Banyak Kandungan Lokal dalam Mobil Esemka

Banyak Kandungan Lokal dalam Mobil Esemka
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memperhatikan mesin mobil ESEMKA bertenaga listrik yang diproduksi PT Solo Manufaktur Kreasi(SMK) di Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9/2019). ( Foto: Humas Kemperin )
Herman / EHD Rabu, 18 September 2019 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo pada Jumat, 6 September 2019 meresmikan produk dan fasilitas produksi PT Solo Manufaktur Kreasi yang dikenal luas dengan produk Esemka, di Boyolali, Jawa Tengah.

Meskipun bukanlah produk mobil nasional (Mobnas) yang sarat bantuan pemerintah, berdirinya pabrik ini menandai langkah awal bagi merek Indonesia untuk meningkat ke level manufaktur, serta membangun industri otomotif lokal untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Perjalanan mobi Esemka sejatinya telah dimulai sejak tahun 2007 dengan melibatkan sekolah-sekolah menengah kejuruan di Indonesia. Namanya mulai dikenal publik saat Jokowi menjabat Wali Kota Solo tahun 2012 dan menjadikan mobil ini sebagai kendaraan dinas. Namun, eksistensinya seolah meredup setelah Jokowi pindah ke Jakarta, kemudian menjabat sebagai Presiden Indonesia.

Kini, nama Esemka kembali diperbincangkan setelah Jokowi meresmikan produk dan fasilitas produksi Esemka yang memiliki luas 12.500 meter persegi dengan luas lahan 115.000 meter persegi. Namun saat acara peresmian tersebut, Direktur Utama PT Solo Manufaktur Kreasi Eddy Wirajaya kembali menegaskan bahwa Esemka bukanlah mobil nasional seperti yang dipahami kebanyakan orang selama ini, melainkan murni dikelola oleh pihak swasta nasional. Lebih tepatnya, mobil ini adalah merek Indonesia dan karya anak bangsa.

Keberanian Esemka untuk memulai upaya pertama dalam pengembangan industri otomotif lokal tentunya sangat diapresiasi oleh Presiden Jokowi. Sebagai upaya awal, langkah Esemka diperkirakan tidak akan berjalan mudah.

Namun, sebagai anak bangsa, Jokowi mengatakan sudah selayaknya bagi kita untuk turut memberikan dukungan bagi usaha yang ditunjukkan oleh Esemka tersebut.

“Tidak mudah, tidak gampang, masuk pasarnya ini nanti juga tidak gampang dan tidak mudah. Tetapi kalau kita sebagai sebuah bangsa mau menghargai karya kita sendiri, brand dan principal kita sendiri, ini akan laku,” kata Presiden Jokowi saat meresmikan fasilitas produksi dan produk Esemka.

Di tahap awal ini, Esemka fokus pada kendaraan niaga jenis pick up yang diproyeksikan untuk mengangkut barang. Dua produk yang telah diluncurkan Esemka yaitu Bima 1.2 dengan kapasitas mesin 1.200 cc dan Bima 1.3 berkapasitas 1.300cc. Harga on the road (OTR) untuk model ini di kisaran Rp 110 juta.

Komponen Lokal

Saat ini kandungan mobil Esemka memang belum seluruhnya berasal dari dalam negeri. Ke depannya Presiden berharap seluruh kandungan mobil Esemka bisa dipenuhi dari dalam negeri, sehingga bisa memberikan multiplier effect yang semakin besar.
“Saya senang bahwa supplier komponen-komponen yang ada banyak sekali yang berasal dari dalam negeri.

Artinya local content-nya juga sudah baik, meskipun saya tahu pasti belum sampai ke angka 80 apalagi 100%. Tetapi sebagai sebuah usaha pertama dalam memulai industri otomotif dengan brand dan principal Indonesia, keberanian dari PT Solo Manufaktur Kreasi ini harus kita acungi jempol,” kata Jokowi.

Diungkapkan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, saat ini Tingkat Kandungan Dalam Negeri ( TKDN) dari komponen mobil Esemka mencapai 62 persen, sedangkan sisanya lagi masih menggunakan komponen dari luar negeri, misalnya untuk internal transmission.

Namun Airlangga mengatakan bahwa ke depannya TKDN dari Esemka akan terus ditingkatkan seiring waktu berjalan. “Sebagian komponen memang masih mengunakan komponen dari luar negeri karena volume (produksi) Esemka masih terbatas. Bila nanti volumenya meningkat, tentu TKDN-nya akan lebih besar lagi,” kata Airlangga Hartarto.

