Harga Minyak Naik Setelah Arab Tegaskan Kurangi Produksi

Harga Minyak Naik Setelah Arab Tegaskan Kurangi Produksi
Ilustrasi minyak dunia. ( Foto: vungtauoil.com )
/ WBP Selasa, 10 September 2019 | 10:03 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak naik sekitar dua persen pada akhir perdagangan Senin atau Selasa pagi WIB (10/9/2019), setelah Menteri Energi baru Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, mengonfirmasi akan tetap dengan kebijakan negaranya membatasi produksi minyak mentah untuk mendukung harga.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November naik US$ 1,05 atau 1,7 persen menjadi US$ 62,59 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober naik US$ 1,33 atau 2,4 persen menjadi US$ 57,85 per barel.

Pangeran Abdulaziz, putra Raja Saudi Salman dan anggota lama delegasi Saudi untuk Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), menggantikan Khalid al-Falih pada Minggu (8/9/2019).

"Pengumuman akhir pekan tentang perubahan kepemimpinan di kementerian perminyakan Saudi disertai dengan saran bahwa pembatasan produksi akan terus berlanjut sampai pasar mencapai keseimbangan yang lebih baik," kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan.

Pangeran Abdulaziz mengatakan pilar kebijakan Arab Saudi tidak akan berubah untuk memotong produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari akan bertahan.

Dia menambahkan bahwa apa yang disebut aliansi OPEC+ akan bertahan untuk jangka panjang.

Produksi minyak Rusia pada Agustus melampaui kuota berdasarkan perjanjian OPEC+.

Pada Minggu (8/9/2019), Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail al-Mazrouei mengatakan OPEC dan produsen non-OPEC berkomitmen untuk mencapai keseimbangan pasar minyak.

Komite pengawasan bersama kesepakatan OPEC+ akan bertemu pada Kamis (12/9/2019) di Abu Dhabi.

Di tempat lain, impor minyak mentah Tongkok naik sekitar tiga persen pada Agustus dari bulan sebelumnya, data kepabeanan menunjukkan pada Minggu (8/9/2019), didukung pemulihan margin penyulingan meskipun surplus dari produk minyak dan permintaan bertahan.



Sumber: Reuters, Antara