RI Incar Investasi Manufaktur Rp 70,3 T dari Jepang dan Korsel

RI Incar Investasi Manufaktur Rp 70,3 T dari Jepang dan Korsel
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bersama jajarannya dan Wakil Duta Besar Indonesia untuk Jepang Tri Purnajaya melakukan pertemuan dengan pelaku industri Jepang di Tokyo, Senin (18/11/209). ( Foto: Ismewa )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 18 November 2019 | 17:46 WIB

Tokyo, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemperin) terus mendorong peningkatan investasi di sektor industri manufaktur, terutama yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0. Adapun dua negara yang dianggap potensial untuk ditarik modalnya ke Tanah Air, yakni Jepang dan Korea Selatan (Korsel) dengan perkiraan investasi US$ 5 miliar (Rp 70,3 triliun).

“Potensi investasi yang begitu besar dari Jepang dan Korsel harus dikawal, sehingga mereka nyaman dan ini harus dilakukan dengan cepat, karena kecepatan ini yang diinginkan Bapak Presiden Joko Widodo,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat melakukan kunjungan kerja di Tokyo, Jepang, Senin (18/11/2019).

Menperin dalam keterangan yang diterima redaksi menuturkan, peluang investasi yang dibidik dalam kunjungan kerjanya ke Jepang dan Korsel adalah industri otomotif, baja, dan kimia. Oleh karena itu, dalam lawatannya, Menperin diagendakan untuk melakukan one on one meeting dengan sejumlah jajaran direksi dari perusahaan-perusahaan ternama kedua negara tersebut. “Kunjungan ini khusus untuk bertemu dengan industri,” jelas Agus Gumiwang Kartasasmita.

Menurut Agus, pada kesempatan itu sekaligus untuk menjadi momen memperkenalkan diri sebagai Menteri Perindustrian yang baru, serta mendengar langsung aspirasi dari pelaku industri global, sehingga bisa menjadi salah satu masukan dalam merumuskan arah kebijakan pemintah guna mendorong pengembangan industri di Tanah Air.

Dalam lawatan ke Jepang dan Korsel, Kemperin juga terus mendorong investasi baru dari industri-industri kedua negara tersebut. “Kami coba bicara dengan beberapa prinsipal untuk melakukan pengembangan jenis produk baru. Kemudian misalnya di Korsel ada perusahaan besar, nomor tiga di Korsel, tapi belum punya kegiatan produksi di Indonesia. Ini yang akan kami dorong,” jelas Agus Gumiwang Kartasasmita.

Komitmen investasi yang dikawal dari lawatan ke Jepang dan Korea Selatan ini diperkirakan mencapai lebih dari US$ 5 miliar (Rp 70,3 triliun). Angka itu di antaranya berasal dari rencana investasi Lotte Chemical sebesar US$ 3,5 miliar untuk membangun pabrik baru petrokimia di Cilegon, Banten.

Selain itu sekitar US$ 200 juta dari Nippon Shokubai yang berniat membangun pabrik baru dan perluasan pabrik acrylic acid. “Untuk rencana investasi ini masih ada hal yang perlu diselesaikan. Kami optimistis dengan kunjungan ini, hal-hal yang masih menjadi isu bisa kita selesaikan,” jelas Menperin.

Nippon Shokubai telah menanamkan invetasinya di Tanah Air, di bawah bendera Nippon Shokubai Indonesia, dengan mengucurkan modal hingga US$ 120 juta pada Agustus 1996. Perusahaan ini berencana melakukan ekspansi kapasitas pabrik menjadi 240.000 metrik ton per tahun dari saat ini 140 ribu metrik ton per tahun.

“Nippon Shokubai ini kita harapkan dapat melakukan pengembangan produk turunan dari acrylic acid. Setelah 2021, ketika mereka commercial operation, kapasitasnya tentu akan bertambah,” kata Menperin.

Untuk industri baja, direncakan Menperin akan bertemu dengan Nippon Steel Corporation. Hal tersebut, sekaligus dalam upaya mencari solusi untuk peningkatan daya saing industri baja tanah air, sehingga tidak menjadi salah satu penyumbang deficit neraca perdagangan Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com