Keberadaan Perguruan Tinggi Tekstil Pengaruhi Industri TPT


Keberadaan Perguruan Tinggi Tekstil Pengaruhi Industri TPT
Direktur Program INDEF Esther Sri Astuti bersama dengan Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Suharno Rusdi (kanan), dan Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) Kemeterian Keuangan RI Hidayat Amir (kiri) menjadi narasumber Diskusi Publik: Upaya Penyelamatan Industri Tekstil Indonesia, JAkarta, Rabu 30 Oktober 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Herman / FER Rabu, 30 Oktober 2019 | 22:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia, Suharno Rusdi mengungkapkan, salah satu penyebab industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia mengalami kemunduran dalam beberapa tahun terakhir ini lantaran keberadaan pendidikan tinggi tekstil yang terabaikan. Padahal, di negara lain yang industri TPT-nya semakin bertumbuh, keberadaan pendidikan tinggi tekstil sangat diperhatikan.

Baca Juga: Industri Tekstil Tenggelam Digempur Produk Tiongkok

"Industri tekstil di Indonesia tidak maju karena pendidikan tekstilnya tidak maju," kata Suharno Rusdi, di acara diskusi publik yang digelar INDEF, di Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Sebagai perbandingan, di Tiongkok ada 61 pergurunan tinggi tekstil, Amerika Serikat (AS) 111, Eropa 48, Pakistan 60, India 108, dan Bangladesh 37. Sementara, Indonesia hanya memiliki 10 perguruan tinggi tekstil dan 12 tempat kursus. Hasilnya, Tiongkok pada 2018 menjadi eksportir tekstil terbesar dengan nilai US$ 118,5 miliar, Uni Eropa US$ 74 miliar, India US$ 18,1 miliar, dan Amerika Serikat US$ 13,8 miliar.

Baca Juga: Bendung Impor, Kadin Dorong Pemerintah Terapkan NTM

"Tidak salah kalau industri tekstil kita tidak maju karena memang SDM-nya tidak ada. Sehingga saya kira perlu adanya upaya membangun kembali Pendidikan Tinggi TPT Nasional untuk memperbaiki daya saing SDM kita,” kata Rusdi.

Sementara itu, Direktur Program Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengungkapkan, industri TPT sebetulnya pernah mengalami masa kejayaan pada tahun 1980-an. Puncak dari kinerja industri ini terjadi di 2007 dengan surplus produk hingga mencapai US$D 7,8 miliar ketika pada tahun 2001 hanya surplus US$ 5,2 miliar.

Baca Juga: Industri Tekstil Hadapi Tantangan Biaya Produksi

Namun, kondisi itu berbalik di periode 2008 hingga tahun 2018. Pada tahun 2008, surplus industri ini hanya mencatatkan US$ 5,04 miliar dan pada 2018 menurun drastis menjadi US$ 3,2 miliar.

"Penyebab utama yang mengancam industri tekstil dalam negeri akibat gempuran tekstil impor, terutama yang berasal dari Tiongkok,” kata Esther.



Sumber: BeritaSatu.com