Sambut Industri 4.0, Lima Sektor Manufaktur Jadi Prioritas

Sambut Industri 4.0, Lima Sektor Manufaktur Jadi Prioritas
Sekretaris Jenderal Kemperin Achmad Sigit Dwiwahjono. ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 8 Oktober 2019 | 15:50 WIB

Padang, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemperin) fokus menggenjot kinerja lima sektor manufaktur menyambut era industri 4.0 sekaligus guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Kelima sektor tersebut, yaitu industri makanan dan minuman (mamin), tekstil dan pakaian, kimia, otomotif, serta elektronika.

“Sektor itu dipilih berdasarkan dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup kontribusi PDB (produk domestik bruto)," kata Sekretaris Jenderal Kemperin Achmad Sigit Dwiwahjono pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Padang, Selasa (8/10).

APBN 2020 Sudah Perhitungkan Tekanan Global

Achmad Sigit Dwiwahjono menjelaskan, lima sektor manufaktur yang menjadi andalan tersebut, dinilai mampu memberikan kontribusi signfikan hingga lebih dari 60 persen terhadap PDB, nilai ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. “Sehingga kalau kelima sektor ini kita garap bersama-sama, tentunya akan men-trigger pertumbuhan ekonomi lebih signifikan,” tutur Achmad Sigit Dwiwahjono.

Ketua OJK: Kewirausahaan Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Untuk industri makanan dan minuman, Achmad Sigit Dwiwahjono menjelaskan, dalam lima tahun terakhir kinerjanya konsisten positif melampaui pertumbuhan ekonomi. Sektor ini tumbuh rata-rata di atas 8 persen-9 persen. "Jadi, kalau makanan dan minuman ini kita tingkatkan lebih besar lagi melalui industri 4.0, tentu pertumbuhannya bisa double-digit,” ungkap Achmad Sigit Dwiwahjono.

Selama ini kata dia, industri makanan dan minuman berperan penting dalam peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri. “Hampir seluruh komponen bahan baku berasal dari dalam negeri. Apalagi, sektor ini didominasi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga bisa mewujudkan ekonomi yang inklusif,” imbuh Achmad Sigit Dwiwahjono.

Di sektor industri kimia, Achmad Sigit Dwiwahjono menjelaskan, sejak tahun 1998, belum ada investasi besar khususnya di industri petrokimia. Padahal, produksi sektor tersebut banyak dibutuhkan untuk memasok kebutuhan bagi sektor lainnya.

Dengan memprioritaskan industri kimia, dapat menghasilkan produk substitusi impor sehingga bisa menakan defisit neraca perdagangan. “Ada dua yang sudah masuk nilainya US$ 4 miliar (PT Chandra Asri Petrochmical Tbk) dan US$ 3 miliar. Kami punya komitmen impor sektor kimia bisa ditekan 50 persen pada 2023," kata Achmad Sigit Dwiwahjono.

Terkait industri tekstil dan pakaian, Sigit mengemukakan, sektor ini slaah satu yang tertua dilihat dari struktur manufaktur. Oleh sebab itu, diperlukan program restrukturisasi mesin produksi yang lebih modern sehingga dapat memacu produktivitas. “Potensi kita, industri tesktil dan pakaian ini sudah terintegrasi dari hulu sampai hilir. Kalau didorong dengan penerapan industri 4.0, kami optimistis bisa mengejar kapasitas produksi dari negara-negara kompetitor,” lanjut Achmad Sigit Dwiwahjono.

Di industri elektronika, Indonesia masih memerlukan investasi besar khususnya di sektor hulu, yang bisa menghasilkan berbagai komponen untuk memasok kebutuhan sektor-sektor lainnya seperti industri otomotif.

Sementara industri otomotif, Sekjen Kemenperin menilai kinerja sektor tersebut mulai bergerak naik signifikan dibanding 20 tahun lalu. Saat ini teknologinya mengarah pada aspek ramah lingkungan. Maka itu, pengembangan kendaraan listrik menjadi prioritas ke depannya. "Aturan PPnBM ke depan didasarkan pada emisi yang dikeluarkan. Kalau emisinya rendah, PPnBM-nya akan rendah,” jelas Achmad Sigit Dwiwahjono.

Sigit menegaskan, pemerintah telah menyusun langkah strategis untuk menggenjot kinerja lima sektor tersebut, yang tertuang di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Peta jalan ini diyakini akan dapat mewujudkan visi Indonesia menjadi negara 10 besar yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030.

Implementasi industri 4.0, akan mengoptimalkan potensi lainnya seperti penambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2 persen, peningkatan kontribusi terhadap PDB hingga 25 persen pada 2030, peningkatan net ekspor hingga 10 persen, serta mengisi kebutuhan tenaga kerja yang melek digital hingga 17 juta orang. "Dampak lebih lanjut mendorong peningkatan nilai tambah terhadap PDB nasional hingga US$ 150 miliar pada 2025,” papar Achmad Sigit Dwiwahjono.



Sumber: BeritaSatu.com