Peluang Pertumbuhan Ekonomi Digital di Indonesia Masih Besar

Peluang Pertumbuhan Ekonomi Digital di Indonesia Masih Besar
Kiri ke kanan: Primus Dorimulu, News Director Beritasatu Media Holdings, dan Dirjen Aptika Kemkominfo Semuel A Pangerapan dalam acara seminar Ekonomi Digital Outlook Forum 2020, di JCC Senayan, Jakarta, Jumat, (8/11/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Emanuel Kure )
Emanuel Kure / FER Jumat, 8 November 2019 | 15:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia dinilai sangat besar. Masih banyak sektor yang belum digarap maksimal. Jika sektor-sektor unggulan digarap dengan menggunakan teknologi digital yang sedang berkembang saat ini, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menjadi macan di bidang ekonomi digital di kawasan ASEAN.

Baca Juga: OJK Harap UU Perlindungan Data Pribadi Segera Terbentuk

Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Semuel A Pangerapan, mengatakan, untuk merealisaikan pertumbuhan di bidang ekonomi digital, Kemkominfo tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator, bahkan akselerator. Dalam hal ini, Kemkominfo membuat regulasi yang mendukung berkembangnya iklim usaha di bidang digital dan teknologi, membangun infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta mewadahi serta berbagai startup, sehingga bisa menjadi unicorn bahkan decacorn.

"Indonesia akan menjadi Energy of Asia. Kita ingin jadi macan Asia Tenggara di bidang digital economy. Oleh karena itu, kita harus membuat terobosan-terobosan yang bisa memudahkan untuk berkembang di bidang ekonomi digital. Kita mempunyai 260 juta penduduk. Dan kita memimpin di pasar Asia Tenggara,” kata Semmy, sapaan Semuel dalam acara seminar Ekonomi Digital Outlook Forum 2020, yang dimoderatori oleh Primus Dorimulu, News Director Beritasatu Media Holdings, di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Baca Juga: Jokowi Optimistis Ekonomi Indonesia Mampu Bertahan

Menurut Semmy, di kawasan ASEAN, Indonesia memiliki nilai ekonomi digital sebesar US$ 27 juta pada 2018, dan akan bertumbuh menjadi US$ 100 hingga US$ 150 juta pada 2025. Bahkan, pada periode 2015-2018, ekonomi digital di Indonesia tumbuh paling cepat, yaitu mencapai 45 persen. Tak hanya itu, dari sisi, penetrasi internet, saat ini pengguna internet di Indonesia mencapai 171,17 juta pengguna dari total populasi sekitar 264 juta jiwa.

"Kalau dilihat dari sisi potensi ekonomi digital dan penetrasi internet, memang tumbuh cepat. Namun, yang menjadi tantangan, apakah kita bisa memanfaatkan potensi dan teknologi yang ada, sehingga kita bisa memperoleh manfaat dari perkembangan tersebut? Makanya pemerintah terus mendorong dan membangun dari berbagai sektor, sehingga ekonomi digital Indonesia bisa tumbuh lebih cepat,” jelas Semmy.

Baca Juga: LKPP Dorong Transformasi Pengadaan Barang-Jasa di Era Digital

Semmy menuturkan, saat ini Kemkominfo fokus membangun infrastruktur demi mendukung perkembangan ekonomi digital, baik dari sisi konektivitas, logistik, dan payment system.

"Makanya pemerintah fokus pada tiga hal di atas. Dalam payment system, baru 40 persen masyarakat Indonesia itu dilayani oleh perbankan. Bagaimana ini bisa terus berkembang, kita harus membentuk ekosistemnya. Kita juga akan bangun satelit, karena konektivitas itu tidak cukup hanya dengan kabel. Rencananya satelit, 2022 diluncurkan. Jadi di seluruh Indonesia bisa terkoneksi dengan internet,” ujar Semmy.

