Peluang Penemuan Giant Discovery di Wilayah Jabanusa

Peluang Penemuan Giant Discovery di Wilayah Jabanusa
Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa Bapak Nurwahidi ( Foto: SKK Migas / IST )
Jayanty Nada Shofa / JNS Senin, 21 Oktober 2019 | 20:58 WIB

Peran Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) yang bekerja di bawah pengendalian dan pengawasan SKK Migas Jabanusa dalam memenuhi kebutuhan energi nasional kian penting. KKKS yang bekerja di wilayah Jawa, Bali & Nusa Tenggara (Jabanusa) khususnya di wilayah Jawa Timur, kini memasok sekitar 30 persen produksi minyak dan 10 persen untuk produksi gas nasional. Rata-rata produksi KKKS di wilayah Jabanusa untuk minyak tercatat antara 260.000 - 265.000 barrels of oil per day (BOPD), sedangkan gas antara 630 - 730 million standard cubic feet per day (MMSCFD).

Keberhasilan KKKS Jabanusa menjadi tulang punggung produksi migas nasional tidak lepas dari produksi Lapangan Banyu Urip yang masuk wilayah Blok Cepu. Lapangan yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited itu mampu memproduksi 220.000 BOPD. Angka ini melampaui estimasi awal puncak produksi Lapangan Banyu Urip yakni kisaran 165.000 BOPD. Besarnya produksi ini tidak lepas dari keberanian ExxonMobil dan Pertamina untuk melanjutkan program eksplorasi lapisan dalam yang dicanangkan oleh Humpuss sebelum terbelit krisis ekonomi 1997.

Begitu membeli hak eksplorasi Blok Cepu, ExxonMobil langsung melakukan pemetaan bawah permukaan lewat seismik 3-D. Hasilnya, pada 2001, Mobil Cepu LTD - anak perusahaan dari ExxonMobil yang bekerjasama dengan Pertamina, menemukan cadangan minyak mentah dengan kandungan 450 juta barel di lapangan Banyu Urip. Setelah dihitung ulang di tahun 2019, cadangan minyak ini meningkat menjadi 823 juta barel atau sekitar 80% dari saat POD awal (2006). Ini merupakan penemuan sumber minyak paling signifikan dalam dekade terakhir.

Adapun giant discovery ini di wilayah Jabanusa, khususnya di Blok Cepu, sangat menarik perhatian. Pertama, kawasan itu sejatinya telah dieksplorasi dan dieksploitasi sejak 1870 (atau sekitar 150 tahun silam), sehingga menguatkan keyakinan bahwa potensi migas di wilayah Jabanusa, khususnya di Jawa Timur, masih relatif besar. Kedua, keberhasilan ExxonMobil dalam giant discoverynya di Lapangan Banyu Urip lewat penggarapan lapisan bawah permukaan membangkitkan harapan adanya penemuan berskala besar serupa di wilayah Jabanusa. Hal itu dimungkinkan karena sebagian besar lapangan-lapangan migas di Indonesia, termasuk di wilayah Jabanusa, baru dieksploitasi pada lapisan dangkal.

Tak heran, meski tidak termasuk 10 wilayah yang menjadi prioritas untuk giant discovery, KKKS bersemangat mendukung program road to giant discovery yang dicanangkan oleh pemerintah.

Semangat mendukung program ini bukan semata-mata karena keyakinan wilayah Jabanusa masih memiliki potensi besar ataupun peluang menemukan kandungan migas dalam volume signifikan. Namun, semangat ini juga sebagai bagian dari kesadaran bahwa produksi migas akan mengalami penurunan alamiah setelah mencapai puncak produksi.

Penurunan alamiah produksi sebuah lapangan migas bisa sangat bervariasi; tergantung pada kandungan migas yang ada di reservoir. Bila penurunan produksi alamiah sebesar 5% tiap bulannya, dalam satu tahun, produksi dapat menurun hingga 60%.

Untuk menahan laju penurunan alamiah itu, hanya terdapat satu pilihan yakni semua pengelola lapangan migas harus meningkatkan produksi. Meski mungkin tidak dapat menambah volume produksi harian, tambahan produksi ini setidaknya dapat menahan laju penurunan produksi alamiah. Penurunan produksi yang semestinya 60% per tahun dapat ditekan menjadi 20% per tahun.

