Boeing Rampungkan Gugatan Lion Air, Setiap Korban Terima Rp 16,9 M

Boeing Rampungkan Gugatan Lion Air, Setiap Korban Terima Rp 16,9 M
Pesawat Boeing 737 MAX diparkir di lapangan parkir karyawan dekat Lapangan Boeing, Seattle, AS. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 26 September 2019 | 10:00 WIB

Chicago Beritasatu.com - Produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS), Boeing Co telah menyelesaikan klaim tahap pertama jatuhnya pesawat Lion Air 737 MAX di Indonesia. Sejumlah sumber yang mengetahui mengatakan keluarga yang tewas akan menerima masing-masing setidaknya US$ 1,2 juta (Rp 16,9 miliar).

Floyd Wisner dari kantor hukum Firner mengatakan pihaknya telah menyelesaikan 11 dari 17 klaim terhadap Boeing atas nama keluarga korban 737 MAX yang jatuh di Laut Jawa pada 29 Oktober 2018 tak lama setelah lepas landas, dan menewaskan semua penumpang atau 189 orang.

Sementara juru bicara Boeing, Gordon Johndroe menolak berkomentar.

Boeing Mulai Bayar Santunan Korban 737 MAX

Klaim yang mewakili satu korban, adalah pertama kali diselesaikan dari sekitar 55 tuntutan hukum terhadap Boeing di pengadilan federal AS di Chicago. Tiga sumber Reuters yang mengetahui mengatakan, hal itu juga dapat digunakan untuk menetapkan batasan pembicaraan mediasi oleh pengacara penggugat Lion Air lainnya yang dijadwalkan hingga bulan depan.

Wisner mengatakan pihaknya tidak bisa mengungkapkan jumlah nilai kesepakatan karena perjanjian kerahasiaan dengan Boeing. Tiga orang yang mengetahui masalah ini mengatakan keluarga korban Lion Air, yang hampir semuanya berasal dari Indonesia, masing-masing akan menerima setidaknya US$ 1,2 juta. Jumlah itu hanya untuk satu korban, tanpa tanggungan.

Nilai kompensasi juga bervariasi sesuai kebangsaan korban, usia, status perkawinan, pendapatan, tanggungan, dan usia harapan hidup. Para korban Lion Air sebagian besar berasal dari Indonesia.

Boieng juga menghadapi hampir 100 tuntutan hukum atas kecelakaan Ethiopian Airlines 737 MAX pada 10 Maret yang menewaskan 157 orang dalam perjalanan dari Addis Ababa ke Nairobi.

Tuntutan kedua kecelakaan pesawat itu menyoroti peran perangkat lunak otomatis MCAS yang mendorong hidung kedua pesawat lebih rendah. Mereka mengklaim bahwa keselahan desain memungkinkan data sensor memicu sistem otomatis dan menyebabkan pilot bingung.



Sumber: Reuters