Genjot Realisasi Investasi, BPKM Fokus Enam Hal Utama

Genjot Realisasi Investasi, BPKM Fokus Enam Hal Utama
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia memberi keterangan kepada media, di gedung BKPM, Jakarta, 31 Oktober 2019 ( Foto: Beritasatu.com / Herman )
Herman / FER Kamis, 31 Oktober 2019 | 16:49 WIB

Jakarta, Beritastatu.com - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan fokus pada enam hal utama dalam menggenjot realisasi investasi di Indonesia.

Baca Juga: Realisasi Investasi Kuartal III Tumbuh ke Rp 205,7 Triliun

Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia mengungkapkan, yang pertama akan dilakukan adalah memperbaiki peringkat kemudahan berusaha (doing business). Saat ini, kemudahan berusaha di Indonesia ada di peringkat 73.

"Sesuai arahan Presiden, peringkat kemudahan berusaha akan kita tingkatkan, minimal harus masuk peringkat 50. Kami akan berkoordinasi dengan Menko Perekonomian agar semua urusan kemudahan berusaha dilimpahkan ke BKPM, sehingga kami bisa bekerja maksimal," kata Bahlil Lahadalia, di gedung BKPM, Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Terkait hal ini, lanjut Bahlil, BKPM juga baru saja meluncurkan aplikasi Online Single Submission (OSS) versi terbaru yang diklaim bakal memberikan lebih banyak kemudahan bagi para investor.

Baca Juga: Pemerintah Ajak Swasta Investasi di Lima Destinasi Prioritas

Selanjutnya, soal eksekusi realisasi investasi besar. Terkait hal ini, Bahlil mengatakan, BKPM akan melakukan pendampingan kepada investor yang benar-benar ingin berinvestasi di Indonesia. "Kami akan membantu para investor mengeksekusi dan merealisasikan rencana investasinya di Indonesia," ungkapnya.

Bahlil mengatakan, BKPM juga akan mendorong investasi besar untuk bermitra dengan UMKM atau partner lokal. Misalnya ketika ingin membangun gedung di kawasan Papua, pengusaha di sana yang memenuhi syarat bisa ikut dilibatkan dalam proyek tersebut.

"Kami juga akan melakukan promosi investasi yang terfokus berdasarkan sektor dan negara. Di tengah kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu, kami juga akan mendorong peningkatan investasi dalam negeri atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), khususnya UMKM," ungkapnya.

Baca Juga: Bahlil Akan Urai Persoalan Lambatnya Investasi

Bahlil memaparkan, realisasi investasi Januari-September 2019 telah mencapai Rp 601,3 triliun, terdiri atas realisasi PMDN sebesar Rp 283,5 triliun (naik 17,3 persen) dan realisasi PMA sebesar Rp 317,8 triliun (naik 8,2 persen) dibandingkan periode yang sama tahun 2018.

Realisasi investasi (PMDN dan PMA) selama periode Januari-September tahun 2019 berdasarkan lokasi proyek adalah Jawa Barat (Rp 102,1 triliun, atau sekitar 17,0 persen), DKI Jakarta (Rp 95,6 triliun, 15,9 persen), Jawa Tengah (Rp 47,2 triliun, 7,8 persen), Jawa Timur (Rp 46,8 triliun, 7,8 persen), serta Banten (Rp 33,8 triliun, 5,6 persen).

"Hingga September 2019, sudah tercapai 75,9 persen dari target realisasi investasi tahun 2019 yang sebesar Rp 792 triliun," terang Bahlil Lahadalia.

Adapun lima besar negara asal PMA periode Januari-September 2019 adalah Singapura (US$ 5,4 miliar, 25,5 persen), Tiongkok (US$ 3,3 miliar, 15,6 persen), Jepang (US$ 3,2 miliar, 15,1 persen), Belanda (US$ 2,1 miliar, 9,9 persen) dan Hong Kong, RRT (US$ 1,7 miliar, 8,0 persen).

Sedangkan lima sektor usaha dengan nilai realisasi terbesar untuk periode Januari-September 2019, antara lain Tansportasi, Gudang dan Telekomunikasi (Rp 111,1 triliun, 18,5 persen), Listrik, Gas dan Air (Rp 95,9 triliun, 16,0 persen), Konstruksi (Rp 48,9 triliun, 8,1 persen), Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran (Rp 47,4 triliun, 7,9 persen), serta Pertambangan (Rp 44,7 triliun, 7,4 persen).

 



Sumber: BeritaSatu.com