KEIN Setuju Peleburan Kemperin dan Perdagangan Internasional

KEIN Setuju Peleburan Kemperin dan Perdagangan Internasional
Pas FM menggelar acara Kongkow Bisnis dengan tema “Otak Atik Kementerian di Periode Kedua”, di Jakarta,Rabu (4/9/2019) ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Rabu, 4 September 2019 | 19:49 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) rencananya akan mengubah formasi susunan kabinet kerja untuk periode 2019-2024. Nantinya akan dibentuk beberapa kementerian baru, ada juga yang digabung. Salah satu wacana yang mengemuka adalah dibentuknya Kementerian Industri dan Perdagangan Internasional

Wacana ini ikut ditanggapi oleh Anggota Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN), Benny Pasaribu. Ia sepakat kalau nantinya Jokowi membentuk Kementerian Industri dan Perdagangan Internasional. Modelnya seperti METI (Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri) di Jepang.

Dengan menggabungkan perindustrian dan perdagangan internasional, menurut Benny kementerian tersebut bisa lebih fokus dalam meningkatkan daya saing, serta memilih produk-produk yang sesuai dengan DNA masyarakat Indonesia untuk diindustrialisasikan. Namun, tidak sekedar berganti nama, kementerian yang baru ini juga diharapkan bisa mendongkrak pertumbuhan industri dan juga ekspor.

“Kalau kita ingin membangun industri, kita perlu kebijakan-kebijakan yang melindungi industri kita sendiri dari serangan barang-barang asing. Kemudian bagaimana barang-barang kita bisa kompetitif di pasar internasional atau membangun daya saing. Fokus ini bisa dijalankan oleh Kementerian Industri dan Perdagangan Internasional,” kata Benny Pasaribu, di acara Kongkow Bisnis PAS FM, di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Sementara itu menurut Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Muhammad Faisal, perubahan nomenklatur yang dilakukan Jokowi sebetulnya tidak akan memberikan dampak yang signifikan apabila akar masalah dari investasi dan ekspor tidak dibenahi.

“Masalah nomenklatur, apapun itu bentuknya, harus kembali ke tujuan dasarnya. Konsen Presiden Jokowi kan investasi dan ekspor. Nomenklatur boleh saja diubah, tetapi permasalahan yang ada di hulu harus diselesaikan dulu. Hal-hal yang menghambat industri manufaktur harus dibenahi. Kalau tidak, kinerja ekspor kita akan tetap sama saja,” ujar Faisal.



Sumber: BeritaSatu.com