Terdapat berbagai cara untuk menambah produksi untuk menahan laju penurunan produksi alamiah. Langkah paling sederhana adalah melakukan perawatan sumur, mengebor sumur pengembangan ataupun sumur baru hingga membuka lapangan baru di blok yang digarap. Namun, semua kegiatan ini harus disertai dengan upaya menambahkan cadangan baru melalui kegiatan eksplorasi. Pada titik seperti ini, kegiatan seismik dan pengeboran untuk memastikan kandungan migas disertai nilai ekonomis untuk dieksploitasi menjadi kunci penting.

Dalam konteks wilayah Jabanusa yang saat ini berperan sebagai tulang punggung produksi migas nasional, tentulah tanggung jawabnya bukan sekadar menghambat atau mencegah penurunan alamiah produksi migas. Namun, tanggung jawabnya juga meliputi cara untuk meningkatkan kontribusi bagi ketahanan energi nasional. Karena itu, tanpa mengecilkan arti penting perawatan sumur ataupun pengeboran sumur pengembangan, semangat untuk menemukan cadangan baru dalam skala giant discovery harus terus dikobarkan.

Menurut peneliti migas Arif Gunawan, masih terdapat peluang penemuan kandungan migas berskala giant discovery di wilayah Jabanusa, termasuk di Jawa Timur. "Di wilayah Jabanusa yang meliputi North East Java Basin, masih terdapat banyak yang memiliki area potensial yang belum dieksplorasi." kata alumnus ITS ini. Untuk mewujudkan hal ini, Arif menyatakan dibutuhkannya data serta aplikasi teknologi baru melalui kegiatan eksplorasi. "Potensinya ada. Tinggal dipadukan dengan pemanfaatan teknologi baru dalam kegiatan eksplorasi. Kalau sudah ada data-data baru, peluang giant discovery akan lebih terbuka.", kata peneliti muda asal Sidoarjo ini.

Arif tidak berlebihan karena di luar KKKS yang sudah memproduksi migas (seperti Kangean Kangean Energi Indonesia (KEI), Santos, Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore, Petronas Cari Gali Ketapang, Pertamina EP Asset 4, Pertamina EP Cepu, ExxonMobil Cepu Limited, Husky CNOOC Madura Limited, PGN Sakka, Cammar dan Lapindo Brantas), masih ada lebih dari 10 KKKS yang masih pada tahap eksplorasi di wilayah Jabanusa.

Melihat besarnya manfaat penemuan cadangan migas baru, Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa Nurwahidi menegaskan, "SKK Migas berkomitmen mendukung KKKS dalam mendapatkan lapangan eksplorasi dengan cadangan minyak dan gas besar."

Pacu Produksi

Untuk menemukan cadangan baru dengan skala giant discovery tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Beberapa kisah kegagalan kegitan eksplorasi juga terjadi di wilayah Jabanusa. Namun, sebagai pelaku industri hulu migas, semua KKKS sadar bahwa bisnis yang membutuhkan teknologi tinggi dan modal besar ini juga punya risiko kegagalan yang tinggi. Karena itu, meskipun terdapat risiko, SKK Migas Jabanusa mampu mendorong KKKS Jabanusa untuk terus menemukan cadangan baru dan memacu produksi lewat pengeboran sumur-sumur baru ataupun pengembangan hingga perawatan sumur.

Merujuk pada paparan Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa Nurwahidi, kini ExxonMobil Cepu Limited di Bojonegoro mulai mengembangkan satu lapangan Kedung Kris dengan potensi 10.000 BOPD yang rencananya produksi pada akhir 2019. PT Pertamina EP Cepu (PEPC) di Bojonegoro juga sedang mengembangkan fasilitas produksi untuk gas di Jambaran Tiung Biru. Ini nantinya akan memenuhi kebutuhan domestik di daerah Jatim yang tercatat sebesar 170-190 MMSCDF.

Di Sumenep, Madura, PT EML (Energi Mineral Langgeng) berhasil melakukan discovery dua sumur eksplorasi di darat dan berpotensi dikembangkan. Sementara, Husky-CNOOC Madura Limited akan mengebor tujuh sumur gas dengan target berlangsung pada kuartal ketiga tahun 2020.

