Kasus Stunting di Indonesia Masih Tinggi

Kasus Stunting di Indonesia Masih Tinggi
Sebaran stunting di Indonesia ( Foto: Suara Pembaruan )
Vento Saudale / WBP Senin, 21 Oktober 2019 | 19:31 WIB

Bogor, Beritasatu.com-Kasus stunting atau gagal tumbuh pada anak balita di Indonesia masih tinggi dan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus tertinggi di Asia. Berdasarkan data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Sementara target WHO, angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

“Angka 30,8 persen itu tinggi. Pemerintah sendiri menargetkan untuk menurunkan hingga di bawah 20 persen, itu perlu upaya yang lebih keras. Kalau enggak bersama-sama mungkin akan kewalahan,” ujar Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih di sela Penyuluhan Kesehatan tentang Stunting dan Kesehatan Reproduksi Remaja IDI di Taman Ekspresi Kota Bogor, Minggu, (20/10/2019).

Menurut Faqih, ada dua penyebab kasus stunting di Indonesia tinggi. Pertama, pola asuh orangtua yang salah mengenai asupan gizi. Kedua, kondisi perekonomian orangtua yang masuk dalam kategori miskin. Saat ini, kasus stunting sendiri paling banyak dijumpai di wilayah Indonesia bagian timur. “Artinya stunting itu masalah SDM Indonesia, kalau angka stunting tinggi, kita mewariskan generasi muda yang menjadi beban, bukan yang membangun bangsa,” ucap Daeng M Faqih.

Dalam menekan angka stunting, IDI mendorong pemerintah lebih gencar mengintervensi pola asuh asupan gizi orangtua kepada anak. Selain itu, intervensi kepada anak yang tumbuh remaja, saat akan menikah, dan akan melahirkan juga perlu dilakukan. Jika memang anak terindikasi stunting, orangtua perlu segera berobat ke pelayanan kesehatan terdekat agar stunting anak tidak berlarut-larut.

“Pola asuh itu penting, di situlah makna srategisnya. Upaya pencegahan sebenarnya yang paling murah. Kalau sudah lahir stunting susah sekali menanganinya,” ujar Daeng M Faqih.



Sumber: BeritaSatu.com