Jaga Harga CPO Agar Tak Melonjak Cepat

Jaga Harga CPO Agar Tak Melonjak Cepat
Direktur Godrej International Ptd Dorab E Mistry (kiri) dan Direktur Eksekutif ISTA Mielke GmbH, OIL WORLD Thomas Mielke Mielke (kanan) saat jumpa pers usai menjadi pembicara dalam 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11). (Sumber: Investor Daily/Gora Kunjana ( Foto: Investor Daily/Gora Kunjana )
L Gora Kunjana / AO Sabtu, 2 November 2019 | 08:28 WIB

Nusa Dua, Beritasatu.com - Indonesia diharapkan menerapkan self correcting measures untuk menjaga agar harga minyak sawit (crude palm oil/ CPO) tidak melonjak tinggi terlalu cepat. Lonjakan harga yang terlalu cepat dikhawatirkan akan merugikan konsumen global dan ujungnya Indonesia sebagai pemasok CPO terbesar dunia.

Demikian disampaikan pakar minyak sawit yang juga Direktur Godrej International Ptd, Dorab E Mistry, saat menjadi pembicara dalam "15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook" di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11/2019).

"Harga CPO tahun 2020 dapat mencapai level RM 2.700 per ton. Dengan sejumlah asumsi, di antaranya harga Brent pada level US$ 60-80 per barel, kebijakan The Fed, kekacauan politik di Amerika Serikat (AS), serta pelemahan dolar AS," kata Mistry.

Mistry mengatakan, sejumlah faktor akan bergantung pada harga Brent. Serta, implementasi B30 di Indonesia. Yang terjadi saat ini adalah pasar sedang bereaksi, harga bergerak, dan pasokan mulai didistribusikan. Sementara itu, akan ada sedikit peralihan untuk segmen pangan, dari minyak sawit ke soft oils. Produksi minyak kedelai dan minyak bunga matahari tahun 2020 hanya akan meningkat tipis dari tahun 2019.

"Tahun 2020 akan menjadi tahun biodiesel dan produksi yang lebih rendah. Estimasi saya untuk tahun 2019, produksi minyak sawit Malaysia akan mencapai 20,3 juta ton dan Indonesia 43 juta ton," kata Mistry.

Produksi yang tidak terlalu besar, kata dia, disebabkan oleh berbagai faktor. Diantaranya, kekeringan menjadi faktor yang berpengarih signifikan. Di Malaysia, pohon-pohon yang lebih tua mengalami stres setelah lonjakan produksi yang signifikan tahun 2018. Dan, karena anjloknya harga CPO, petani mulai Agustus memangkas penggunaan pupuk.

"Produksi CPO Malaysia yang seharusnya mencapai puncak pada bulan September-Oktober, tidak sesuai perkiraan. Selain karena kekeringan, juga karena siklus tahunan. Produksi CPO Malaysia tahun 2020 akan lebih rendah dari tahun 2019. Prediksi awal saya, saya tekankan bahwa ini adalah prediksi awal, produksi CPO Malaysia pada semester I tahun 2020 akan lebih rendah 1 juta ton dan akan stagnan pada semester akhir 2020," kata Mistry.

Kondisi serupa, lanjut dia, terjadi di Indonesia. Harga yang anjlok menyebabkan pekebun mengurangi penggunaan pupuk, sementara kekeringan terus melanda sejak semester I tahun 2019.

"Sinyal pelemahan produksi sudah mulai terlihat dan tahun 2020 akan lebih buruk. Produksi pada bulan puncak, Oktober 2019, tidak seperti tahun lalu. Produksi mulai bulan November akan semakin turun. Saya prediksi, produksi tahun 2019 hanya alam lebih tinggi 1 juta ton. Untuk tahun 2020, saya tidak optimistis dengan produksi CPO Indonesia. Karena kekeringan pada 2019 dan pengurangan penggunaan pupuk, ditambah rendahnya penambahan lahan baru, kemungkinan produksi hanya akan naik sekitar 1 juta ton," kata Mistry.

Mistry menambahkan, kebijakan Presiden Joko Widodo mendorong implementasi wajib B30 menjadi game changer di pasar CPO. Penetapan alokasi memicu kepercayaan dan menepis keraguan terhadap B30. "Sentimen (atas B30) adalah red hot (sangat positif)," kata Mistry.