Kangean Energy Indonesia Ltd (KEI) sudah berhasil melaksanakan penyaluran gas lapangan Terang, Sirasun dan Batur (TSB) 2 yang berlangsung pada kuartal pertama tahun 2019 dan tambahan produksi sebesar 200 MMSCFD. "KEI juga berencana melakukan seismik 3-D di Lapangan Sagentoh tahun ini.", terang Nurwahidi.

Selanjutnya, Santos (Madura Offshore) Pty Ltd di lapangan Meliwis telah berprogres dengan detailed engineering yang telah mencapai 100 persen dan kini sedang dalam tahap proses pembahasan Gas Sales Agreement (GSA). Santos (Sampang) di lapangan Paus Biru telah selesai mengebor eksplorasi dan mengajukan POD1.

Selain itu, Saka Energi Indonesia atau SAKA akan mengebor lapangan West Pangkah setelah selesainya pengeboran satu sumur eksplorasi.

Terakhir, PHE WMO berada dalam tahap pengeboran sumur eksplorasi PHE 2 – 3. Yang terbaru, pada akhir bulan Agustus 2019, PHE Tuban East Java melakukan seismik 3-D.

Semua proyek di atas, baik dalam jangka pendek ataupun menengah, tentu sangat berarti untuk dapat melawan penurunan produksi alamiah serta tetap menempatkan wilayah Jabanusa, khususnya Jawa Timur, sebagai tulang punggung produksi migas nasional. Namun, apabila ingin mempertahankan peran besar dalam penurunan alamiah ini, KKKS di wilayah Jabanusa tetap harus bekerja lebih keras lagi dalam upayanya menemukan kandungan migas berskala giant discovery.

Seperti yang kita ketahui, produksi migas nasional yang beberapa tahun silam dapat mencapai 1,5 juta BOPD, kini sudah berada di bawah 800.000 BOPD. Padahal, konsumsi energi minyak bumi nasional justru meningkat dari kisaran 1,5 juta BOPD ke arah 1,6 juta BOPD. Dengan ini, tercatat adanya defisit energi sekitar 50%. Jika penurunan alamiah minyak bumi ini tidak dapat dihentikan, maka defisit energi nasional akan kian membesar.

Hal di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya kerja keras SKK Migas Jabanusa dan KKKS dalam ditemukannya cadangan berskala giant discovery untuk mencegah terus membengkaknya defisit energi nasional. Oleh karena itu, perlunya dukungan dari semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah yang sebenarnya paling berkepentingan terhadap ketahanan energi nasional.

Melihat potensi dan kebutuhan untuk bisa terus berkontribusi maksimal terhadap ketahanan energi nasional ini, Nurwahidi menegaskan, SKK Migas dan KKKS Jabanusa untuk mengajak semua pihak dan stakeholder utama hulu migas di Jatim bersinergi dan berkolaborasi bersama dalam menjaga iklim investasi hulu migas, sehingga dapat menarik perhatian investor.

"Jika ada investor hulu migas, minimal ada dua hal yang dapat tercapai: pemenuhan target produksi migas nasional dan efek multiplier di bidang ekonomi lokal yang kian meningkat." tandasnya. Ia juga menjelaskan efek multiplier yang dihasilkan di sektor migas dari hulu ke hilir sangat besar. Selain membuka lapangan kerja, kehadiran industri migas juga memberdayakan ekonomi melalui pengusaha lokal. Tak hanya itu, sektor perhotelan dan pariwisata di wilayah operasi migas juga ikut menikmati.

“SKK Migas saat ini berperan sebagai lokomotif pendorong ekonomi nasional." kata alumnus ITS ini.

Jika semua sepakat, ketersediaan energi menjadi prasyarat penting bagi bangsa dan negara Indonesia untuk bisa terus tumbuh dan berkembang, sehingga semua pemangku kepentingan wajib mendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi industri hulu migas. Dalam konteks Indonesia yang telah menjadi net importir minyak bumi, memang tidak ada pilihan kecuali menggenjot kembali kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.



Sumber: BeritaSatu.com