Hipmi Minta Pemerintah Tuntaskan Monopoli Maskapai

Hipmi Minta Pemerintah Tuntaskan Monopoli Maskapai
Ilustrasi pesawat komersil. ( Foto: BeritaSatu Photo/Danung Arifin )
Lona Olavia / WBP Senin, 9 Desember 2019 | 13:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi ) Mardani H Maming mendukung langkah tegas Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bersama dengan Dewan Komisaris Garuda Indonesia memberhentikan jajaran direksi yang terlibat dalam penyelundupan Harley Davidson dan sepeda Brompton.

“Hipmi mengapresiasi gerak cepat Menteri BUMN. Saya kira ini momentum yang tepat untuk membersihkan BUMN dari praktik-praktik tidak profesional dan membahayakan industri penerbangan nasional,” ujar Mardani H Maming di Jakarta, Senin (9/12/2019).

Namun Maming mengingatkan, agar ‘bersih-bersih’ di Garuda dilanjutkan dengan memperbaiki struktur pasar penerbangan nasional. Menurut Hipmi, perilaku direksi Garuda dalam mengelola korporasi berawal dari hilangnya iklim persaingan di industri penerbangan. “Akibatnya, direksi merasa di atas angin. Semua pesaing sudah tersingkirkan. Maka, muncul tabiat buruk. Ini sangat berbahaya,” tegas Mardani H Maming.

Dia berharap agar pemerintah membuka keran bagi pesaing Garuda. Dia mengatakan, saat ini maskapai nasional telah terkonsolidasi ke dalam dua grup besar yakni Lion Group, yang beranggotakan Lion Air, Batik Air, dan Wings Air. Sementara grup lainnya Garuda Group yakni Garuda, Citilink, dan Sriwijaya Air.

”Hanya dua grup ini yang menguasai (memonopoli) dan bagi-bagi pasar. Persaingan hilang. Dampaknya, pengelolaan manajemen korporasi semakin tidak hati-hati dan konsumen mengalami kenaikkan harga tiket yang luar biasa mahal,” imbuh Mardani H Maming.

Belajar dari kasus Pertamina, maskapai semestinya tak dibiarkan tanpa pesaing kuat. “Dulu Pertamina kinerjanya jelek. Setelah dibuka keran pasar, Total, Petronas, Shell masuk, malah dia (Pertamina) membenah diri dan layanan bagus,” ujar Maming.

Maming meminta agar pemerintah merelaksasi regulasi pasar di industri penerbangan nasional. Dia khawatir bila dua grup maskapai penerbangan itu terus menguasai pasar Indonesia, maka akan timbul persaingan bisnis tidak sehat yang ujung-ujungnya merugikan konsumen. “Tambah lagi pemain-pemain dengan merelaksasi regulasi kalau memungkinkan. Pemainnya, jangan itu-itu saja,” ucap Mardani H Maming.



Sumber: Suara Pembaruan