Lindungi Bakau, Berau Lansir Bandeng Tanpa Duri

Lindungi Bakau, Berau Lansir Bandeng Tanpa Duri
Ilustrasi budidaya ikan bandeng. ( Foto: Antara / Dedhez Anggara )
Fajar Widhiyanto / FW Kamis, 21 November 2019 | 21:12 WIB

Medio Agustus 2019 silam, Indonesia dalam pertemuan Sherpa High-Level Panel for A Sustainable Ocean Economy (HLP) ke-5 di Amsterdam, menyuarakan pentingnya hutan bakau (mangrove) sebagai salah satu ekosistem pesisir dalam upaya mitigasi dampak perubahan iklim.

Berdasarkan hasil penelitian, hutan mangrove dapat menyimpan emisi gas rumah kaca (GRK) lima kali lebih banyak dibandingkan dengan hutan daratan. Dan Indonesia dicatat sebagai salah satu negara dengan kawasan mangrove terbesar di dunia, yakni seluas 3,5 juta hektare. Sekitar 22% hutan mangrove Indonesia yang dilindungi di dalam kawasan konservasi diperkirakan menyimpan emisi GRK sebesar 0,82-1,09 giga ton per hektare.

Salah satu daerah yang memiliki kawasan hutan bakau di Indonesia adalah Kabupaten Berau. Sebagai salah satu wilayah pesisir yang memiliki hutan bakau Berau menjadi kabupaten dengan luas lahan mangrove tertinggi di Provinsi Kalimantan Timur. Demi melindungi kawasan hutan mangrove sekaligus menghidupkan perekonomian masyarakat setempat, pemerintah daerah  mengupayakan pengembangan usaha berbasis hasil laut bagi masyarakat setempat, tanpa harus merusak dan membuka kawasan hutan tersebut.

Dan langkah ini berhasil dilakukan di Kampung Tabalar Muara, Kabupaten Berau. Kawasan yang terletak dalam Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kepulauan Derawan dan perairan Sekitarnya (KKP3K KDPS), serta berada dalam bentang laut Sulu Sulawesi ini, termasuk dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang. Kawasan perairan ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan merupakan jalur migrasi biota laut penting dengan nilai ekonomis tinggi.

Kampung Tabalar Muara melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Mandiri Sejahtera, berhasil meluncurkan produk ikan bandeng tanpa duri, dalam rangkaian peringatan Hari Ikan Nasional ke-6 yang diselenggarakan di Kantor Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur kemarin (Rabu 20/11).

Pengembangan usaha bandeng tanpa duri merupakan kerja sama kemitraan antara Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), SIGAP Sejahtera, serta program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) di Kampung Tabalar Muara, Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Tenteram Rahayu menjelaskan, produk bandeng tanpa duri produksi dari Tabalar Muara juga menjadi bagian dari program Ikanku Fresh yang dikembangkan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Berau. Ikanku Fresh adalah singkatan dari Ikan Layak Konsumsi, Ekonomis, Sehat, Higienis. “Program ini menekankan pada pengolahan pascapanen yang menyediakan produk segar, ramah lingkungan, dan higenis bagi konsumen,” kata Tenteram dalam pernyataannya yang diterima redaksi, Kamis (21/11).

Sementara Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman mengatakan, adanya produk bandeng tanpa duri ini akan meningkatkan pendapatan keluarga petambak tanpa harus membuka tambak baru dari mangrove. “Menahan laju pembukaan lahan mangrove ini penting karena mangrove adalah sumber pakan alami bandeng sekaligus mendukung kesehatan ekosistem bentang laut Sulu Sulawesi,“ ujarnya.

Produk bandeng tanpa duri hasil olahan ibu-ibu dari Kampung Tabalar Muara merupakan pionir untuk jenis produk olahan berbahan baku ikan bandeng di Kabupaten Berau. Selama ini produk bandeng tanpa duri di Kabupaten Berau masih didominasi dari daerah lain.

Bupati Berau Muharram dalam pernyataannya menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Muharram juga menyatakan harapannya agar produk bandeng tanpa duri dari Kampung Tabalar Muara ini bisa menginspirasi kampung-kampung lain untuk menciptakan produk sesuai potensi kampung setempat untuk mendukung peningkatan perekonomian masyarakat.



Sumber: Majalah Investor