Belajar dari Falsafah Hidup TP Rachmat

Belajar dari Falsafah Hidup TP Rachmat
Founder Triputra Group Ir Theodore Permadi Rachmat, menyampaikan orasi ilmiah saat peringatan ke-99 tahun Pendidikan Tinggi Teknik Indonesia di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (3/7/2019). ( Foto: David Gita Roza )
/ HA Kamis, 14 November 2019 | 22:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setiap manusia diberi begitu banyak anugerah oleh Tuhan. Perjalanan hidup kita sepenuhnya dan seluruhnya adalah berkat Tuhan. Suka dan duka, kegagalan dan keberhasilan, juga sehat dan sakit, kaya dan miskin. Sepenuhnya dan seluruhnya adalah berkat Tuhan.

Demikian dikemukakan Pendiri kelompok bisnis Triputra Group, Theodore Permadi Rachmat atau TP Rachmat dalam pidatonya saat menerima Lifetime Achievement Award Ernst & Young, 2019, Rabu malam (13/11/2019).

Menurut dia, menjadi sebuah keniscayaan bagi manusia untuk sebisa mungkin membagikan berkat dari Tuhan kepada keluarga, perusahaan, masyarakat, terlebih bangsa Indonesia, yang telah memberikan begitu banyak kesempatan warganya.

“Sebuah ayat dalam Kitab Suci yang saya yakini, menyatakan demikian: ‘To whom much is given, much is required.’ ‘Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut,” jelas TP Rachmat.

Sebagai wujud terima kasih yang tulus dan dalam atas penghargaan yang dia terima, TP Rachmat kemudian menyampaikan tiga hal sederhana.

“Tiga hal yang besar peranannya dalam kehidupan saya, dan mendorong saya untuk terus berbagi dan berkarya bagi Indonesia,” katanya.

Yang pertama, ungkap TP Rachmat, adalah belajar dari kesalahan dan kegagalan. Ia mengungkapkan bahwa pengalaman hidup membuat dirinya sampai pada kesimpulan, bahwa justru berbagai kesalahan dan kegagalan dalam hiduplah, yang paling berharga dan menjadi pendorong kita untuk terus berupaya menjadi visi yang lebih baik bagi kita.

“Mempelajari kenapa kita salah ambil keputusan atau kenapa kita gagal, membuat kita tidak terbawa pada kesalahan dan kegagalan yang sama. Sebaliknya, merayakan keberhasilan atau kemenangan terlalu lama, hanya akan menumpuk rasa bangga dan puas diri, yang membuat kita terlena,” ujarnya.

Yang kedua, lanjut dia, adalah pola pikir atau mindset. Menurut TP Rachmat, pola pikir mempengaruhi dan melandasi perilaku manusia. Pola pikir membedakan manusia dari ciptaan Tuhan yang lain. Pola pikir adalah pilihan bebas manusia, namun pola pikir yang keliru dapat membelenggu manusia.

“Membawa manusia pada sikap dan perilaku negatif. Ada fixed mindset, ada growth mindset. Fixed mindset menempatkan manusia pada posisi pasif, bergantung pada nasib dan keberuntungan. Growth mindset, membawa manusia pada posisi yang lebih aktif, optimis, dan keyakinan bahwa daya upaya akan lebih menentukan daripada nasib atau keberuntungan semata. Fixed mindset memenjarakan, growth mindset membebaskan,” ucapnya.

Yang ketiga, tandas TP Rachmat, adalah nilai-nilai atau values.

“’Kita harus berubah seiring perubahan waktu, tetapi kita harus berpegang tgeuh pada nilai-nilai yang tidak pernah berubah.’ “Kata-kata bijak dari sahabat saya, almarhum Benny Subianto itu saya yakini benar. Kita harus terus berubah dan beradaptasi sejalan dengan waktu, namun kita juga harus berpegang teguh pada nilai-nilai luhur. Meluncur terus ke depan, tetapi dengan kaki yang kokoh berpijak pada prinsip-prinsip kehidupan,” katanya.

Lebih lanjut TP Rachmat mengatakan bahwa integritas, etika, kebaikan, kesabaran, dan kerendahan hati adalah nilai luhur itu yang ia pegang teguh sepanjang hidupnya. Di antara keempat nilai inti itu, ia mengaku, yang terakhir sungguh tidak mudah untuk dipraktikkan. Kerendahan hati berakar dari kesadaran bahwa selayaknya manusia menempatkan kepentingan yang lebih mulia di atas kepentingan pribadi.

“Semakin pandai, kaya, dan kuat, semakin besar godaan untuk tidak bersikap humble. Godaan yang apabila tidak kita kendalikan, akan membawa kita pada kondisi stagnan, serakah, dan merasa diri sebagai pusat dunia,” ujarnya.

Kerendahan hati, sambung dia, membangun keberanian untuk menerima masukan yang jujur. Kerendahan hati mendorong terjadinya proses perbaikan diri yang konstan. Kerendahan hati membuat kita menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan kita pribadi. TP Rachmat menegaskan bahwa kerendahan hati membangun keikhlasan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kerendahan hati tidak berpamrih, tidak mencari panggung dan kehormatan diri. Kerendahan hati membangun diri kita menjadi orang yang toleran terhadap perbedaan dan keberagaman

Kembali ke “siapa diberi banyak akan dituntut banyak”, TP Rachmat yakin semua sepakat bahwa manusia banyak mendapatkan anugerah dari Tuhan. Ia pun mengingatkan diri sendiri dan semua orang, untuk lebih mudah bersyukur dan terus berupaya berbagi bagi sesama, dalam bentuk dan skala apa pun.

“Setiap kita punya panggilan dan tanggung jawab moral yang sama untuk berbagi, menolong orang lain. Terlebih sebagai anak bangsa, yang lahir dan berkarya di Indonesia. Patut kiranya kita juga ambil bagian dalam upaya besar mewujudkan Indonesia yang raya. Indonesia yang lebih sejahtera, bermartabat, dan bersatu meski berbeda,” katanya.

Di akhir pidatonya, TP Rachmat mengajak para talenta muda Indonesia untuk terus membangun diri, tidak cepat puas, dan selalu ingat untuk menjadi bagian yang aktif dalam memecahkan masalah bangsa, serta terus berkarya membangun negeri. Sementara untuk para senior TP Rachmat mengajak untuk terus menjadi panutan dan memberikan kepercayaan serta kesmepatan seluas-luasnya kepada generasi baru untuk lebih berperan dalam menyongsong masa depan.



Sumber: BeritaSatu.com