Konsorsium Cardig Berpeluang Jadi Operator Bandara Komodo

Konsorsium Cardig Berpeluang Jadi Operator Bandara Komodo
Bandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. ( Foto: Antara )
Thresa Sandra Desfika / FER Jumat, 4 Oktober 2019 | 17:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) menyatakan konsorsium PT Cardig Aero Services Tbk, Changi Airport International PTE LTD, dan Changi Airports Mena PTE LTD terpilih sebagai satu-satunya entitas yang memasuki tahap 2 lelang kerja sama pemerintah badan usaha (KPBU) untuk proyek pengembangan dan pengoperasian Bandara Komodo, Labuan Bajo.

Adapun dalam lelang tahap 2 ini, Kemhub dan konsorsium tersebut melaksanakan dialog optimalisasi agar nantinya kerja sama untuk pengembangan dan pengoperasian Bandara Komodo dapat benar-benar terjalin dengan saling menguntungkan.

Baca Juga: Tahun 2020, Labuan Bajo Jadi Destinasi Wisata Premium

Kepala Seksi Kerja Sama dan Pengembangan Pengusahaan Bandar Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Arief Mustofa menjelaskan, Kemhub sudah membuka lelang KPBU pengembangan dan pengoperasian Bandara Komodo. Lelang tersebut dibagi dalam dua tahap.

Untuk tahap pertama, terdapat 5 konsorsium yang bersaing, termasuk konsorsium Cardig dan Changi. Dari kelima konsorsium, akhirnya tim lelang KPBU menilai konsorsium Cardig dan Changi yang kualifikasinya sesuai dengan yang dipersyaratkan dan berhak mengikuti lelang tahap 2. Dalam konsorsium itu, Cardig menguasai saham mencapai 80 persen.

"Jadi, saat ini sudah ada satu konsorsium yang berhasil lolos ke lelang tahap 2. Dalam lelang tahap 2 ini dilakukan dialog optimalisasi. Diharapkan akhir tahun ini sudah ada penetapan untuk pengumuman pemenangnya," ungkap Arief di Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Untuk diketahui, dialog optimalisasi adalah dialog antara panitia pengadaan dengan peserta lelang untuk mendiskusikan optimalisasi atas dokumen penawarannya dengan tujuan menghasilkan penawaran paling bermanfaat bagi penanggung jawab proyek kerja sama (PJPK) dengan memperhatikan nilai manfaat uang (value for money).

Baca Juga: Presiden Targetkan 4 Pariwisata Prioritas Rampung 2020

Arief menuturkan, apabila pemenang lelang sudah diumumkan pada akhir tahun ini, maka proses selanjutnya adalah pemenang lelang diberi kesempatan untuk mencari pendanaan agar tercapai financial close guna mendanai pengembangan dan pengoperasian Bandara Komodo. "Kemhub akan memberi waktu calon investor sekitar 9 bulan hingga 12 bulan untuk mencapai financial close," jelasnya.

Lebih jauh, ungkap Arief, konsorsium juga harus membentuk badan hukum Indonesia (BHI) untuk kemudian memproses perizinan badan usaha bandar udara (BUBU). Setelah resmi menjadi BUBU, barulah pemerintah dan BUBU baru tersebut akan mengadakan perjanjian kerja sama Bandara Komodo. Investor Bandara Komodo nantinya diwajibkan untuk mengembangkan dan mengoperasikan bandara yang dimaksud di mana mereka memperoleh hak pengelolaan dengan masa konsesi sekitar 25 tahun.

"Untuk pemerintah sendiri, akan mendapatkan biaya konsesi setiap tahunnya. Selain itu, pemerintah juga bisa menghemat APBN karena tak akan lagi mengeluarkan biaya operasional dan belanja modal selama pengelolaan dilakukan oleh badan usaha," tandas Arief.



Sumber: BeritaSatu.com