Ekonomi Stagnan 5%, Indonesia Berisiko Tua Sebelum Kaya

Ekonomi Stagnan 5%, Indonesia Berisiko Tua Sebelum Kaya
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi nasional. ( Foto: Antara )
Herman / WBP Senin, 21 Oktober 2019 | 20:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom senior Faisal Basri bersama Haris Munandar meluncurkan buku berjudul Menuju Indonesia Emas. Buku ini membahas sejarah perjalanan ekonomi Indonesia sejak merdeka hingga sekarang. Faisal dan Haris juga mengidentifikasi faktor-faktor utama yang mengadang gerak maju Indonesia dan solusi mengatasi tantangan tersebut.

“Buku ini menampilkan beberapa keberhasilan Pemerintahan Jokowi, dan juga faktor-faktor apa yang menghambat pertumbuhan ekonomi serta bagaimana mengatasinya,” kata Faisal Basri saat acara peluncuran buku tersebut, di Jakarta, Senin (21/10/2019).

Mengomentari isi buku tersebut, ekonom Universitas Indonesia, Chatib Basri mengatakan buku Menuju Indonesia Emas ini hadir di saat yang tepat karena bisa menggambarkan kondisi perekonomian yang dihadapi Indonesia saat ini. Salah satunya terkait pertumbuhan ekonomi yang masih stagnan di angka sekitar 5 persen.

“Salah satu pertanyaan besar yang kita hadapi adalah mengapa pertumbuhan ekonomi kita stagnan di angka 5 persenan dalam waktu lima tahun terakhir. Selama ini argumen yang selalu dipakai bahwa pertumbuhan 5 persen ini bagus bila dibandingkan dengan negara lain. Ini memang tidak salah. Tetapi buku ini mengingatkan kalau Indonesia begini terus, kita punya risiko menjadi tua sebelum kaya. Dan kondisi ini bisa membuat kita celaka,” kata Chatib Basri.

Dalam buku ini dijabarkan, seperempat abad lagi Indonesia akan merayakan 100 tahun kemerdekaan, yang diwarnai oleh beberapa kali kemunduran dan sempat terjerembab ke jurang krisis kecil, medium maupun besar. Indonesia butuh waktu 58 tahun untuk keluar dari kelompok negara berpendapatan rendah (low income country). Baru pada tahun 2003 Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income). Negara-negara tetangga yang memulai pembangunannya setelah meraih kemerdekaan yang hampir bersamaan dengan Indonesia banyak yang lebih dulu melesat. Korea Selatan dan Singapura sudah meraih status negara berpendapatan tinggi (high income). Sementara itu, Malaysia telah masuk ke kelompok negara berpendapatan menengah atas (upper middle income), sedangkan Thailand dan Filipina mendahului Indonesia keluar dari kelompok negara berpendapatan rendah.

Chatib Bari menambahkan, buku ini mengingatkan bahwa kita tidak boleh hanya puas dengan yang sudah dicapai saat ini. Pasalnya, ada masalah besar yang harus dibenahi dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi untuk bisa keluar dari middle income trap. Ibarat tubuh, ada masalah di bagian jantung yang merupakan cerminan dari sektor keuangan. Tulang punggung juga tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan, dalam hal ini adalah sektor industri. “Untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi minimal 7 persen, konsolidasi sektor keuangan harus terus dijaga. Industrialisasinya harus terus dijaga, kemudian persoalan energi juga harus diselesaikan,” ujar Chatib Basri.

Meningkatkan produktivitas menurutnya jadi pekerjaan yang harus diselesaikan pemerintah. Chatib Basri mencontohkan ekonomi masyarakat di perbatasan Meksiko-Amerika Serikat dan Korea Selatan-Korea Utara yang berbeda capaiannya karena faktor produktivitas dan kebijakan, meskipun kultur masyarakatnya sama. “Tanpa produktifitas yang tinggi, meskipun investasinya besar-besaran, ekonomi kita tidak akan bisa tumbuh tinggi. Jadi produktivitasnya harus terus dipacu untuk lebih tinggi dan industrialisasinya dijalankan,” kata Chatib Basri.



Sumber: BeritaSatu.com