Indonesia Optimistis Optimalkan Konsumsi Biofuel

Indonesia Optimistis Optimalkan Konsumsi Biofuel
Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan saat menjadi pembicara di acara 15th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2019 and 2020 Price Outlook di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11). (Sumber: Investor Daily/Gora Kunjana) ( Foto: Investor Daily/Gora Kunjana )
L Gora Kunjana / AO Sabtu, 2 November 2019 | 08:33 WIB

Nusa Dua, Beritasatu.com - Produksi biodiesel sawit hingga 2019 mencapai 6,886 juta kiloliter (kl), meningkat sebesar 10% dibandingkan 2018 untuk penyerapan di sektor domestik dan ekspor. Mandatori B30 pada 2020 diproyeksikan bisa terlaksana sehingga akan meningkatkan konsumsi biodiesel hingga 9,6 juta kl pada 2020.

Demikian disampaikan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan dalam Indonesia Palm Oil Conference di Nusa Dua, Bali, Jumat (1/11/2019). Menurut Paulus, semua aspek yang mendukung produksi B30 sudah siap, mulai dari kapasitas industri biodiesel sebesar 12 juta kl, serta dukungan dari pemangku kepentingan terkait.

“Kami juga sudah melakukan uji jalan dan performa kendaraan menggunakan B30 dari Lembang, Jawa Barat, sampai Guci, Jawa Tengah, menempuh 50.000 km dan hasilnya positif”, kata Paulus

Menurutnya pengembangan industri biodiesel di 2019 mampu mencapai 6,2 juta kl untuk domestik dan 2 juta kl untuk ekspor, sedangkan pada 2020 diproyeksikan 9,4 juta kl. Jadi, pada 2020 bisa mengurangi impor bahan bakar minyak hingga 9,6 juta kl atau setara US$ 5 miliar.

Berbicara soal pengurangan emisi, Paulus juga menyampaikan banyak sekali nilai strategis biofuel seperti reduksi emisi gas dengan target di tahun 2020 sebanyak 26% dan 29% untuk 2030 sesuai dengan komitmen Nationally Determined Contributions UNFCCC.

Hal ini didukung penuh oleh peneliti dari Center for Catalysis and Reaction Enginering Institut Teknologi Bandung (CaRE ITB), I Gusti Bagus Ngurah Makertihartha bahwa Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit harus bisa menggunakan bahan bakar dari kelapa sawit.

“Semua stakeholder yang terkait harus berkonsolidasi mengembangkan infrastruktur industri biofuel minyak sawit agar mandatori B30 bisa terlaksana”, kata Gusti.

Ia menambahkan bahwa sejak 1983 tim riset ITB sudah bekerja sama dengan Pertamina, BPDPKS dan Riset Dikti untuk memulai penelitian mengenai pengolahan minyak nabati menjadi biofuel. Produk penelitian menghasilkan katalis yang mampu mencampur senyawa hidrokarbon minyak nabati dengan bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi biofuel.



Sumber: Investor Daily