Industri Tekstil Hadapi Tantangan Biaya Produksi

Industri Tekstil Hadapi Tantangan Biaya Produksi
Proses pewarnaan tekstil di Pabrik Bellini di Cimahi, Jawa Barat. ( Foto: Beritasatu.com/Kharina Triananda )
Herman / JAS Rabu, 11 September 2019 | 22:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu industri yang berhasil tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional di atas lima persen, dan juga menciptakan banyak lapangan kerja.

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta mengungkapkan, kontribusi industri TPT terhadap product domestic bruto (PDB) juga masih di atas satu persen dan cenderung stabil dibandingkan industri lainnya.

Meskipun pertumbuhannya relatif baik, Arif mengingatkan ke depannya tantangan yang dihadapi industri ini kian beragam, terutama yang berkaitan dengan biaya produksi yang bisa memengaruhi harga suatu produk. Apalagi seiring dengan berkembangnya era digitalisasi dan otomatisasi.

"Dengan berkembangnya otomatisasi, semakin efisiennya teknologi, tantangan ke depannya adalah dalam konteks cost of production (biaya produksi). Maka kemudian efisiensi di luar bahan baku untuk kepentingan tekstil harus dilakukan, sehingga harga produk kita bisa bersaing," kata Arif Budimanta di acara Kongkow Bisnis PAS FM, di Jakarta, Rabu (11/9/2019).

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola biaya produksi antara lain biaya logistik harus lebih efisien. Menurut Arif, hal ini secara perlahan sudah diwujudkan oleh pemerintah melalui pembangunan infrastruktur.

"Kemudian harga energinya juga harus bisa ditekan lagi supaya kita bisa bersaing. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga untuk ekspor dan menghasilkan devisa," ujarnya.

Hal lainnya adalah terkait kebijakan perdagangan internasional, di mana Indonesia harus meletakkan industri tekstil dalam kerangka melindungi industri nasional.

"Terkait trade policy (kebijakan perdagangan), walaupun kita misalnya terkait dengan FTA atau pun dengan CEPA, kita harus meletakkan tekstil dalam kerangka untuk melindungi industri nasional. Karena ini menyangkut tenaga kerja yang banyak. TKDN-nya juga sudah cukup tinggi, sekitar 60 persen," papar Arif.

"Kemudian market size atau penguasaan pasar dari industri nasional kita sudah sekitar 50 persen. Jangan kemudian malah menyusut pasarnya, tetapi harus diperlebar. Dengan adanya FTA, tekstil kita yang harusnya bisa menyerbu ke luar. Bukan kemudian yang dari sana menyerbu ke kita, yang akhirnya membuat kita menyusut," tambah Arif.



Sumber: BeritaSatu.com