Pacu Manufaktur, Ciptakan Produk Ekspor Berdaya Saing

Pacu Manufaktur, Ciptakan Produk Ekspor Berdaya Saing
Ilustrasi industri manufaktur ( Foto: SP )
Herman / MPA Minggu, 20 Oktober 2019 | 19:02 WIB


Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengungkapkan, ekspor dari Indonesia saat ini masih mengandalkan barang-barang komoditas. Padahal barang tersebut sangat rentan terhadap gejolak perubahan harga. Sehingga apabila ingin memperbaiki neraca perdagangan, Piter mengatakan Indonesia perlu melakukan perubahan struktur ekonomi agar tidak lagi bertumpu pada barang-barang komoditas.

“Kita harus mengubah struktur ekonomi kita, tidak lagi bertumpu pada barang komoditi seperti tambang, karet, dan sebagainya, tetapi kita harus menciptakan industri manufaktur baik hulu maupun hilir dengan memanfaatkan semua potensi yang kita punya, agar kita punya produk yang bisa diekspor dan berdaya saing. Selain itu, impornya juga harus dikurangi dengan cara membangun industri,” kata Piter Abdullah kepada Beritasatu.com, pekan lalu.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia menurutnya juga harus mengevaluasi kebijakan perdagangan internasional yang selama ini dijalankan. Pintu impor yang selama ini dibuka lebar-lebar harus berani dikoreksi sebagai upaya untuk menekan laju impor.

“Untuk membatasi impor, tentu industrinya juga harus dibangun. Bahan baku yang selama ini masih diimpor harus bisa kita sediakan dulu, sehingga tidak sampai mematikan industri dalam negeri. Karena itu, penting sekali untuk memetakan kebutuhan industri kita,” ujar Piter.

Namun, pembatasan impor ini menurutnya harus berdasarkan kajian. Untuk bahan baku impor yang memang bertujuan mendorong industri dalam negeri, bea masuknya justru diusulkan untuk diturunkan. “Misalnya saja untuk industri kakao. Pemikiran kita adalah industri kakao kita saat ini masih kekurangan bahan baku. Produksi biji kakao kita masih kurang dan tidak cukup menyerap kapasitas industri pengolahan kakao. Sehingga bea masuknya perlu diturunkan agar impor biji kakao bisa lancar. Jadi, ada kalanya kita harus menutup keran impor, ada kalanya kita juga perlu membuka keran impor, tetapi semua ini harus didasarkan pada kajian,” tegasnya.

Piter juga menyayangkan pemerintahan Jokowi periode pertama tidak memiliki strategi untuk menghambat penurunan pertumbuhan sektor industri. Pada akhirnya sektor inilah yang membuat neraca perdagangan Indonesia terus mengalami defisit.

“Ini memang sangat disayangkan. Sektor industri manufaktur di jaman Pak Jokowi turun. Tetapi tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada Pak Jokowi karena proses penurunannya itu sudah berlangsung sekitar 10 tahunan yang lalu. Saat itu kontribusi dari sektor industri manufaktur sudah turun. Sayangnya pada periode Pak Jokowi, saya melihat tidak ada upaya untuk mengurangi laju penurunan itu. Pertumbuhan industri kita sekarang bahkan di bawah 5%, itu kan kecil sekali. Seharusnya seperti di negara-negara lain, pertumbuhan industrinya bisa sampai 20 persen. Kita juga pernah mengalami itu, jadi sangat disayangkan. Tidak menganggap ini sesuatu yang penting, padahal ini sangat penting,” kata Piter.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Menurutnya, revitalisasi industri manufaktur harus dilakukan untuk mereformasi struktur ekonomi menjadi lebih kompetitif.Sehingga ke depannya porsi ekspor industri manufaktur bisa semakin besar.

"Kita harus membenahi dari sisi daya saing ekspor manufaktur. Saat ini sebagian besar ekspor kita masih di komoditas, padahal negara-negara tetangga yang berkembang lainnya sudah semakin besar porsi ekspor industri manufakturnya. Sehingga kinerja perdagangan mereka menjadi lebih kuat. Pembenahan ini yang harus dilakukan di industri manufaktur dalam negeri, supaya punya daya saing dan berorientasi ekspor," kata Faisal.



Sumber: BeritaSatu.com