Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Meningkatnya Pasokan

Harga Minyak Naik di Tengah Kekhawatiran Meningkatnya Pasokan
Ilustrasi minyak mentah (Foto: EPA FOTO)
/ WBP Sabtu, 16 November 2019 | 07:51 WIB

New York, Beritasatu.com - Minyak berjangka naik hampir dua persen pada akhir perdagangan Jumat atau Sabtu pagi WIB (16/11/2019), karena pernyataan pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) meningkatkan optimisme kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok. Namun kekhawatiran peningkatan pasokan minyak mentah membatasi harga.

Minyak mentah Brent pengiriman Januari naik US$ 1,02 atau 1,6 persen menjadi US$ 63,30 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Desember naik US$ 0,95 atau 1,7 persen menjadi US$ 57,72 per barel.

Kedua harga acuan tersebut membukukan kenaikan mingguan kedua berturut-turut. Brent naik 1,3 persen dan WTI naik 0,8 persen.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan dalam sebuah wawancara di Fox Business Network bahwa ada kemungkinan yang sangat tinggi AS akan mencapai kesepakatan akhir kesepakatan perdagangan fase satu dengan Tiongkok. "Kami sampai ke detail terakhir sekarang," kata Ross.

Perundingan dagang AS-Tiongkok dijadwalkan akan dilanjutkan dengan telepon pada Jumat waktu setempat.

Sementara laporan bulanan Badan Energi Internasional (IEA) membebani harga, setelah memperkirakan bahwa pertumbuhan pasokan non-OPEC akan melonjak menjadi 2,3 juta barel per hari (bph) tahun depan dibandingkan 1,8 juta bph pada 2019, mengutip produksi dari Amerika Serikat, Brazil , Norwegia dan Guyana.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan pertumbuhan produksi saingan AS akan melambat pada 2020, meskipun laporan kelompok itu mengatakan permintaan minyak OPEC diperkirakan akan turun.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengatakan permintaan minyak mentahnya mencapai 29,58 juta barel per hari tahun depan, atau 1,12 juta barel per hari lebih rendah dari 2019, menunjuk pada surplus 2020 sekitar 70.000 barel per hari.

OPEC dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC + yang telah memotong pasokan tahun ini untuk menopang harga, diperkirakan akan membahas kebijakan produksi mereka pada pertemuan 5-6 Desember di Wina. Kesepakatan produksi yang ada berakhir pada Maret.

Produksi AS terus meningkat. Produksi minyak mentah negara itu mencapai rekor 13 juta barel per hari bulan ini dan akan tumbuh lebih dari yang diperkirakan pada 2019 dan 2020, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan dalam perkiraan yang dikeluarkan pada Rabu (13/11/2019).

Namun, peningkatan produksi AS dan persaingan dari produksi di Brazil, Norwegia, dan Guyana tahun depan telah menekan laba bagi produsen-produsen serpih AS, yang merencanakan pembekuan pengeluaran lain pada 2020 dan perlambatan pertumbuhan produksi.



Sumber: Xinhua, Antara