Unilever Soroti Isu Regenerasi Petani

Unilever Soroti Isu Regenerasi Petani
Bango produksi PT Unilever Indonesia Tbk memperkenalkan “Program Petani Muda” sebagai upaya untuk mendorong regenerasi petani agar #KelezatanAsli kuliner Indonesia tetap terjaga dari generasi ke generasi. ( Foto: Investor Daily / Indah Handayani )
Indah Handayani / FMB Minggu, 29 September 2019 | 15:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dalam jangka waktu dua tahun (2016 – 2018), penurunan jumlah petani di Indonesia nyatanya cukup signifikan, yaitu sebanyak 4 juta petani, dimana salah satu penyebabnya adalah masih kurangnya regenerasi petani.

Untuk itu, Bango produksi PT Unilever Indonesia Tbk memperkenalkan “Program Petani Muda” sebagai upaya untuk mendorong regenerasi petani agar #KelezatanAsli kuliner Indonesia tetap terjaga dari generasi ke generasi. Seluruh pecinta kuliner juga dapat menunjukkan dukungan mereka terhadap program ini dengan bergabung dalam gerakan #PetaniUntukIndonesia yang disebarluaskan oleh Bango melalui kemasan khusus “Cita Mallika”.

Hernie Raharja selaku Director of Foods and Beverages PT Unilever Indonesia Tbk. menerangkan sebagai brand yang selalu berkomitmen untuk mengangkat dan mempopulerkan kuliner Indonesia, pihaknya melihat bahwa penerapan prinsip pertanian yang berkelanjutan, salah satunya melalui regenerasi petani, kini semakin dibutuhkan. Petani yang tidak teregenerasi dapat menyebabkan penyusutan lahan serta penurunan produktivitas maupun kualitas hasil pertanian.

"Jika bahan pangan yang berkualitas jumlahnya semakin terbatas, maka akan sulit pula bagi kita untuk terus menikmati dan melestarikan aneka kuliner khas Indonesia yang selalu kita banggakan," ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

MSih berdasarkan data BPS, sebanyak 65 persen dari jumlah petani di Indonesia kini berusia di atas 45 tahun, dengan produktivitas yang relatif rendah. Sementara di wilayah perdesaan, hanya sekitar 4 persen anak muda berusia 15-23 tahun yang tertarik bekerja menjadi petani, sisanya memilih bekerja di sektor industri, sektor industri kecil-menengah atau sektor informal kota, karena dipandang lebih potensial untuk menjamin kesejahteraan di masa depan.

Petrokimia Gresik: Sektor Pertanian Membutuhkan Tenaga Milenial

Sejak tahun 2001, Bango melalui Yayasan Unilever Indonesia bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada dan mitra lainnya telah mengembangkan komunitas petani kedelai Mallika melalui program “Program Pengembangan Petani Kedelai Hitam”.

Dalam prakteknya, 100 persen kedelai hitam lokal yang digunakan untuk memproduksi Kecap Bango telah memenuhi Unilever Sustainable Agriculture Code (USAC), yaitu standar cara bertani ramah lingkungan yang sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani binaannya, sejalan dengan salah satu pilar Unilever Sustainable Living Plan (USLP).

Lebih jauh lagi, guna mendorong regenerasi petani dan menjamin ketersediaan pasokan bahan pangan berkualitas dalam jangka panjang, Bango kini menggagas “Program Petani Muda” berkolaborasi dengan The Learning Farm Indonesia. Program ini secara bertahap akan memberikan pembinaan intensif bagi masing-masing 30 hingga 40 petani muda potensial tentang keterampilan hidup lewat pendidikan bercocok tanam yang memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan. Kesempatan yang langka ini juga akan membuka peluang bagi mereka untuk menjadi agen perubahan.

Nona Pooroe Utomo selaku Executive Director The Learning Farm Indonesia menjelaskan Bango dan ‘The Learning Farm’ bersama-sama mengembangkan kurikulum ‘Program Petani Muda’ untuk mendorong semangat, pengetahuan dan keterampilan generasi muda dalam melanjutkan regenerasi petani. Selama 100 hari, seluruh peserta akan mendapatkan 60 persen materi pertanian yang terbagi dalam empat kelompok besar yaitu tanah, budidaya tanaman-perikanan dan ternak, pemupukan dan pengendalian hama, serta analisa usaha tanam.

"Sedangkan 40 persen materi lainnya, berfokus pada pengembangan soft skills seperti manajemen waktu dan keuangan, entrepreneurship, healthy life style, Bahasa Inggris, komputer, dan komunikasi," paparnya.

Nantinya, lanjut Nona, pihaknya harap para peserta akan mampu menyebarluaskan ilmunya dan menginspirasi lebih banyak generasi muda di kampung halaman mereka untuk menjadikan bertani sebagai pilihan profesi yang menjanjikan.



Sumber: Investor Daily