Gantikan Karet, Sawit Kini Jadi Penopang Ekonomi Sulbar

Gantikan Karet, Sawit Kini Jadi Penopang Ekonomi Sulbar
Perkebunan kelapa sawit (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
L Gora Kunjana / AO Kamis, 14 November 2019 | 14:27 WIB

Mamuju, Beritasatu.com - Berangkat dari program PIR-Trans pada era 1980-an, industri kelapa sawit mulai menjadi penggerak dan penopang ekonomi di Sulawesi Barat (Sulbar). Industri kelapa sawit juga berperan penting dalam menciptakan lapangan pekerjaan, terutama bagi masyarakat dengan jenjang pendidikan yang rendah.

Kini, Sawit telah menggantikan peran komoditas karet, yang sebelumnya mendominasi perekonomian di Sulbar. Menurut data Dinas Perkebunan Sulbar, hingga 2018, jumlah perusahaan kelapa sawit di Sulbar mencapai 17 perusahaan dengan luasan lahan perkebunan yaitu 79.000 hektare.

Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar, Muhammad Idris menuturkan, riset yang dilakukan oleh Bank Indonesia mengungkapkan bahwa ada dua sayap dalam pembangunan daerah Sulbar, yaitu investasi langsung dari pemerintah dan CPO. “Jika ingin menghentikan perekonomian Sulbar, sebenarnya mudah saja. Hentikan perkembangan industri kelapa sawit,” kata Muhammad Idris di Hotel Maleo, Mamuju, Sulbar, Kamis (14/11/2019).

Hadirnya komoditas-komoditas lain tidak mengecilkan peran industri kelapa sawit. Muhammad Idris menambahkan bahwa pemerintah mendukung dan mendorong pembangunan industri sawit di Sulbar. Hal ini dibuktikan dengan dibentuknya struktur khusus dalam instansi dinas perkebunan untuk memfokuskan perkembangan sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit.

Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2019, Pemerintah Sulbar juga akan meningkatkan kolaborasi pemangku kepentingan untuk memperkuat data-data yang akan mendukung dan menjadi dasar untuk perkembangan industri.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi pelaku industri kelapa sawit Sulbar, terutama petani, adalah produktivitas kebun kelapa sawit.

Guru besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Laode Asrul memaparkan hal-hal yang memengaruhi rendahnya produktivitas kelapa sawit, di antaranya bibit palsu dan penerapan good agricultural practices.

Laode menjelaskan, satu juta hektare lahan perkebunan sawit di Indonesia masih menggunakan bibit yang tidak bersetifikat (bibit palsu) sehingga memengaruhi produktivitas. Rata-rata produktivitas kebun kelapa sawit Indonesia hanya 3,6 ton/ha per tahun, sementara lembaga riset mengungkapkan potensi produksi kelapa sawit bisa mencapai 7-9 ton/ha per tahun sehingga kurang memuaskan.

Dari segi good agricultural practices, petani cenderung belum mengimplementasikan best management practices yang sebenarnya dapat mendongkrak produktivitas sawit. “Adanya defisiensi hara pada tanah dan defisiensi pupuk terutama setelah masa panen, merupakan masalah yang sering terjadi pada perkebunan rakyat,” kata Laode.

Laode mengungkapkan, Sulbar dapat memaksimalkan potensi ekonomi di industri kelapa sawit, kemudian mengharapkan agar riset juga dapat ditingkatkan sehingga dapat memaksimalkan produktivitas dan potensi-potensi lain dari industri perkebunan kelapa sawit.



Sumber: Investor Daily