Jaga Pasokan Hortikultura, Kemtan Perkuat Early Warning System

Jaga Pasokan Hortikultura, Kemtan Perkuat Early Warning System
Kementerian Pertanian (Kemtan) tengah merancang 'Early Warning System (EWS)' untuk menjaga stabilitas dan pasokan komoditas hortikultura di masyarakat. (Foto: Dok )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 15 November 2019 | 11:18 WIB

Purwakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikuktura tengah merancang Early Warning System (EWS), sebuah sistem alarm untuk menjaga stabilitas dan pasokan komoditas hortikultura di masyarakat. Sistem ini untuk mencegah kelangkaan dan kelebihan produksi pertanian.

Dirjen Hortikultura Kemtan, Prihasto Setyanto dalam keterangan yang diterima redaksi Jumat (15/11/2019) mengatakan, EWS diharapkan menjadi panduan (guidance) bagi pemangku kepentingan, untuk memantau ketersediaan komoditas di pasaran. Dia menceritakan pengalaman di 2017. Saat itu, harga cabai pada awal tahun menyentuh Rp 250.000 per kilogram. "Bayangkan setara dua kilogram daging sapi," ujar pria yang akrab disapa Anton ini saat membuka acara seminar terkait budidaya bawang merah bertajuk ”Capacity Building and TSS Technology Adoption” di Pabrik PT East West Seed lndonesia (Ewindo), Kabupaten Purwakarta, Kamis (13/11/2019).

Prihasto Setyanto mengungkapkan, melalui EWS, kelangkaan, kelebihan produksi, hingga persoalan gejolak harga bisa diminimalisir. Sebab nantinya tim EWS di tingkat pusat akan berkoordinasi dengan daerah mengkaji secara komprehensif, kebutuhan suatu daerah selama 4-5 bulan ke depan. "Berapa kebutuhan produksinya, berapa luas lahan tanamnya, hingga kebutuhan bibit maupun lainnya," kata Prihasto Setyanto.

Dengan Early Warning System kata dia, daerah bisa memprediksi kebutuhan masyarakat. "Jadi sudah terdata. Dianalisis potensi harganya. Hasilnya kemudian kami berikan kepada daerah untuk menjadi bahan di lapangan," kata Prihasto Setyanto.

Dalam kesempatan itu, Anton juga mengunjungi sejumlah lokasi produksi benih PT Ewindo mulai tempat penyemaian benih, lokasi tanam, hingga pengemasan benih. "Peran swasta penting, misalnya mengkampanyekan teknik menanam TSS 9biji bawang merah). Ini sejalan dengan apa yang kami sedang kampanyekan," ungkap Prihasto Setyanto.

Program EWS yang tengah dirintis Ditjen Hortikultura merupakan turunan visi yang digagas Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo terkait pembentukan pusat Komando Strategis Pertanian (Konstran). Salah satu agenda besarnya adalah negara memiliki basis data pangan terintegrasi dan tidak tumpang tindih satu sama lain. "Single data. Maka dari itu Pak Menteri (Pertanian) menginstruksikan sinkronisasi data dengan sejumlah Kementerian/Lembaga terkait," kata Prihasto Setyanto.

Selain itu, wujud dari konstran adalah agriculture war room yakni pusat kontrol untuk mengkoordinasikan segala aktivitas pertanian, mulai dari pusat hingga daerah. "Targetnya dalam 100 hari pertama ini terbentuk 500 konstratan, dan dalam lima tahun ditargetkan menjadi 5.000 konstratan se-Indonesia," jelas Prihasto Setyanto.

Managing Director Ewindo Glenn Pardede mengatakan, pihaknya terus mendorong teknik budidaya bawang merah TSS menggunakan benih atau biji. "Bukan bibit/umbi yang selama ini selalu mereka gunakan," ujar Glenn Pardede.

Glenn menjelaskan, teknik TSS ini mampu menciptakan pertanian yang efektif sehingga menghemat biaya produksi dan meningkatkan produktivitas. "Jika menggunakan sistem konvensional, kebutuhan bibit mencapai 1,5 ton per hekatera (ha) senilai Rp 45 juta. Sedangkan TSS hanya memerlukan 5 kg benih dengan biaya Rp 10 juta per ha," ungkap Glenn Pardede.

Glenn memaparkan jika petani menerapkan teknik budidaya bawang merah dari biji, maka akan mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian umbi bibit. "Selama ini ketergantungan petani terhadap umbi bibit saja membuat pemerintah terpaksa harus mengimpor bibit bawang sedikitnya 1.500 ton pada tahun 2016,” tambah Glenn Pardede.



Sumber: BeritaSatu.com