Minyak Jatuh karena Ketidakjelasan Kesepakatan Perdagangan AS-Tiongkok

Minyak Jatuh karena Ketidakjelasan Kesepakatan Perdagangan AS-Tiongkok
Ilustrasi minyak mentah ( Foto: EPA FOTO )
/ WBP Selasa, 15 Oktober 2019 | 08:39 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak jatuh sekitar dua persen pada akhir perdagangan Senin atau Selasa pagi WIB (15/10/2019), di tengah kekhawatiran permintaan minyak mentah global tetap di bawah tekanan. Kekhawatiran muncul karena beberapa rincian fase pertama kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok tidak banyak memastikan resolusi cepat. Harga minyak juga tertekan penguatan dolar AS karena memudarnya harapan kesepakatan perdagangan dan kekhawatiran berkelanjutan keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember jatuh US$ 1,16 atau 1,92 persen, menjadi US$ 59,35 per barel di London ICE Futures Exchange. Sementara minyak mentah berjanga West Texas Intermediate (WTI) pengiriman November turun US$ 1,11 atau 2,03 persen, menjadi US$ 53,59 per barel di New York Mercantile Exchange.

"Harga minyak sedang dalam proses melepaskan sebagian besar keuntungan perdagangan akhir pekan karena indikasi AS dan China mengenai kesepakatan perdagangan tidak jelas," kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates.

Pada Jumat (11/10/2019) malam, Washington dan Beijing menjabarkan tahap pertama kesepakatan perdagangan dan menangguhkan kenaikan tarif AS minggu ini. Dampaknya, Brent dan WTI naik lebih dari tiga persen minggu lalu, kenaikan mingguan pertama sejak minggu yang dimulai 20 September.

Tetapi optimisme negosiasi perdagangan memudar, karena Tiongkok mengindikasikan diperlukan diskusi lebih lanjut. Apalagi Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan tarif impor Tiongkok mulai berlaku pada 15 Desember jika kesepakatan belum tercapai saat itu.

Harga minyak telah menarik beberapa dukungan dari kekhawatiran eskalasi di sepanjang perbatasan Suriah dan Turki dapat mempengaruhi produksi atau ekspor dari Irak. Pasukan Suriah memasuki kota timur laut pada Senin (14/10/2019).

Menteri energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, mengatakan eksportir minyak menunjukkan komitmen serius terhadap pengurangan produksi global dalam kesepakatan antara OPEC dan sekutunya.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung untuk mengubah kesepakatan OPEC+.



Sumber: Reuters, Antara