Airlangga menyampaikan, saat ini PT Solo Manufaktur Kreasi telah bekerja sama dengan lebih dari 30 industri penyedia komponen otomotif lokal dan sudah melakukan persiapan untuk produksi massal. Menperin juga memastikan peresmian pabrik ini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian, seperti membuka lapangan kerja baru.

“Pada tahap awal akan menyerap 300 tenaga kerja untuk satu shift. Kalau kapasitasnya nanti bertambah, tentu bertambah juga jumlah tenaga kerjanya. Ini untuk tenaga kerja lokal,” ungkap Airlangga.

Dalam proses produksinya, tegas Menperin, PT Solo Manufaktur Kreasi juga berkomitmen untuk mengoptimalkan penggunaan komponen lokal. Ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) bersama Perkumpulan Industri Kecil Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) pada Agustus 2019 lalu di Jakarta.

Adapun pemasok komponen lokal untuk produk Bima keluaran Esemka antara lain PT INKA sebagai pemasok sasis, tangki bahan bakar dan bagian bak. Komponen ban dipasok PT Gajah Tunggal, lalu grill dari PT IMS dan PT Santoso Cipta Dian Prima. Pemasok lainnya yaitu PT Nippress Energi Otomotif (Baterai/Aki),  PT Selamat Sempurna (Fuel Filter), PT Duta Nichrindo Pratama (Oil Filter ), PT Bando Indonesia (Belt), PT Usra Tampi (Dasbor dan Kemudi), PT Samudera Luas Paramacitra (Shockbreaker dan Per Daun), PT Anugerah Berkat Cahaya Abadi dan PT Dana Paint Indonesia (Cat), PT Tokyo Radiator Selamat Sempurna (Radiator), PT Yogya Presisi Tekuitama Industri (Emblem), PT Fuller Autoparts Indonesia (Starter Assy dan Alternator Assy), PT Indospring (Per Daun), PT Dasa Windo Agung (Head Lining), PT Cikarang Perkasa Manufacturing (Blok Mesin dan Blok Transmisi).

Selanjutnya adalah PT Armada Indah Agung Glass (Kaca), PT Inkoasku (Velg), PT ABC Bawen Karoseri (Jok), PT atur Karya Manunggal (Knalpot), Prasindo (Brake Shoes), PT Pertamina Lubricants (Pelumas), Ngawangga Mitra Mulia (Ferro Casting), Koperasi Batur Jaya (Drum Brake), dan UD. Adi Surya Gemilang (Engine Mounting).

Direktur Utama PT Solo Manufaktur Kreasi, Eddy Wirajaya berharap komponen lokal pada mobil-mobil Esemka akan terus bertambah di kemudian hari. “Kami baru memulai, dan tentunya berharap mendapatkan dukungan dari komponen-komponen lokal di Indonesia,” ujar Eddy.

TKDN Esemka Kalah dengan Merek Jepang

Dengan TKDN yang “baru” sekitar 62% ini, banyak kalangan yang kemudian membandingkan produk Esemka yang merupakan merek lokal dengan produk lain dari merek Jepang, misalnya untuk varian produk dari Toyota dan Daihatsu dengan TKDN yang sudah di atas 80%.

Namun, hal ini dilihat berbeda oleh pengamat otomotif Bebin Djuana. Menurut Bebin, TKDN 62% yang bisa dipenuhi oleh Esemka untuk model Bima sudah cukup baik untuk produsen otomotif yang masih terhitung baru seperti Esemka.

“Di tahap awal ini, sudah bagus karena Esemka sudah bisa merangkul industri pendukungnya di dalam negeri. Saya juga akhirnya memahami mengapa pengembangan mobil Esemka ini memakan waktu yang cukup lama. Setelah melihat TKDN-nya sampai 62%, ternyata ini hasil rintisan yang mereka lakukan selama ini. Tinggal mengembangkan mana lagi komponen mobil Esemka yang selanjutnya bisa dibuat di dalam negeri,” kata Bebin Djuana.

Membandingkan TKDN mobil Esemka dengan merek Jepang menurutnya juga kurang tepat. Merek Jepang sudah membangun industri otomotif di Indonesia sekitar 30 tahun dengan kapasitas produksi yang mencapai puluhan hingga ratusan ribu unit per tahun, sementara Esemka baru akan memulai produksi secara massal.

“Mereka (merek Jepang) itu sudah membangun industri selama 30 tahun, wajar saja kalau TKDN-nya tinggi. Justru kalau pertanyaannya ingin dibalik, mengapa sudah selama itu masih ada komponen yang bergantung pada luar negeri?” ujar Bebin.

Pilihan Esemka untuk memproduksi kendaraan niaga jenis pickup juga dinilainya sebagai langkah yang tepat. Apalagi saat ini permintaan masyarakat akan kendaraan komersial atau penumpang sudah semakin tinggi.

