Penolakan Safeguard TPT Disayangkan

Penolakan Safeguard TPT Disayangkan
Ilustrasi industri TPT ( Foto: beritasatu.com )
Leonard AL Cahyoputra / FER Selasa, 3 September 2019 | 19:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Industri Tekstil dan produk Tekstil (TPT) sedang dilanda masalah diserbunya impor dari Tiongkok. Untuk melindungi produk dalam negeri diperlukan safeguard namun sayangnya ada penolakan dari pihak importir mengenai itu, yang disayangkan oleh industri tekstil.

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi), Suharno Rusdi, menyayangkan adanya upaya dari beberapa kelompok pro importir yang menyatakan bahwa industri tekstil saat ini masih baik-baik saja. Dia meminta kepada pihak yang menolak untuk melihat kondisi di daerah Bandung Selatan, Bogor dan beberapa wilayah sentra produksi tekstil.

Suharno menegaskan, industri TPT harus segera diselamatkan karena semua perusahaan dari Banten sampai Jawa Timur punya permasalahan yang sama yakni stok yang menumpuk.

"Ada yang setop produksi, ada yang kurangi produksi, beberapa ada yang masih bertahan, ini kan hanya masalah stamina saja, yang lebih kuat bisa lebih bertahan lama dan stamina kan ada batasnya,” ucap Suharno dalam siaran persnya, di Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Ikatsi menyatakan, pertumbuhan konsumsi TPT masyarakat sebetulnya masih cukup baik dimana konsumsi per kapita pada 2018 telah mencapai 8,13 atau naik 4 persen (year on year/yoy), namun pertumbuhan ini justru diisi oleh produk impor.

Suharno menerangkan, konsumsi masyarakat 2 juta ton, impor kain yang untuk domestik 450.000 ton, impor produk jadi 200.000 ton. Ini artinya, 30 persen konsumsi masyarakat diisi oleh produk impor.

"Bahkan, pertumbuhan konsumsi yang 103.000 ton habis dimakan pertumbuhan kain impor yang sebesar 117.000 ton. Jadi, kita enggak dapat apa-apa dari pertumbuhan konsumsi," kata Suharno.

Menurut Suharno, pembenahan sektor TPT adalah langkah strategis bagi pemerintah untuk menjadikan neraca perdagangan kembali positif dan mencegah dampak buruk ekonomi makro lainnya.

"Kalau sektor ini sakit neraca pembayaran pemerintah akan terdampak, sektor perbankan akan terdampak, setoran BPJS dan pembayaran listrik juga terdampak, makanya harus segera diperbaiki sebelum terlambat,” tegas Suharno.

Senada dengan Suharno, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DKI Jakarta, Irwandy MA Rajabasa, mengamini kondisi industri TPT yang saat ini tengah terpuruk. Berdasarkan informasi yang disampaikan anggotanya di sekitaran Bogor, Tangerang dan Bekasi bahwa benang dan kain impor murah yang membanjiri pasar telah memukul penjualan anggota API DKI. Dia mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan penyelamatan industri.

"Kalau tidak segera ambil tindakan akan banyak produsen yang beralih jadi importir pedagang dan industri TPT yang sudah kita bangun selama 50 tahun ini akan hilang," kata Irwandy.

Wakil Sekretaris API Jawa Barat, Rizal Tanzil, menegaskan, kondisi industri TPT di Jawa Barat sangat perlu untuk segera diselamatkan.

"Ini perusahaan anggota kami mulai berguguran jadi jangan lagi ada yang bicara kalau industri TPT kita sedang baik-baik saja” ungkap Rizal.

Rizal menyatakan, saat ini seluruh pemain dari hulu ke hilir sudah mulai kompak, dimana API dan APSyFI sepakat untuk menginisiasi safeguard dari hulu ke hilir sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan industri TPT.

"Saat ini beberapa jenis produk sudah kita sampaikan usulannya ke Kementerian Perdagangan, kami harap dukungan dari Kementerian terkait lainnya untuk mendukung usulan ini," pungkas Rizal.



Sumber: Investor Daily