Benahi Sektor Pertanian, Peternakan, dan Perikanan

Benahi Sektor Pertanian, Peternakan, dan Perikanan
Ilustrasi pertanian ( Foto: Antara/Yusran Uccang )
Yeremia Sukoyo / WBP Jumat, 13 September 2019 | 15:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sektor pertanian, peternakan dan perikanan berskala kecil di Indonesia yang hampir seluruh aktivitasnya dilakukan di perdesaan, belum menyejahterakan sebagian besar pelakunya, yaitu petani, peternak dan nelayan. Hingga saat ini pendapatan petani dan nelayan perdesaan fluktuatif sesuai keadaan pasar dan alam, sehingga memberikan kontribusi terbesar angka kemiskinan.

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jan Darmadi mengingatkan, peningkatan pendapatan di perdesaan harus menjadi fokus Indonesia jika ingin menghapuskan angka kemiskinan di Indonesia. Terlebih ke depannya dunia akan masuk ke Revolusi Industri 4.0 pada tahun 2025, yang sedikit banyak akan mempengaruhi Indonesia.

"Sektor pertanian, peternakan dan perikanan kita perlu dibenahi, jika tidak, maka akan semakin tertinggal lagi dari negara-negara maju," kata Jan Darmadi dalam Focus Group Discussion (FGD) II Bidang Pertanian dan Maritim DPP Nasdem "Industri Pedesaan, Sistem Resi Gudang dan E-Commerce Untuk Meningkatkan Pendapatan Petani & Nelayan", di Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Seperti diketahui, kemiskinan di Indonesia memang kembali menurun. Dari 25,94 juta orang pada Maret 2018, menjadi 25,14 juta orang pada Maret 2019. Indeks kedalaman kemiskinan Indonesia turun, dari 1,75 di Maret 2014 menjadi 1,55 di semester yang sama tahun 2019.

Sedangkan keparahan kemiskinan turun dari 0,31 pada semester I tahun 2014 menjadi 0,24 di periode yang sama tahun 2019. Semuanya ini adalah capaian yang sangat baik dari pemerintahan Jokowi.

Meski kemiskinan total menurun, tapi kemiskinan di pedesaan masih yang terburuk. Pedesaan berkontribusi 12,8 persen terhadap presentase penduduk miskin, dibandingkan dengan 6,69 persen penduduk miskin perkotaan.

Saat ini tingkat pendapatan petani, nelayan dan peternak juga merupakan yang terendah dari seluruh sektor ekonomi yang ada. Rata-rata hanya sebesar 1,9 juta rupiah per bulan per kepala keluarga pada tahun 2018. Saat ini, penurunan kemiskinan di pedesaan terjadi tidak hanya dikarenakan oleh inflasi yang rendah, harga yang stabil, dan penurunan harga bahan pokok, tetapi juga karena subsidi pemerintah dalam berbagai program.

Anggota Komisi IV DPR Fadholi menjelaskan, untuk mendorong perbaikan kehidupan petani dan nelayan di Indonesia, sangat dibutuhkan perbaikan infrastruktur dan kebijakan. Dengan adanya infrastruktur dan kebijakan yang mendukung, maka dapat mempercepat perbaikan di sektor pertanian dan nelayan.

"Yang pertama harus dipersiapkan adalah infrastruktur, masyarakat harus gunakan teknologi tinggi. Untuk itu kita harus berikan persiapan infrastruktur yang kaitannya dalam pertanian dan nelayan. Selanjutnya yang juga harus disiapkan adalah masalah kebijakan," kata Fadholi.

Dalam menyongsong Revolusi Industri 4.0, maka pembangunan infrastruktur harus cepat dan diikuti dengan pelayanan yang prima. Petani dan nelayan juga harus diberikan bimbingan dalam hal penguasaan teknologi.

"Dari sisi pertanian, bagaimana tidak terjadi antisipasi panen raya berlebihan dan juga kelangkaan. Maka stabilitas perlu sekali, dan sistem distribusinya harus ditata dengan baik. Kemudian teknologi pembibitan, pemeliharaan," ujar Fadholi.

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, dibutuhkan integrasi vertikal dari produksi pertanian dengan industri pangan. Misalnya, dengan cara memotong rantai perdagangan yang panjang untuk meningkatkan tingkat pendapatan petani, peningkatan fasilitas pengolahan pertanian dan perikanan di tingkat pedesaan, hingga pengadaan gudang yang baik sebagai tempat menyimpan hasil pada saat panen raya dengan Sistem Resi Gudang.



Sumber: Suara Pembaruan