Selain itu, lanjut Semmy, pemerintah juga fokus mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya telenta digital. Pasalnya, diproyeksikan, pada 2030, Indonesia akan kekurangan sekitar 9 juta talenta digital. Saat ini, Indonesia kekurangan sekitar 600.000 hingga 900.000 digital talent setiap tahunnya.

"Ini semua disiapkan untuk membantu kita dalam transformasi di era digital ini. Akan banyak pekerjaan-pekerjaan yang menanti, tetapi membutuhkan yang mempunyai skill. Bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi yang lebih produktif dan membangun ekonomi masyarakat,” ungkap Semmy.

Baca Juga: Otoritas Siapkan 9 Strategi Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Semmy mencontohkan, dua perusahaan teknologi yang bergerak di bidang jasa transportasi online, dan berbagai bidang lainnya, yaitu GoJek dan Grab. Menurut dia, dua perusahaan teknologi ini, mengalami pertumbuhan yang cepat di Indonesia, karena mereka memiliki bisnis model yang cocok dan sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia.

Hal itu, berbanding terbalik dengan Uber, yang hanya fokus pada jasa transportasi online saja, dan bahkan hanya fokus untuk layanan-layanan untuk kelas elite, misalnya menyediakan jasa layanan online untuk pesawat terbang atau airplane.

"Go-jek dan grab itu sampai kayak gini perkembangannya, karena mereka mengambil jalur yang berbeda. Mereka merambah ke layanan lifestyle dan sebagainya, dan itu menjadi kebutuhan masyarakat di Indonesia. Makanya apa yang terjadi di luar sana, tidak akan berimbas ke Indonesia. Karena potensi kita sangat besar," tandas Semmy.

Baca Juga: Indonesia Tembus 10 Besar Dunia Pencetak Unicorn

Namun, Semmy juga mengingatkan, supaya para pelaku uang ingin mengembangkan layanan atau berbisnis di bidang teknologi di Indonesia, harus pandai melihat potensi dan kebutuhan pasar yang ada.

"Ibarat berenang di blue ocean, para pelaku harus pandai melihat potensi yang ada. Pandai membaca market, dengan begitu bisa berkembang dan dapat memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan ekonomi digital di Indonesia," pungkas Semmy.

Sementara itu, Digital Economy Experts, Ibrahim Kholilul Rohman, mengatakan, dalam menentukan ukuran seberapa besar nilai ekonomi digital di Indonesia, negara harus mempunyai difinisi yang jelas terkait ekonomi digital. Pasalnya, Indonesia belum mempunyai basis data atau ukuran yang tepat tentang apa itu ekonomi digital.

Menurut Ibrahim, berdasarkan definisi dari ekonomi digtal, terdapat dua konsep utama yang menjadi core dari ekonomi digital, yaitu Infrastructure, Communication, and Technology (ICT) dan internet. Internet dan ICT kemudian dibagi lagi dalam empat lapisan atau layer, yaitu network elements, networks operator, apps and internet content, serta consumer.

"Bagaimana masing-masing lapisan dalam sektor ini berkembang. Tidak hanya satu dengan yang lainnya, tetapi sama-sama tentunya. Jadi, kita harus mempunyai definisi yang jelas, sehingga bisa menjadi indikator dan menjadi konsep dalam mendorong perkembangan ekonomi digital di Indonesia,” jelas Ibrahim.

Dosen FEB Universitas Indonesia (UI) ini menambahkan, Indonesia sudah masuk di era ekonomi digital. Semua aktivitas dilakukan secara digital dengan memanfaatkan teknologi. Namun, dia mengingatkan, perkembangan teknologi dan digital harus dimanfaatkan secara optimal, sehingga bisa ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi  di Indonesia.

"Jangan hanya mengambil sebagian dari perkembangan ekonomi digital saat ini, tetapi manfaatkan semua potensi yang ada, sehingga terus menumbuhkan ekonomi digital Indonesia," tandas Ibrahim.

 



Sumber: Investor Daily