, dan 23 orang termasuk para pelaku masih belum ditemukan.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJSTK), seluruh ABK ini terdaftar kedalam program BPJSTK melalui Kantor Cabang Perintis (KCP) Tual.

Direktur Utama BPJSTK, Agus Susanto, menjelaskan, seluruh ABK yang menjadi korban insiden tersebut terdaftar sebagai peserta BPJSTK sejak Juli 2019 dengan jumlah iuran yang dibayarkan sebesar Rp 1,3 juta.

Saat ini tim di lapangan juga telah melakukan pendataan dan pendampingan kepada korban selamat yang sedang mendapatkan penanganan medis di Pusat Layanan Kecelakaan Kerja (PLKK) BPJSTK. Jika korban memerlukan rawat lanjutan, seluruh biayanya akan ditanggung oleh BPJSTK tanpa batasan.

Meski baru satu bulan terdaftar, BPJSTK memastikan bahwa seluruh korban akan mendapatkan manfaat perlidungan dan pelayanan yang sama. “11 korban yang ditemukan selamat telah dilakukan penanganan oleh tim medis dan didampingi oleh petugas dari BPJSTK,” kata dia.

Kejadian yang menimpa ABK KM Mina Sejati ini masuk kedalam lingkup kecelakaan kerja sehingga seluruh biaya perawatan dan pengobatan para korban akan ditanggung sampai sembuh, sedangkan untuk korban meninggal, ahli warisnya akan mendapatkan santunan kematian akibat kecelakaan kerja sebesar 48 kali upah yang dilaporkan.

Bagi peserta yang sedang dalam perawatan dan tidak mampu bekerja akan mendapatkan penggantian upah sesuai dengan ketentuan. “Pekerja langsung mendapatkan haknya meski iuran yang dibayarkan baru satu kali. Hak tersebut meliputi seluruh manfaat atas program yang diikuti,” ungkap Agus.

Agus mengatakan, pihaknya turut prihatin atas musibah yang telah terjadi dan berharap tragedi menjadi perhatian semua pihak dimana profesi pekerjaan seperti anak buah kapal (ABK) dan nelayan ini rentan akan resiko sosial. “Untuk itu menjadi tanggung jawab kita semua untuk terus melakukan edukasi akan pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan,” tutup Agus.



Sumber: BeritaSatu.com