10 Kemampuan Ini Harus Dimiliki Hadapi Revolusi Industri 4.0

10 Kemampuan Ini Harus Dimiliki Hadapi Revolusi Industri 4.0
Anggota Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Prof Zainal A. Hasibuan menjadi pembicara dalam diskusi yang digelar Wantiknas, di Jakarta, Jumat (18/10/2019) ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Jumat, 18 Oktober 2019 | 19:31 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Anggota Tim Pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Prof Zainal A. Hasibuan mengungkapkan, di era Industri 4.0, ada banyak pekerjaan yang hilang digantikan oleh mesin pintar. Pekerjaan yang hilang tersebut adalah yang sifatnya repetitif atau berulang-ulang.

Namun, di saat yang bersamaan, era Industri 4.0 juga turut melahirkan beragam peluang kerja baru. Tetapi tantangannya adalah apakah Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki Indonesia cukup kompeten untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baru tersebut.

“Memang akan ada pekerjaan yang hilang, tetapi banyak juga pekerjaan baru yang muncul. Pertanyaannya, bagaimana pekerjaan yang baru muncul ini harus kita grap, harus kita rangkul dan kita ciptakan ekosistemnya. Itulah yang sering kita katakan perlu adanya new skill. Ada keterampilan baru yang dituntut untuk dimiliki oleh SDM kita,” kata Zainal Hasibuan di acara diskusi yang digelar Wantiknas, di Jakarta, Jumat (18/10/2019).

Mengutip hasil riset dari World Economic Forum, Zainal memaparkan ada 10 kemampuan utama yang paling dibutuhkan di tahun 2020, yaitu bisa memecahkan masalah yang komplek (complex problem solving), berpikir kritis (critical thinking), kreatif (creativity), kemampuan memanage manusia (people management), bisa berkoordinasi dengan orang lain atau team-work (coordinating with others), memiliki kecerdasan emosional (emotional intelligence), memiliki kemampuan menilai dan mengambil keputusan (judgment and decision making), berorientasi pelayanan atau mengedepankan pelayanan (service orientation), memiliki kemampuan negosiasi (negotiation), serta memiliki fleksibilitas kognitif (cognitive flexibility).

“Cikal bakal dari skill yang paling dibutuhkan ini sebetulnya sudah ada, tetapi memang perlu dipertajam. Hanya saja, apakah sistem pendidikan kita mendukung tumbuh suburnya skill yang dibutuhkan ini? Yang saya khawatirkan, ini masih jauh panggang dari api,” imbuhnya.

Zainal mengungkapkan, industri 4.0 juga telah mengubah pola bisnis yang harus disikapi dengan serius oleh seluruh pihak. Misalnya, orang terkaya di bisnis ikan saat ini justru tidak memiliki ikan, sesuatu yang tidak mungkin terjadi di masa lalu.

“Dalam pelajaran entrepreneurship, saat ini yang diajarkan adalah cara-cara dagang tradisional. Padahal, pola berbisnis sudah berubah dan kegunaan sesuatunya juga sudah berubah. Cara bekerja pun sudah berubah, tidak ada lagi masalah tempat, waktu, semuanya terhubung. Sehingga cara belajarnya pun harus diubah untuk memenuhi kebutuhan di era industri 4.0,” kata Zainal.

Pertumbuhan ekonomi digital menurut Zainal juga belum dibarengi oleh ketersediaan ahli digital yang mumpuni. Beberapa perusahaan teknologi di Indonesia terpaksa harus mempekerjakan tenaga kerja asing. Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi di India. Studi Korn Ferry mengenai Global Talent Crunch memperkirakan pada 2030 mendatang, India bakal surplus tenaga kerja ahli digital sebanyak 245,3 juta orang. Sementara Indonesia diproyeksi kekurangan sekitar 18 juta tenaga ahli digital.

“Yang juga saya kritik, selama ini kita lebih banyak sebagai pengguna teknologi. Padahal ada porsi kita yang harusnya juga membuat teknologi. Masalahnya, kalau pun ada yang membuat, orang kita juga belum tentu mau menggunakannya. Jadi sebetulnya kata kuncinya adalah keberpihakan,” kata Zainal.



Sumber: BeritaSatu.com