Hadapi Era Digital, Pusat Perbelanjaan Dituntut Tampil Beda

Hadapi Era Digital, Pusat Perbelanjaan Dituntut Tampil Beda
Pendiri Indonesia Leasing Community Fajar Informanto saat memberikan pelatihan kepada manajamen dan pengusaha mal di Indonesia di Kawasan BSD, Tangerang Banten. ( Foto: istimewa )
Chairul Fikri / CAH Sabtu, 31 Agustus 2019 | 11:48 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Kehadiran E-commerce dalam kehidupan masyarakat saat ini berdampak besar pada para pengusaha konvensional. Gempuran situs jual beli memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi karena tak harus datang ke lokasi toko yang menjual barang yang dibutuhkan. Hal itu tentunya berdampak pada lesunya bisnis pusat perbelanjaan atau mal.

Pendiri Indonesia Leasing Community Fajar Informanto mengatakan pengelola mall harus bisa meramu strategi tepat akan kondisi ini.

"Di era digitalisasi ini, pemasaran digital telah menggeser pemasaran konvensional. Oleh sebab itu, pusat perbelanjaan atau mall perlu meramu strategi agar tetap eksis dan ikut serta meningkatkan perekonomian Indonesia. Semua developer mall ingin malnya ramai. Itu karena akan membuka lapangan kerja, ekonomi akan tumbuh. Kalau tidak ramai, dikelola orang-orang yang tidak profesional berarti tidak peduli terhadap perkembangan perekonomian bangsa," ujar Fajar saat menggelar pelatihan kepada manajamen dan pengusaha mal di Indonesia di Kawasan BSD, Tangerang Banten, belum lama ini.

Ditambahkan Fajar, pengelola dan manajemen mal di Indonesia harusnya berupaya untuk menjadi yang pertama, beda dan terbaik di era digitalisasi.

“Hal itu penting agar pengunjung dan retailer tertarik melakukan transaksi seperti dahulu. Karena menjadi berbeda ini rata-rata jarang dilakukan oleh mal-mal itu, sehingga mereka harus berbenah menjadi berbeda supaya retailer berminat berniaga, menjadi menarik visitor untuk datang ke mal itu. Kan kita datang itu mau mencari yang up to date sekarang. Kalau database pengusaha dan manajemen mal minim, bagaimana masyarakat mau datang ke mal,” tambahnya.

Fajar mengemukakan, informasi dan pelatihan ini penting dilakukan diselenggarakan setiap saat untuk memberikan wawasan kepada para pengelola dan pengusaha mal agar tak makin ditinggal oleh konsumennya yang nyaman dengan kehadiran e-commerce.

"Kegiatan berbagi informasi serupa seminar ini penting diikuti pengelola mal. Alasannya, supaya para manajer mal mengetahui tren pemasaran mutakhir. Karena sekolah mal di Indonesia kan belum ada. Tindak lanjut dari ini mungkin ada semacam sertifikasi, makannya ada lembaga kursus juga. Nanti dua atau tiga tahun lagi ada 20.000 orang angkatan kerja ingin bekerja di mal dari berbagai sektor. Apakah itu di pengelola atau mungkin retailer. Apalagi start up retailer juga makin maju. Di situ kan diperlukan kompetensi itu," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com