8 Tahun Pasca Dihantam Erupsi Merapi, KPSM Sleman Bangkit Lagi

8 Tahun Pasca Dihantam Erupsi Merapi, KPSM Sleman Bangkit Lagi
Koperasi Peternakan Sarono Makmur (KPSM) Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ( Foto: Ismewa )
Siprianus Edi Hardum / EHD Minggu, 8 September 2019 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Koperasi Peternakan Sarono Makmur (KPSM) Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), membuktikan diri sebagai salah satu koperasi yang tangguh. Meski dihantam erupsi awan panas Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010,, anggota KPSM tidak lantas putus asah. Mereka mampu membawa KPSM bangkit lagi.

Sebelum terkena bencana erupsi gunung Merapi delapan tahun silam KPSM mencatat aset sekitar Rp 5,48 miliar, dan telah memiliki 400 anggota, jumlah sapi perah yang dikelola anggota sebanyak 1.400 ekor dengan produksi susu sekitar 4.000 liter per hari, serta menghasilkan omset sekitar Rp 10,3 miliar.

Deputi Bidang Kelembagaan, Kementerian Koperasi dan UKM, Luhur Pradjarto bersama Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) Kabupaten Sleman Wulan Anggraeny, PPKL Kabupaten Bantul Nur Hayati dan Irfan PPKL Provinsi DIY menyempatkan diri berkunjung ke KPSM beberapa waktu lalu.

Luhur mengatakan, koperasi sektor ril seperti KPSM sangat potensi untuk ditumbuh-kembangkan, karena dampaknya sangat signifikan kepada anggota dan masyarakat.

Selain itu, KPSM yang mengelola bisnis utama persusuan (sapi perah) merupakan salah satu koperasi yang sangat jelas keterkaitan antara anggota dengan koperasinya.

“Produksi susu anggota diserap oleh koperasi dan koperasinya yang melakukan penjualan susu ke industri pengolahan susu dan juga melakukan pengolahan susu menjadi yoghurt maupun susu pasteurisasi melalui proses ultra high temperature (UHT)”, kata Luhur.

Selain memproduksi susu, KPSM Sleman juga menyediakan pakan konsentrat, menyediakan obat-obatan dan ensiminasi buatan. Hal ini telah dilakukan oleh KPSM yang telah berdiri sejak tahun 1994.

Pada waktu terkena bencana, hampir semua aset yang dimiliki oleh koperasi dan anggota dapat dikatakan nyaris habis, bahkan sapi yang dikelola anggota tinggal 200 ekor sapi yang dapat diselamatkan. Semua kandang rusak, truk tanki susu juga rusak, pakan hijauan pun kering terbakar.

Memperhatikan kondisi tersebut, Daud Soeroto selaku Ketua KPSM tidak tinggal diam. Dengan kepeduliannya serta kekompakan pengurus dan para karyawan, mereka bertekad memberdayakan kembali dengan menyusun rencana lima tahun ke depan dalam upaya memotivasi anggota untuk bangkit dan punya penghasilan.

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain dengan mengamankan 200 ekor sapi ketempat pengungsian, membangun kandang, mengupayakan pinjaman dengan bunga murah ke perbankan, maupun mencari donatur untuk pembangunan kandang koloni.

Upaya pengurus akhirnya, memperoleh hasil, diantaranya mendapatkan bantuan untuk pembangunan kandang koloni dari BPD, Dinas Pekerjaan Umum, dan SCTV. Tidak hanya itu, untuk permodalan pun mendapatkan pinjaman dari perbankan sebesar Rp 750 juta. Dana tersebut dipergunakan untuk pengadaan sapi sebanyak 50 ekor sapi.

Dengan memaksimalkan jumlah sapi yang ada, akhirnya diputuskan sapi milik koperasi dipelihara oleh anggota, atau istilah yang sering didengar dimasyarakat adalah sistem “gaduh”. Oleh karena jumlah sapi terbatas yaitu sebanyak 250 ekor, sementara jumlah anggota sebanyak 400 an orang, maka pendistribusian sapi diputuskan secara musyawarah.

Seiring dengan berjalannya waktu, dan dengan ketekunan pengurus dan jiwa kekeluargaan para anggotanya dan pengurus, kondisi KPSM perlahan mulai bangkit, kini jumlah sapi mencapai 1.600 ekor.

Produksi susu yang dipasarkan ke industri pengolahan susu yaitu Nestle sekitar 7.400 liter per dua hari, sedangkan yang tidak dipasarkan ke industri pengolahan susu (IPS), diolah oleh KPSM menjadi yoghurt dan susu pasteurisasi. Pabrik konsentrat yang dimiliki selain untuk memenuhi kebutuhan anggota juga dipasarkan ke masyarakat.

Yusuf, salah satu karyawan mengatakan, tidak hanya itu perubahannya, aset meningkat menjadi Rp 18 miliar (naik 82,8 persen dibanding tahun 2010) dan omset per tahun sekarang sekitar Rp 21 miliar atau naik 50,5 persen dibanding tahun 2010. Disamping itu, juga membangun yayasan sosial untuk anak yaitu TK Bina Mandiri.

Wulan Anggraeny, PPKL Sleman menambahkan, bahwa atas keinginan para pengurus koperasi peternakan sapi perah, mereka juga sedang mempersiapkan membentuk koperasi sekunder, antara lain dengan Koperasi Warga Mulya, Koperasi Usaha Peternakan dan Pemerahan Kaliurang.

Dengan adanya koperasi sekunder, diharapkan koperasi-koperasi peternakan sapi perah akan lebih maju dan kesejahteraan anggota meningkat.

 



Sumber: BeritaSatu.com