Hanya saja, imbuh dia, ketergantungan atas biodiesel terlalu dalam. Di mana pun program wajib biodiesel diterapkan, kata dia, baik di Indonesia, Brasil, dan AS, akan memperketat pasar minyak nabati. Mistry mengutip Oil World, tahun 2019, biofuel akan menyerap sebanyak 46 juta ton minyak nabati. Hampir 17 juta ton minyak sawit untuk Palm Methyl Esther (PME/ bahan biodiesel).

"B30 direncanakan mulai Januari 2020. Dengan meningkatnya harga, seperti yang kita prediksi, bagaimana kebijakan pungutan ekspor minyak sawit Indonesia? Lalu, jika harga bergerak tinggi terlalu cepat, apakah Indonesia sudah punya mekanisme self correcting untuk menahan atau mengurangi (persentase) B30?," kata Mistry.

Dia memperkirakan, stok minyak nabati dunia akan semakin menipis mulai Maret 2020, yang akan mendongkrak harga.

"Apakah etis ketika minyak untuk pangan digunakan untuk energi ketika harga naik, lalu tidak terjangkau bagi jutaan konsumen? Karena itu, ekanisme self correcting sangat diperlukan. Dengan produksi yang lebih rendah, penggunaan sawit untuk biodiesel akan memicu kenaikan harga. Karena itu, perlu dijaga agar harga tetap pada level moderate. Dan, harga yang terlalu tinggi akan menekan permintaan," kata Mistry.

Mistry mengusulkan, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) merekomendasikan pentingnya mekanisme self correcting kepada pemerintah.

"Saya yakin, pemerintah akan menghargai itu, ketika harga bergerak tinggi terlalu cepat. Agar pasokan tetap tersedia dan terjangkau bagi dunia. Memang, anda bisa saja senang dengan program B30, B40, atau B50, tapi seharusnya tidak hanya melihat profit. Dan, ketika pasokan akan semakin ketat, tidak ada yang bisa menopang selain minyak sawit. Saya tidak yakin dengan soya oil dan sun oil," kata Mistry.

Stok B30
Hal senada dikemukakan Direktur Eksekutif ISTA Mielke GmbH, OIL WORLD Thomas Mielke Mielke dalam kesempatan yang sama. Menurut dia, produksi tahun 2020 tidak akan setinggi capaian dalam 3 tahun terakhir. Lalu, stok akan semakin berkurang.

“B30, meski saya tidak yakin akan terlaksana secara penuh setahun (sejak awal Januari 2020), akan menggerakkan harga lebih tinggi. Stok yang sebelumnya tinggi mengkompensasi produksi yang rendah, sementara permintaan tetap tumbuh. Lalu, pasar akan bereaksi dan harga terdongkrak. Jika naik terlalu cepat dan tinggi, pangsa pasar minyak sawit akan berkurang. Tapi, produksi minyak subtitusi juga tidak terlalu tinggi," kata Mielke.

Mielke memprediksi, harga CPO pada periode Januari-Juni 2020 akan bergerak rata-rata pada level US$ 650-700 (FOB). Sementara, produksi CPO tahun 2020 diperkirakan naik 1,8 juta ton menjadi 45,4 juta ton dari tahun 2019 yang diproyeksikan mencapai 43,6 juta ton atau naik 2 juta ton dari 2018. Menurut Mielke, produksi tahun 2020 akan dipengaruhi penggunaan pupuk lebuh renday, kekeringan, pertanaman baru lebih rendah, minimnya peremajaan dan tenaga kerja.

"Indonesia sukses dengan program biodieselnya. Dunia juga bergantung pada Indonesia sebagai eksportir minyak sawit. Jadi, kalau bicara B30 dan B50, jangan lupa ada konsumen di luar sana yang bergantung pada Indonesia. Indonesia sukses dengan biodiesel," kata dia.

Karena itu, ujar dia, Uni Eropa bukan isu yang menjadi perhatian.  "Tetapi, perhatian saya adalah bagaimana seharusnya program biodiesel Indo esia fleksibel. Agar tetap dapat memenuhi kebutuhan dunia, menyeimbangkan kebutuan sektor pangan dan biodiesel. Karena, tidak ada negara lain yang bisa mengkompensasi penurunan pasokan minyak sawit Indonesia," kata Mielke.



Sumber: Investor Daily