Angkasa Pura I Kembangkan Empat Bandara

Angkasa Pura I Kembangkan Empat Bandara
Bandara Sultan Hasanuddin Ujung Pandang Makassar. (Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin)
Thresa Sandra Desfika / YUD Senin, 4 November 2019 | 16:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – PT Angkasa Pura (AP) I mengembangkan empat bandara kelolaan untuk mendukung program pemerintah dalam mewujudkan konektivitas udara di wilayah tengah dan timur Indonesia.

Adapun keempat bandara tersebut terdiri atas Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo, Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin, Bandara Lombok Praya, dan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

“Seiring dengan fokus pemerintah pada pengembangan infrastruktur transportasi tersebut, kami juga terus mendorong pengembangan beberapa bandara di wilayah tengah dan timur Indonesia,” kata Direktur Utama AP I Faik Fahmi dalam keterangannya, Senin (4/11/2019).

Dia menjelaskan, per 20 Oktober 2019, progres proyek pengembangan Bandara Syamsudin Noor yang masuk dalam proyek strategis nasional (PSN) sudah mencapai 93,6%. Proyek pengembangannya berupa pembangunan terminal baru, perluasan apron, dan perluasan terminal kargo yang ditargetkan bisa diresmikan pada akhir 2019.

Faik menyebutkan, dengan adanya terminal baru akan menambah kapasitas terminal penumpang menjadi 7 juta penumpang per tahun atau lebih besar hampir lima kali lipat dari kapasitas terminal lama yang hanya dapat menampung 1,5 juta penumpang per tahun. Pada 2018 lalu, Bandara Syamsudin Noor melayani 3,9 juta penumpang atau naik 7,1% dibanding realisasi pada 2017.

Proyek pengembangan Bandara Syamsudin Noor, menurut Faik, menelan dana sekitar Rp 2 triliun. Setelah selesai 100%, luas terminal penumpang bertambah menjadi 77.569 meter persegi dari 9.043 meter persegi, luas apron bertambah menjadi 129.812 meter persegi yang dapat menampung 16 pesawat narrow body dari 80.412 meter persegi yang hanya dapat menampung 8 pesawat narrow body, dan perluasan terminal kargo tahap 1 nantinya akan dapat menampung 44.000 ton per tahun dari 22.297 ton per tahun.

"Dengan desain terminal seperti perahu jukung dan atap terminal yang menyerupai intan, bandara ini akan menjadi ikon kebanggaan baru bagi Kalimantan Selatan," lengkap Faik.

Lebih lanjut, Faik menuturkan, hingga 27 Oktober 2019, progres pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta telah mencapai 86,4% dan ditargetkan penerbangan domestik dapat beroperasi penuh pada Januari 2020. Sedangkan, penerbangan internasional disiapkan beroperasi penuh pada Maret 2020.

"YIA merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN). Pembangunan YIA mendesak mengingat Bandara Adisutjipto, Yogyakarta yang ada saat ini sudah dalam kondisi kekurangan kapasitas," imbuh Faik.

Setelah pembangunan tahap 1 selesai pada awal 2020, Faik menjelaskan, YIA akan memiliki terminal penumpang 3 lantai seluas 219.000 meter persegi dengan kapasitas 15 juta penumpang per tahun, runway sepanjang 3.250 x 45 meter, 4 unit garbarata, luas apron 371.205 meter persegi, luas terminal kargo 12.000 meter persegi, serta gedung parkir 3 lantai dengan luasan area 137.280 meter persegi yang mampu menampung hingga ribuan kendaraan.

Selain itu, ujar Faik, proyek pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin sudah mulai pekerjaan desain dan perluasan terminal 1 serta apron selatan-timur. "Hingga 20 Oktober 2019, progres pengembangan terminal sudah mencapai 16,3% dan ditargetkan dapat selesai pada awal 2021," ungkap mantan direktur utama PT ASDP Indonesia Ferry itu.

Pada proyek pengembangan Bandara Sultan Hasanuddin, tutur Faik, terminal penumpang akan diperluas menjadi 166.815 meter persegi yang dapat menampung 15 juta penumpang per tahun dari luasan terminal yang sudah ada, yakni 51.815 meter persegi dengan kapasitas 7 juta penumpang per tahun. Selain itu, apron juga akan diperluas menjadi 385.346 meter persegi dari luasan yang ada yang hanya 185.500 meter persegi.

Adapun untuk mendukung pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika yang menjadi lokasi penyelenggaraan MotoGP 2021, kata Faik, pihaknya juga tengah mengembangkan Bandara Internasional Lombok Praya melalui perpanjangan landas pacu dari 2.750 meter menjadi 3.330 meter, perluasan terminal menjadi 40.000 meter persegi yang dapat menampung 7 juta penumpang per tahun.

Bukan hanya itu, pada Agustus 2019 lalu perluasan terminal Bandara Adi Soemarmo Solo sudah rampung yang menambah kapasitas menjadi 1,3 juta penumpang per tahun dari kapasitas sebelumnya yang hanya sekitar 800.000 penumpang per tahun. Faik memaparkan, terminal Bandara Adi Soemarmo juga terkoneksi langsung dengan stasiun kereta bandara yang juga sudah rampung. Pada akhir 2019 nanti, stasiun kereta api bandara diharapkan sudah dapat beroperasi.

“Pengembangan bandara kami dilakukan untuk memperluas konektivitas dan meningkatkan kapasitas lalu lintas angkutan udara di wilayah tengah dan timur Indonesia sehingga dapat mendukung arus wisatawan mancanegara ke berbagai wilayah di Indonesia. Pada akhirnya pengembangan juga dapat mewujudkan target nasional 20 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2020 bisa terwujud,” kata Faik Fahmi.



Sumber: BeritaSatu.com