Setelah Satria, BAKTI Siapkan Dua Satelit Baru

Setelah Satria, BAKTI Siapkan Dua Satelit Baru
Direktur Utama BAKTI, Anang Latief ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Senin, 28 Oktober 2019 | 17:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah menyelesaikan pembangunan proyek Palapa Ring, pemerintah melalui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) tengah menyiapkan pembangunan Satria (Satelit Indonesia Raya) dengan teknologi high-throughput satelit (HTS) atau satelit dengan karakteristik internet berkecepatan tinggi.

Baca Juga: BAKTI Cari Solusi Pembiayaan 4.000 BTS

Upaya ini dilakukan agar 150.000 titik di daerah pelosok yang tidak terjangkau kabel serat optik dalam proyek Palapa Ring bisa ikut menikmati internet berkecepatan tinggi, mulai dari sekolah, kantor desa, puskesmas, hingga rumah sakit.

Direktur Utama BAKTI, Anang Latief mengungkapkan, Satelit Satria nantinya akan memiliki kapasitas total 150 Gbps untuk menyalurkan internet di 150.000 titik, di mana setiap titik akan mendapatkan sekitar 10 Mbps. Jumlah tersebut menurutnya masih kurang untuk mendukung kegiatan di ribuan sarana pendidikan, kesehatan, hingga pemerintahan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Minimal yang dibutuhkan untuk masing-masing titik sekitar 30 Mbps.

Karenanya, menurut Anang, perlu adanya satelit kedua dan ketiga setelah Satria mengorbit untuk menambah kapasitas internet di masing-masing titik. Untuk satelit kedua, akan didesain dengan kapasitas 200 Gbps. Sedangkan satelit ketiga 500 Gbps.

"Dengan adanya satelit kedua dan ketiga, titik yang dilayani sebetulnya tidak bertambah, tetap 150.000 titik. Hanya saja kapasitasnya akan meningkat dari hanya 10 Mbps menjadi 30 Mbps. Sebab, kedepannya penggunaan aplikasi butuh bandiwidth yang besar minimal 30 Mbps,” kata Anang Latief di gedung Kemkominfo, Jakarta Senin (28/10/2019).

Baca Juga: Satelit Satria Dorong Perekonomian Nasional

Rencana penambahan satelit ini, menurut Anang, sudah didiskusikan kepada Menkominfo, Johnny G Plate. Namun, untuk teknisnya harus dibicarakan kepada Kementerian Keuangan (Kemkeu). Sebab, dana universal service obligation (USO) yang saat ini dikelola BAKTI tidak cukup untuk membangun satelit kedua dan ketiga. Dana USO ini disetor oleh operator telekomunikasi sebesar 1,25 persen dari pendapatan kotor per tahun.

"Kita harus berkoordinasi lagi dengan Kementerian Keuangan karena ini terkait dengan kebutuhan dananya. Harapannya sih tidak sampai menaikkan besaran dana USO yang akan memberatkan operator. Masih ada model lain yang bisa dimanfaatkan, dan ini perlu diskusi dengan Kementerian keuangan,” kata Anang.

Untuk Satelit Satria, Anang mengatakan, saat ini sudah dalam proses untuk menuju financial close antara pihak PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) selaku pemenang tender dengan pihak lender. Targetnya pada akhir 2022, satelit ini sudah bisa diluncurkan.

Baca Juga: Konstruksi Satelit Satria Dimulai Akhir 2019

Sambil menunggu Satelit Satria beroperasi, pemerintah akan menyewa lima satelit untuk mencukupi kebutuhan internet di 150.000 titik di daerah pelosok yang tidak terjangkau kabel serat optik dalam proyek Palapa Ring, yaitu Satelit Nusantara Satu milik PSN dan empat satelit asing.

Di samping itu, hingga akhir 2020 pemerintah juga akan menggeber pembangunan 4.000 base transceiver station (BTS) BAKTI Sinyal di daerah 3T yang selama ini tidak dilirik operator telekomunikasi karena alasan bisnis. "Untuk target 4.000 BTS, sebanyak 500 BTS akan kami selesaikan sampai akhir tahun ini,” ujar Anang.



Sumber: BeritaSatu.com