Kemperin: Industri Manufaktur Cukup Siap Menuju Era 4.0

Kemperin: Industri Manufaktur Cukup Siap Menuju Era 4.0
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemperin Ngakan Timur Antara. ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 8 Oktober 2019 | 19:05 WIB

Padang, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemperin) menyatakan, secara umum industri manufaktur Indonesia dalam posisi "cukup siap" menerapkan industri 4.0. Hal itu terlihat dari Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) atau indikator penilaian tingkat kesiapan perusahaan di Indonesia dalam mendukung percepatan adopsi industri 4.0.

"Berdasarkan hasil self asesmen INDI 4.0 pada delapan sektor manufaktur, hasilnya 2,14 poin atau cukup siap," kata Kepala Badan Penelitian Pengembangan Indonesia (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemperin) Ngakan Antara Timur dalam acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Padang, Selasa (8/10/2019).

BPPI kata Ngakan Antara Timur, telah melakukan assessment INDI 4.0 pada 326 perusahaan industri dari sektor industri makanan dan minuman, tekstil, kimia, otomotif, elektronika, logam, aneka, dan sektor engineering, procurement, and construction (EPC).

Penilaian INDI 4.0 menggunakan mekanisme self-assessment oleh perusahaan dengan mengukur lima pilar, yaitu manajemen dan organisasi, manusia dan budaya, produk dan layanan, teknologi, serta operasional pabrik.

Sebagai gambaran, rentang skor penilaian INDI 4.0 adalah dari level 0 (belum siap) yang artinya “belum siap” bertransformasi ke industri 4.0, kemudian level 1: industri masih pada tahap “kesiapan awal”, level 2: industri pada tahap “kesiapan sedang”, level 3: industri sudah pada tahap “kesiapan matang” dan level 4: industri “sudah menerapkan” sebagian besar konsep industri 4.0 di sistem produksinya.

Ngakan Antara Timur mengungkapkan, pemerintah juga berupaya membangun ekosistem industri 4.0 yang disebutu SINDI 4.0 (Ekosistem Indonesia 4.0) sebagai salah satu langkah strategis sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Guna mewujudkannya, diperlukan kolaborasi lintas sektor, di antaranya melibatkan pemerintah, akademisi dan riset dan pengembangan, pelaku industri, pelaku sektor keuangan, technical provider dan consultan group.

Untuk itu, menurut Ngakan, pelaksanaan riset, rekayasa engineering, pengajuan paten, sampai pada komersialisasi hasil riset harus dilakukan bersama-sama dengan seluruh pihak yang berkepentingan. "Melalui sinergi tersebut, diharapkan tujuan Making Indonesia 4.0, yakni menjadikan Indonesia berada di 10 besar ekonomi terkuat dunia tahun 2030 bisa tercapai,” kata Ngakan Timur Antara.

Kemenperin juga telah merumuskan pembentukan ekosistem industri 4.0. Ada lima poin manfaat ekosistem tersebut. Pertama, secara prinsip ekosistem industri 4.0 perlu dibentuk untuk proses akselerasi transformasi industri 4.0. Kedua, beberapa pihak dapat lebih saling berkolaborasi satu sama lain untuk mengakselerasi proses transformasi industri 4.0. Ketiga, mengenai demand dan supply antarpihak lebih dapat terhubung atau terkoneksi dengan adanya ekosistem industri 4.0. Selanjutnya, dapat memperbanyak expert lokal untuk mempercepat proses tranformasi industri sehingga lebih efektif dan efisien baik secara waktu maupun biaya. Kelima adalah pemerintah menginisiasi pembentukan ekosistem industri 4.0, dari hal-hal yang mudah dan dapat dikolaborasikan antar pihak dalam proses akselerasi transformasi industri 4.0.



Sumber: BeritaSatu.com