Ekonomi Indonesia Masih Unggul di Kalangan Emerging Markets

Ekonomi Indonesia Masih Unggul di Kalangan Emerging Markets
Presiden Joko Widodo menghadiri KTT G20 di Turki, Minggu 15 November 2015. ( Foto: Sekretariat Presiden )
Triyan Pangastuti / HA Senin, 9 September 2019 | 16:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Mandiri Tbk memprediksi stabilitas ekonomi Indonesia masih tetap terjaga, tercermin melalui pertumbuhan ekonomi yang masih tumbuh baik di tengah gejolak ekonomi global dengan ketidakpastian perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan di tengah tantangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif bagus jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Pada kuartal II 2019, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,05 persen, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen. Meski demikian ia tak menampik bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I dan II masih di bawah ekspektasi.

"Kita masih harus bersyukur karena pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara emerging markets lainnya," kata Panji mengawali pemaparan economic outlook 2019, di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Menurutnya beberapa negara berkembang lainnya justru mengalami pertumbuhan lebih rendah seperti Turki pada kuartal II 2019 mengalami pertumbuhan ekonomi negatif 1,5 persen year-on-year. Sementara kuartal I 2019 juga negatif 2,4 persen.

Selain itu, beberapa negara berkembang lainnya pada saat yang bersamaan juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan Indonesia, antara lain Malaysia 4,9 persen, Thailand 3,7 persen, Brasil 1,01 persen, dan Rusia 0,9 persen.

"Kami memandang keseimbangan ekonomi internal yaitu inflasi, dan keseimbangan ekonomi eksternal yaitu kurs Rupiah masih terjaga. Tingkat harga-harga umum atau inflasi masih terkendali," tuturnya.

Laju inflasi bulanan pada Agustus tercatat sebesar 3,49 persen. Angka ini masih dalam rentang target Bank Indonesia yang sebesar 3,5 persen, ± 1 persen.

Sedangkan untuk kurs rupiah terhadap US$ pada kuartal I dan II tahun 2019 juga masih terkendali dengan nilai tukar sekitar Rp 14.200. Sementara, aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi dan pasar saham masing–masing sebesar Rp 116 trilun dan Rp 59 triliun.

"Kami masih optimistis stabilitas ekonomi internal dan eksternal ke depan masih akan terjaga. Kami memperkirakan inflasi tahun 2019 sebesar 3,41 persen dan kurs rupiah akan berada pada rentang Rp 14.200-Rp 14.300 per US$," jelas dia.



Sumber: Investor Daily