Smelter Freeport Indonesia Beroperasi Desember 2023

Smelter Freeport Indonesia Beroperasi Desember 2023
Tony Wenas. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / AB Minggu, 25 Agustus 2019 | 18:52 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Pabrik smelter atau pengolahan konsentrat milik PT Freeport Indonesia (FI) akan beroperasi Desember 2023. Dengan mengucurkan dana US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun, pembangunan smelter di Gresik, Jawa Timur, sudah mencapai 3,8%, yakni antara lain feasibility study, engineering, amdal, biaya sewa lokasi, dan pematangan tanah. Total investasi pengolahan konsentrat menjadi katoda dan anoda ini mencapai US$ 3 miliar.

"Freeport sudah mendapatkan komitmen pinjaman dari 11 bank dan ini merupakan pinjaman pertama sejak perusahaan beroperasi," ujar Presiden Direktur PT FI Tony Wenas kepada Beritasatu.com saat meninjau lokasi smelter di kawasan industri yang dibangun Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) di Gresik, Sabtu (24/7/2019). Tiga dari 11 bank kreditur adalah bank dalam negeri.

Wawancara Lengkap dengan Tony Wenas

Mengolah 2 juta konsentrat yang dipasok dari Kabupaten Mimika, Papua, kapasitas produksi pabrik smelter PT FI mencapai 550.000 ton katoda. Saat ini, kata Tony, produksi konsentrat sedang turun, karena produksi bijih di penambangan terbuka sudah menipis dan akan habis tahun ini. Tahun 2020 hingga 2022 adalah masa transisi dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah.

Produksi konsentrat akan kembali normal tahun 2023 saat pabrik smelter beroperasi. Waktu itu, produksi 3 juta ton konsentrat akan sepenuhnya dihasilkan dari underground mining. Sebesar 1 juta diproses PT Smelting dan 2 juta ton diolah PT FI sendiri.

Sebagai pemegang saham 25% PT Smelting di Gresik, PT FI sesungguhnya sudah memiliki pabrik smelter. Namun, produksi konsentrat PT FI masa normal mencapai 3 juta ton per tahun, sedangkan konsentrat yang diproduksi di PT Smelting hanya 1 juta ton. Sesuai izin usaha pertambangan khusus (IUPK), PT FI wajib membangun smelter, perusahaan pemurnian dan pengolahan mineral, dalam dalam negeri dalam waktu lima tahun sejak izin diberikan.

Berbeda dengan rezim kontrak karya (KK), rezim IUPK melarang ekspor bahan mentah. Produk mineral yang diekspor harus hasil pengolahan di dalam negeri. Terhitung sejak izin diberikan, demikian Tony, smelter harus sudah beroperasi akhir Desember 2023 atau lima tahun setelah mendapatkan IUPK.

"Kami yakin, pembangunan smelter bisa tepat waktu dan akan beroperasi Desember 2023," ujar Tony.

Secara keseluruhan, proses pembangunan smelter sudah 3,8%, tetapi pematangan lahan sudah mencapai 46% dan engineering design sudah 76%.

Tony yakin pembangunan smelter akan sesuai target, juga karena kuatnya dukungan pemerintah. Sebuah bank kreditur pun sudah siap mengucurkan pinjaman US$ 3 miliar.

"Ini untuk pertama kami, Freeport Indonesia meminjam," ungkap Wakil Presdir PT FI Orias Petrus Moedak pada kesempatan yang sama.

Kapasitas
Selama ini, 1 juta konsentrat produksi PT FI diolah oleh PT Smelting, perusahaan patungan dengan Mitsubishi di Gresik, Jawa Timur. Mayoritas saham perusahaan ini dikuasai Mitsubishi dan mitra Jepang, sedang PT FI 25%. Selain mengolah konsentrat dari PT FI, PT Smelting juga memproses 100.000 ton konsentrat dari PT Amman Mineral, dahulu PT Newmont.

Pada 2019, kata Presdir PT Smelting Hiroshi Kondo, perusahaan mengolah 1,1 juta ton konsentrat tembaga dan menghasilkan 291.000 ton katoda, 1,04 juta asam sulfat, 805.000 ton terak tembaga, 31.000 ton gipsum, dan 2.000 ton lumpur anoda.

Meski baru menikmati dividen dalam tiga tahun terakhir setelah 23 tahun beroperasi, demikian Kondo, pihaknya sudah berkontribusi kepada Indonesia. Operasi PT Petrokimia Gresik, yang letaknya bersebelahan, mendapat pasokan 1,04 juta asam sulfat dari PT Smelting.

Sedang sekitar 800.000 ton terak tembaga untuk bahan baku industri semen, membantu operasi perusahaan semen di wilayah Gresik. Dengan investasi awal US$ 624 juta, PT Smelting kini sudah menghasilkan katoda senilai US$ 20 miliar.

"Salah satu pertimbangan kami investasi smelter di Indonesia adalah pasar Indonesia yang besar. Ternyata, sebagian besar katoda harus diekspor karena kecilnya daya serap industri dalam negeri," ungkap Tondo kepada para pemimpin media massa Ibu Kota di kantornya di Gresik.

Katoda PT Smelting diekspor ke Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Andaikan industri manufaktur di Indonesia sudah cukup kuat, pemasaran tembaga akan sepenuhnya terserap di dalam negeri. Tembaga, antara lain dibutuhkan oleh industri otomotif, pabrik air conditioner dan berbagai jenis elektronik, dan konstruksi untuk instalasi listrik. Pengembangan mobil listrik akan banyak membutuhkan tembaga.

Produk akhir perusahaan smelter adalah katoda atau tembaga, asam sulfat, terak tembaga, gipsum, dan lumpur anoda. Di dalam lumpur anoda ada emas, perak, dan logam berharga lainnya. Dengan memilih lokasi di Gresik, bukan di Papua, semua produk smelter bisa dipasarkan dan tidak merusak lingkungan. Kawasan industri JIIPE juga memiliki pelabuhan sendiri untuk memudahkan ekspor.

Lumpur anoda dari pabrik smelter PT FI akan dimurnikan oleh sebuah perusahan. Di pabrik ini, lumpur diolah menjadi emas murni, perak murni, dan campuran platinum, paladium, selenium, dan logam lainnya.

Dari ore atau bijih yang ditambang, PT FI menghasilkan konsentrat. "Sesungguhnya, nilai tambah konsentrat tembaga sudah mencapai 95%. Kalau diolah lewat smelter, nilai tambahnya hanya bertambah 5%," ungkap Tony.

Nilai tambah konsentrat tembaga jauh beda dengan nilai tambah konsentrat nikel yang di bawah 50%. "Namun, pembangunan smelter sudah menjadi komitmen kami," kata Tony.

Konsentrat dari PT FI sudah mendapat harga cukup tinggi di London Methal Exchange (LME) sudah cukup tinggi. Ini adalah bukti tingginya nilai tambah konsentrat.

Nilai emas di konsentrat lebih dari 30%. Terbesar adalah tembaga. Pabrik smelter PT FI akan menghasilkan 550.000 ton tembaga, emas 30-60 ton, perak sekitar 120 ton per tahun.

Saksikan videonya di sini:



Sumber: BeritaSatu.com