“Saya rasa langkah Esemka ini sudah tepat. Kalau memproduksi kendaraan penumpang, saat ini tuntutan konsumen sudah semakin tinggi dan complicated. Mau melakukan penyesuaian terhadap selera konsumen sudah cukup merepotkan. Sedangkan kendaraan niaga itu konsentrasinya adalah kehandalan, daya tahan, kemampuan daya angkut, dan hemat bahan bakar. Kalau poin-poin ini bisa dipenuhi oleh Bima, saya yakin ini bisa menjadi pintu masuk Esemka ke pasar otomotif di Indonesia,” kata Bebin.

Mirip Changan?

Selain komponen dalam negeri yang dipertanyakan, hal lainnya yang menjadi sorotan adalah terkait desain Bima yang disebut-sebut mirip dengan Changan Star Truck buatan Chongqing Tiongkok. Sebagian kalangan kemudian menuding kalau Bima hanya menjiplak merek Tiongkok, meskipun hal ini sudah dibantah keras oleh pihak Esemka.

Menperin menyebut adanya kemiripan desain dalam industri otomotif sebetulnya hal yang biasa di era multiplatform, di mana pabrikan otomotif saling bekerja sama. Ia kemudian mencontohkan mobil Fiat di Italia dengan mobil Seat di Spanyol yang juga punya kesamaan merek dan desain. Yang terpenting adalah mobil Esemka dibuat di dalam negeri dengan komponen lokal yang saat ini sudah mencapai lebih dari persen.

Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indoensia (Gaikindo), Kukuh Kumara. Menurutnya, konsep berbagi sasis, desain, mesin, dan teknologi (rebadged) adalah hal biasa dalam industri otomotif. Beberapa prinsipal dunia kerap melakukan hal ini dengan mitranya. Konsep rebadged muncul karena setiap pabrikan memiliki keunggulan masing-masing. Ada negara yang unggul dari sisi desain, sistem penggerak (powertrain), interior, dan lain-lain.

"Faktor-faktor ini yang memunculkan konsep rebadged. Jadi, satu model bisa dicontoh oleh merek lain, tergantung mau dipasarkan di negara mana yang ditentukan oleh pemiliknya," ujar Kukuh Kumara.

Kukuh juga menegaskan kalau Gaikindo mendukung penuh kehadiran Esemka yang merupakan merek lokal. Apalagi, rasio kepemilikan mobil dalam negeri masih rendah. Esemka menurutnya dapat melengkapi merek otomotif yang sudah lebih dahulu hadir di Indonesia dengan masuk ke ceruk pasar tertentu yang tidak dijamah pemain lama.

"Saya rasa poinnya adalah ayo kita kerja bersama untuk bangsa ini. Ada yang menawarkan alternatif baru, kenapa tidak kita dukung? Ini milik kita semua, sehingga kita upayakan bersama agar berhasil," ucap Kukuh.

Sementara itu menurut pihak PT Toyota Astra motor (TAM), hadirnya Esemka juga bisa menjadi hal yang positif untuk ikut menggairahkan pasar otomotif di Indonesia.

“Di satu sisi, kompetisinya memang akan semakin ramai. Tetapi di sisi lain, kehadiran Esemka ini juga bisa menggairahkan pasar otomotif dalam negeri. Di saat pasarnya semakin berkembang, Toyota juga bisa hadir di situ,” kata Marketing Diretor TAM, Anton Jimmy Suwandi.

Sebagai produsen otomotif, Menperin mengatakan PT Solo Manufaktur Kreasi telah memiliki Tanda Pendaftaran Tipe (TPT) yang telah diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian untuk enam jenis kendaraan roda empat. Empat di antaranya merupakan kendaraan komersial tipe pick up single cabin yang diberi nama Bima - Esemka, lalu satu tipe penumpang double cabin yang diberi nama Digdaya - Esemka dan satu tipe lagi kendaraan penumpang minivan dengan nama Borneo - Esemka.

Pada tahun pertama, PT Solo Manufaktur Kreasi akan memproduksi sebanyak 3.500 unit pick up Bima - Esemka dengan kapasitas produksi total sebesar 12.000 unit per tahun.

Sebagai principal otomotif nasional, saat ini PT Solo Manufaktur Kreasi telah memiliki fasilitas produksi yang telah siap beroperasi, antara lain lini pengecatan body, lini perakitan mobil type monocoque, type chassis, gasoline engine, diesel engine, transmisi dan axle. Kemudian, ada juga lini penyambungan transmisi motor diesel dan motor bensin, lini pengujian kendaraan statik atau elektronik, lini pengujian jalan, lini perbaikan kendaraan pascauji, area stock yard, show room dan fasilitas pendukung lainnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com