Menhub Minta UGM Riset Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik

Menhub Minta UGM Riset Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi (kedua kiri) kiri, bersama mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang memproduksi mobil Bimasakti. ( Foto: Beritasatu Photo )
Thresa Sandra Desfika / FER Sabtu, 21 September 2019 | 17:24 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, meminta Universitas Gajah Mada (UGM) mengembangkan riset daur ulang baterai kendaraan listrik. Pasalnya, baterai menjadi tantangan utama dalam mendorong penggunaan kendaraan listrik.

Budi menerangkan, beberapa kelemahan kendaraan listrik terkait baterainya ini, antara lain bobotnya yang berat, umurnya terbatas sekitar 5 tahun, mahal, dan limbah buangannya bisa mencemari lingkungan. Namun, Fakultas Teknik UGM saat ini sedang melakukan penelitian perihal daur ulang baterai kendaraan listrik. Karenanya, Menhub meminta, riset itu untuk terus dikembangkan.

"Saya melihat beberapa inovasi yang dilakukan Fakultas Teknik UGM. Saya melihat ide untuk melihat celah recycling baterai ini suatu telaah yang cerdas dan pandai. Karena yang namanya baterai selalu menjadi momok bagi mobil listrik," kata Budi Karya saat berada di Balairung UGM, Yogyakarta, Sabtu (21/9).

Apabila sudah membuahkan hasil riset yang memadai, lanjut Budi, maka model daur ulang itu dapat diimplementasikan melalui kerja sama dengan kalangan industri.

"Kalau menuju industri maka nilai ekonomisnya menjadi baik. Bahkan kami bersedia memberikan suatu link antara universitas dengan industri agar ada suatu kolaborasi dan kita bisa kerja sama dengan suatu merek (kendaraan listrik) tertentu tapi kita minta baterai kita digunakan," papar Menhub

Budi mengharapkan, riset yang dilakukan UGM ini bisa segera menelurkan hasil yang memuaskan sehingga nanti dapat diaplikasikan guna mendorong penggunaan kendaraan listrik secara lebih luas.

"Satu yang kita minta agar lebih cepat dan patenkan itu sehingga orang tidak menganggap ini paten dari negara lain. Yang selama ini masalah, kita justru bisa menyelesaikan masalah dan pasti kan itu barang bekas yang tidak ada nilai ekonomisnya tapi kita buat menjadi suatu barang yang punya nilai ekonomis," pungkas Budi Karya.



Sumber: BeritaSatu.com