Kadin: Industri Tekstil dan Ban Diuntungkan dengan Perang Dagang

Kadin: Industri Tekstil dan Ban Diuntungkan dengan Perang Dagang
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (Antara/Sigid Kurniawan) ( Foto: Antara )
Triyan Pangastuti / WBP Selasa, 29 Oktober 2019 | 13:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia menilai dinamika perekonomian dunia telah mengganggu ekonomi domestik. Kendati demikian dunia usaha masih optimistis untuk memanfaatkan kesempatan menyusul dukungan moneter dan fiskal.

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan perang dagang global diprediksi masih akan berlangsung panjang. Oleh karena itu, Indonesia harus bisa beradaptasi pada pertumbuhan 5 persen. Namun tegas Rosan P Roeslani, dampak perang dagang Amerika Serikat (AS)- Tiongkok tak selamanya buruk bagi industri dalam negeri. Pasalnya, ada beberapa sektor yang bisa mendapat keuntungan seperti tekstil, garmen, hingga ban.

“Dua partner dagang terbesar ini, AS dan Tiongkok, otomatis turun dengan Indonesia akibat perang dagang. Tapi tidak semua jelek, ketika saya bicara dengan asosiasi tekstil, mereka bilang kalau tahun depan ekspor garmen ke AS bakal naik 20 sampai 25 persen,” kata Rosan P Roeslani, dalam diskusi Economic& Capital Market Outlook 2019 di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Kadin Sebut Dampak Tekanan Global ke RI Minim

Rosan P Roeslani mengungkapkan, peningkatan ekspor terjadi lantaran AS dan Indonesia sepakat menerapkan sistem fair trade dan resiprokal. Ekspor garmen Indonesia ke AS akan dibebaskan tarif masuk. Sehingga ia optimistis produk tekstil dan garmen nasional akan meningkat.

Risiko Kredit Tinggi Masih Hantui Perbankan

Di samping itu, bauran kebijakan moneter juga telah membantu dunia usaha bisa berkembang di tengah ketidakpastian global di antaranya melonggarkan kebijakan makroproduensial dan menurunkan suku bunga acuan. “Di tengah perang dagang, Indonesia harus melihat kesempatan BI, harus saya akui dan apresiasi, kebijakan baruan kebijakan menolong dunia usaha untuk terus berkembang, suku bunga diturunkan hingga 5 persen, berharap cost of fund turun,” jelas Rosan P Roeslani.

Meski suku bunga acuan sudah diturunkan sebanyak 100 bps menjadi 5 persen, namun tidak serta merta langsung menurunkan suku bunga kredit. Pasalnya bank membutuhkan waktu 3 hingga 6 bulan untuk melakukan penyesuaian.

Dengan demikian, kata dia, saat ini pertumbuhan ekonomi nasional hanya mengandalkan permintaan domestik yakni konsumsi rumah tangga yang memiliki kontribusi 55 persen dari total pertumbuhan ekonomi. Kedua, investasi dan ketiga pengeluaran pemerintah. “Untuk investasi dan ekspor masih sulit. Investasi gak gampang, kita bersaing dengan negara lain yang keep performing. Hal ini sejalan dengan hasil laporan Bank Dunia yang mencatat 33 perusahaan dari Tiongkok keluar, namun tidak satu pun masuk ke Indonesia," kata Rosan P Roeslani.

Ia menilai investasi di Indonesia masih memiliki beberapa masalah seperti UU Ketenagakerjaan, produktivitas dan global value chain. Oleh karena itu, saat ini pemerintah harus menjaga daya beli masyarakat sebagai penopang pertumbuhan ekonomi. “Tapi yang perlu dijaga daya beli jika ingin menjaga pertumbuhan 5 persen, kita boleh optimistis tapi harus realistis. Kita capai 5 persen sudah sangat baik di tengah tekanan dunia,” jelas Rosan P Roeslani.

Sebagai gambaran, beberapa lembaga internasional sudah merevisi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,4 persen sampai ke 2,6 persen. Sejalan dengan itu, pertumbuhan ekonomi domestik juga dikoreksi menjadi 5 persen.



Sumber: Investor Daily