Kampanye "Palm Oil Free" Kamuflase UE Perkuat Pasar Minyak Nabati Global

Kampanye
Prof Pietro Paganini dari John Cabot University of Roma dalam konferensi Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Kamis (31/10). (Sumber: Gapki)
L Gora Kunjana / AO Jumat, 1 November 2019 | 10:40 WIB

Nusa Dua, Beritasatu.com - Kampanye global antisawit khususnya terkait kesehatan (palm oil free) sebenarnya hanya merupakan kamuflase dari strategi pasar Uni Eropa (UE) untuk memperkuat pasar minyak nabati global.

Hal itu dikatakan Pietro Paganini dari John Cabot University of Roma dalam konferensi Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Kamis (31/10/2019). “Perlu disadari kampanye antisawit merupakan sikap proteksionis yang diterapkan Uni Eropa, terutama untuk mendukung para petaninya,” kata Paganini.

Menurut Paganini, ada beragam kampanye yang dilakukan untuk mencederai reputasi sawit demi memperkuat pasar minyak nabati global, salah satu pelabelan palm oil free. Pada prinsipnya, kampanye ini lebih lebih condong digunakan untuk memengaruhi persepsi negatif publik terhadap sawit tentang kesehatan.

Paganini mengingatkan, masyarakat perlu menyadari bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye hitam produsen minyak nabati yang tersaingi oleh minyak sawit. “Sayangnya, kampanye itu juga ikut ditunggangi oleh pihak lain, seperti para pelaku industri makanan, LSM, dan kelompok politik di negara produsen sawit,” ujarnya.

Menurut Paganini, kampanye antisawit dianggap berhasil karena mampu menurunkan impor minyak sawit di beberapa negara besar UE, seperti Prancis dan Jerman. Kenaikan impor minyak sawit hanya terjadi di Spanyol, sedangkan permintaan Italia terhadap produk minyak sawit cenderung stagnan.

Secara umum tren pandangan negatif terhadap sawit di Uni Eropa meningkat. “Bahkan, sering kali ditemukan publikasi yang menyatakan sawit merupakan musuh utama kesehatan,” kata Paganini.

Paganini menilai, keberhasilan kampanye antisawit karena banyak negara di Eropa sangat peduli terhadap isu kesehatan dibandingkan isu deforestasi. “Hal ini menyebabkan penurunan permintaan sawit hingga -3,6% per tahun. Padahal hasil studi menunjukkan bahwa lemak jenuh yang berasal dari kelapa sawit tidak berbeda dibandingkan sumber nabati yang lain,”ungkap Paganini.

Menurut dia, produk makanan dan minuman yang dibuat tanpa kandungan sawit sebenarnya tidak menjamin rasa yang lebih baik dan meningkatkan preferensi konsumen untuk membeli. “Glycerol tidak hanya berasal dari kelapa sawit tetapi juga minyak nabati yang lain. Kajian menunjukkan bahwa menghindari risiko kesehatan dengan menggunakan glycerol yang berasal dari bukan sawit, justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan yang lain,” katanya.

Paganini mengatakan, tuntutan LSM untuk meninggalkan penggunaan minyak sawit justru akan meningkatkan kerusakan lingkungan. Pasalnya, beberapa jenis komoditas minyak nabati yang lain akan mengonsumsi luasan lahan yang jauh lebih luas dibandingkan sawit serta pemakain pupuk kimia secara berlebihan.

“Kondisi ini berisiko pada penurunan luasan hutan global meningkat,” ujarnya.



Sumber: Investor Daily