Diskriminasi Sawit, RI Layangkan Protes Keras ke Uni Eropa

Diskriminasi Sawit, RI Layangkan Protes Keras ke Uni Eropa
Petani kelapa sawit. ( Foto: Antara / Wahdi Septiawan )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Selasa, 12 November 2019 | 14:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Indonesia melalui Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar memprotes perlakuan tidak adil Uni Eropa terhadap produk kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

Mewakili Presiden Joko Widodo, Mahendra melayangkan surat keberatan kepada Komisioner Perdagangan Uni Eropa Cecilia Malmstrom tertanggal 6 November 2019.

Dalam suratnya, Mahendra menyebutkan bocornya dokumen internal Uni Eropa RED II-Delegated Act soal kelapa sawit yang dimuat di situs palm oil monitor telah membongkar praktik diskriminatif UE terhadap kelapa sawit.  

RI tidak ingin memperdebatkan keabsahan dokumen tersebut, tetapi dokumen itu mengonfirmasi niat diskriminatif UE terhadap produk kelapa sawit. RI menuding UE menggunakan penelitian yang cacat ilmu (scientifically flawed) untuk melindungi kepentingan produsen rapeseed (rapa/minyak rapa), yang merupakan pesaing CPO di Eropa, dan mengecualikan minyak kedelai dari praktik diskriminasi untuk menghindari aksi balasan dari AS.

Sehubungan dengan dokumen yang sudah tersebar ke domain publik, RI meminta pejabat UE dan jaringannya untuk menahan diri mengatakan tindakan mereka bersifat nondiskriminatif. RI meminta UE untuk mencari jalan keluar yang nondiskriminatif sebagaimana dituangkan dalam Nota Dirjen Perdagangan Jean Luc Demarty no C.2/SF/sst (2018) 1571060 artikel I dan III:4; sekaligus untuk menghindari aksi balasan dari negara-negara produsen CPO.

Indonesia telah melakukan negosiasi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan UE dengan itikad baik mengatasi isu keberlanjutan (sustainability) kelapa sawit. Dalam surat Mahendra kepada UE disebutkan juga bahwa RI meragukan ketulusan UE dalam mengatasi isu lingkungan, karena kebijakan UE dianggap memiliki kepentingan terpendam (vested interest) beberapa LSM, produsen rapa, hingga ketakutan atas balasan AS terkait produsen minyak kedelai.

Untuk sementara ini, RI akan me-review kembali dan merevisi bab soal pembangunan berkelanjutan dalam CEPA. Meski UE tidak menunjukkan itikad baik kepada negara-negara produsen kelapa sawit, Indonesia tetap menganggap penting hubungan dengan UE sebagai mitra dagang. RI juga mengingatkan UE akan pentingnya itikad baik dalam negosiasi perdagangan dan investasi berdasarkan asa kepentingan bersama, resiprositas, dan saling menghormati.



Sumber: BeritaSatu.com